KPI Dorong Lembaga Penyiaran Perluas Jangkauan Sensus Ekonomi 2026
Setiap kebijakan yang menyentuh kehidupan sehari-hari—mulai dari harga bahan pokok, program insentif bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga strategi pembukaan lapangan kerja—selalu b...
Setiap kebijakan yang menyentuh kehidupan sehari-hari—mulai dari harga bahan pokok, program insentif bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga strategi pembukaan lapangan kerja—selalu berpijak pada satu fondasi: data. Ibarat seperti pemeriksaan kesehatan menyeluruh, negara membutuhkan potret ekonomi yang akurat secara berkala agar kebijakan tidak salah sasaran. Di sinilah Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) memainkan peran krusial sebagai pendataan terbesar terhadap seluruh aktivitas ekonomi di Tanah Air.
Namun, ada satu persoalan mendasar yang mengemuka: sebagian masyarakat ternyata belum mengetahui keberadaan sensus ini. Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Tulus Santoso, menyoroti kesenjangan informasi tersebut dan menilai lembaga penyiaran perlu dilibatkan lebih jauh untuk memperluas jangkauan sosialisasi SE2026.
Mengenal Sensus Ekonomi 2026
Sensus Ekonomi merupakan pendataan lengkap terhadap seluruh pelaku dan aktivitas ekonomi di Indonesia, mulai dari pedagang kaki lima, warung kelontong, bengkel rumahan, hingga korporasi berskala besar. Berbeda dengan survei yang hanya mengambil sampel, sensus menjangkau keseluruhan populasi usaha. Penyelenggaraannya dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) setiap sepuluh tahun, tepatnya pada tahun berakhiran angka enam, sehingga edisi mendatang jatuh pada 2026.
Hasil pendataan ini menjadi rujukan penyusunan berbagai indikator makroekonomi, seperti Produk Domestik Bruto (PDB), peta struktur ekonomi daerah, hingga basis data bagi pengembangan platform layanan publik. Bagi dunia usaha, data sensus membantu pelaku bisnis membaca potensi pasar sebelum menanamkan investasi. Singkatnya, sensus ekonomi adalah peta raksasa yang menentukan arah pembangunan satu dekade ke depan.
Kesenjangan Informasi di Tengah Ekosistem Digital
Ironisnya, di era ketika arus informasi bergerak begitu cepat melalui media sosial, pesan penting negara justru kerap tenggelam oleh hiruk-pikuk konten hiburan. Algoritma platform digital cenderung menyajikan konten sesuai selera pengguna, sehingga informasi publik seperti sensus mudah terpinggirkan dari linimasa. Kondisi inilah yang menurut Tulus menjadi tantangan serius dalam implementasi SE2026.
Ketidaktahuan masyarakat bukan sekadar persoalan komunikasi. Jika pelaku usaha tidak memahami tujuan pendataan, mereka berpotensi enggan memberikan informasi yang jujur dan lengkap. Padahal, kualitas data sangat bergantung pada partisipasi aktif responden. Data yang timpang akan berujung pada kebijakan yang keliru—dan dampaknya kembali ke masyarakat, misalnya bantuan usaha yang salah alamat atau program pengembangan ekonomi daerah yang tidak tepat sasaran.
Peran Strategis Televisi dan Radio
Menurut Tulus, lembaga penyiaran memiliki keunggulan yang tidak dimiliki kanal digital: jangkauan luas sekaligus tingkat kepercayaan publik yang relatif tinggi. Televisi dan radio masih menjadi sumber informasi utama bagi masyarakat di berbagai daerah, termasuk wilayah yang penetrasi internetnya belum merata. Karena itu, KPI mendorong agar penyiaran tentang SE2026 diperluas, baik melalui iklan layanan masyarakat, pemberitaan, maupun segmen dialog interaktif.
Kolaborasi antara lembaga penyiaran dan BPS dinilai dapat memperkuat efisiensi sosialisasi. Ibarat seperti memasang pengeras suara di setiap penjuru kota, frekuensi penyiaran yang masif membuat pesan sensus menjangkau lapisan masyarakat yang selama ini sulit disentuh oleh kampanye digital semata. Pendekatan ini juga sejalan dengan fungsi lembaga penyiaran sebagai bagian dari ekosistem informasi publik yang sehat.
Transformasi Digital dalam Pendataan
Di sisi teknis, penyelenggaraan sensus modern kian lekat dengan inovasi teknologi. Petugas pendataan kini dibekali perangkat digital untuk mencatat jawaban responden secara langsung, menggantikan kuesioner kertas yang rawan kesalahan input. Metode ini memangkas waktu pengolahan data sekaligus meningkatkan akurasi. Pengembangan sistem berbasis teknologi informasi juga memungkinkan pemantauan progres pendataan secara real-time di berbagai daerah.
Meski demikian, secanggih apa pun teknologi yang digunakan, keberhasilan SE2026 pada akhirnya ditentukan oleh satu hal sederhana: kesadaran masyarakat. Tanpa pemahaman yang memadai, partisipasi akan sulit terwujud. Karena itu, upaya memperluas jangkauan informasi melalui lembaga penyiaran menjadi langkah strategis yang patut didukung semua pihak—agar sensus kali ini benar-benar memotret ekonomi Indonesia secara utuh.
Comments (0)