Teknologi

Langit Pontianak Menguning, BMKG Beberkan Penyebab dan Dampaknya

Bayangkan membuka jendela di pagi hari dan menemukan langit yang seharusnya biru cerah justru berubah menjadi kuning kecokelatan seperti senja yang tertahan di siang bolong. Inilah yang terjadi di Pon...

Langit Pontianak Menguning, BMKG Beberkan Penyebab dan Dampaknya

Bayangkan membuka jendela di pagi hari dan menemukan langit yang seharusnya biru cerah justru berubah menjadi kuning kecokelatan seperti senja yang tertahan di siang bolong. Inilah yang terjadi di Pontianak, Kalimantan Barat, dalam beberapa waktu terakhir. Fenomena ini bukan sekadar pemandangan unik, melainkan peringatan nyata bahwa kualitas udara di kota tersebut telah menurun drastis dan berpotensi mengancam kesehatan masyarakat.

Penyebab Langit Berubah Menjadi Kuning Kecokelatan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa fenomena langit kuning kecokelatan di Pontianak disebabkan oleh asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ketika kebakaran terjadi di area gambut yang luas, proses pembakaran tidak hanya menghasilkan api yang terlihat, tetapi juga melepaskan berbagai partikel halus dan gas ke atmosfer. Partikel-partikel inilah yang kemudian tersebar oleh angin dan mengubah warna langit menjadi tidak biasa.

Ibarat seperti ketika seseorang merokok di dalam ruangan tertutup, asap akan memenuhi setiap sudut dan mengubah warna udara menjadi keruh. Kondisi ini mirip dengan apa yang terjadi di atmosfer Pontianak, bedanya skala pembakaran jauh lebih besar dan sumbernya tersebar di berbagai titik lahan yang terbakar.

Dampak Langsung Terhadap Jarak Pandang

Salah satu dampak paling terasa dari fenomena ini adalah berkurangnya jarak pandang secara signifikan. BMKG mencatat bahwa konsentrasi partikulat tinggi di atmosfer menyebabkan partikel-partikel kecil tersebut menghalangi cahaya matahari untuk menembus permukaan bumi dengan optimal. Akibatnya, jarak pandang di beberapa titik di Pontianak dan sekitarnya menjadi sangat terbatas.

Partikulat yang dimaksud adalah partikel-partikel sangat kecil dengan diameter kurang dari 2,5 mikrometer atau sering disebut PM2.5. Untuk memberikan gambaran, diameter rambut manusia saja sekitar 70 mikrometer, sehingga partikel PM2.5 ini jauh lebih kecil dari itu dan dapat menembus ke bagian paling dalam paru-paru manusia.

Risiko Kesehatan yang Mengintai

Masyarakat Pontianak yang sehari-hari beraktivitas di luar ruangan perlu meningkatkan kewaspadaan. Konsentrasi partikulat tinggi dalam udara yang dihirup dalam waktu lama dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Mulai dari iritasi mata dan tenggorokan, gangguan pernapasan seperti batuk dan sesak napas, hingga risiko penyakit kronis pada paru-paru dan jantung bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.

BMKG juga mengingatkan bahwa kondisi ini berpotensi berlangsung selama musim kemarau jika titik-titik kebakaran tidak segera ditangani. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, membatasi aktivitas di luar gedung, dan memastikan ventilasi rumah dalam kondisi baik.

Upaya Penanganan dan Imbauan

Penanganan fenomena langit kuning kecokelatan ini memerlukan koordinasi antara berbagai pihak. Pemerintah daerah melalui dinas terkait perlu meningkatkan patroli dan penindakan terhadap pembukaan lahan dengan cara membakar. Sementara itu, masyarakat dapat berkontribusi dengan tidak melakukan pembakaran lahan meskipun dalam skala kecil, karena angin dapat membawa asap ke area yang lebih luas.

Bagi masyarakat yang ingin memantau kondisi udara secara real-time, BMKG menyediakan data kualitas udara melalui platform digitalnya. Informasi ini dapat membantu masyarakat dalam merencanakan aktivitas sehari-hari, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.

Secara keseluruhan, fenomena langit kuning kecokelatan di Pontianak menjadi pengingat bahwa kerusakan lingkungan memiliki dampak langsung terhadap kehidupan manusia. Kualitas udara yang buruk bukan hanya masalah estetika, melainkan isu kesehatan publik yang serius dan memerlukan penanganan menyeluruh dari semua pihak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User