Teknologi

Ketika Israel Tak Sepenuhnya Ramah bagi Sesama Yahudi

Ketika kita membicarakan Israel, yang sering muncul di benak banyak orang adalah narasi tentang negara yang menjadi rumah bagi seluruh orang Yahudi di dunia. Ibarat seperti sebuah rumah besar yang pin...

Ketika Israel Tak Sepenuhnya Ramah bagi Sesama Yahudi

Ketika kita membicarakan Israel, yang sering muncul di benak banyak orang adalah narasi tentang negara yang menjadi rumah bagi seluruh orang Yahudi di dunia. Ibarat seperti sebuah rumah besar yang pintunya selalu terbuka lebar untuk siapa pun yang mengaku bagian dari keluarga besar itu. Namun, sejarah menunjukkan bahwa rumah besar tersebut ternyata tidak selalu hangat bagi penghuninya sendiri. Ada babak kelam ketika negara ini justru memperlakukan sebagian warganya dengan cara yang jauh dari kata ramah.

Mengapa ini penting? Karena memahami dinamika internal Israel membantu kita melihat bahwa identitas keagamaan atau kebangsaan yang tampak seragam dari luar, sebenarnya menyimpan lapisan perpecahan yang rumit. Bagi pembaca awam di Indonesia, kisah ini menjadi cermin bahwa solidaritas kelompok tidak otomatis menjamin keadilan di dalamnya.

Perpecahan yang Berakar pada Sejarah Awal

Sejak awal berdirinya pada 1948, Israel menghadapi dilema besar: bagaimana menampung orang Yahudi dari berbagai latar belakang—dari Eropa, Timur Tengah, Afrika Utara, hingga Asia. Secara teori, mereka semua adalah saudara. Kenyataannya, pemerintah dan institusi negara kerap menerapkan hierarki sosial yang tidak resmi. Orang Yahudi Eropa, yang dikenal sebagai Ashkenazi, cenderung mendominasi posisi politik dan ekonomi. Sementara itu, Yahudi Mizrahi (berasal dari negara Arab dan Muslim) serta Yahudi Ethiopia sering dipandang sebagai warga kelas dua.

Ketegangan ini bukan sekadar isu budaya. Pada 1950-an, misalnya, banyak imigran Yahudi dari negara Arab ditempatkan di kota-kota pinggiran yang kurang berkembang. Anak-anak mereka menghadapi diskriminasi di sekolah dan akses layanan publik. Bahkan, ada dugaan kuat bahwa pada dekade 1940-an hingga 1960-an, otoritas kesehatan Israel melakukan tindakan kontroversial terhadap bayi-bayi imigran Yahudi Mizrahi, yang hingga kini masih menjadi luka terbuka.

Kisah Yahudi Ethiopia: Pintu Terbuka, Perlakuan Tertutup

Contoh paling mencolok datang dari komunitas Yahudi Ethiopia, atau Beta Israel. Pada 1984 dan 1991, Israel menjalankan operasi rahasia untuk membawa mereka ke Israel—sebuah langkah yang secara simbolis menunjukkan komitmen sebagai rumah bagi semua Yahudi. Namun begitu tiba, kenyataan pahit menanti. Banyak dari mereka ditempatkan di daerah terpencil dengan fasilitas minim. Anak-anak mereka dimasukkan ke sekolah dengan kualitas rendah. Yang lebih memprihatinkan, sejumlah perempuan Ethiopia dilaporkan dipaksa menerima suntikan kontrasepsi tanpa pemahaman penuh, sebuah kebijakan yang kemudian menuai kecaman keras dari kelompok hak asasi manusia internasional.

Perlakuan ini menunjukkan sebuah paradoks: negara yang mengklaim sebagai pelindung Yahudi justru mengasingkan sebagian Yahudi karena warna kulit dan asal-usul mereka. Ibarat seperti sebuah keluarga yang mengundang saudara jauh untuk tinggal, tetapi menempatkan mereka di gudang dan melarang masuk ke ruang tamu.

Dampak pada Kohesi Sosial dan Politik

Perpecahan ini tidak hanya menyakitkan secara moral, tetapi juga berdampak pada stabilitas sosial Israel. Ketimpangan ekonomi antara kelompok Ashkenazi dan Mizrahi/Ethiopia masih terlihat hingga hari ini. Data dari Biro Pusat Statistik Israel menunjukkan bahwa pendapatan rata-rata rumah tangga Yahudi Ethiopia jauh di bawah rata-rata nasional. Angka kemiskinan di komunitas ini juga lebih tinggi dibandingkan kelompok Yahudi lainnya.

Di ranah politik, ketegangan ini melahirkan partai-partai yang mewakili kepentingan kelompok tertentu. Demonstrasi besar pernah terjadi, seperti pada 2019 dan 2020, ketika warga Yahudi Ethiopia turun ke jalan memprotes kematian seorang pemuda Ethiopia di tangan polisi. Insiden itu menjadi pemicu kemarahan yang sudah lama terpendam. Pemerintah pun berjanji memperbaiki keadaan, tetapi perubahan berjalan lambat.

Yang lebih rumit, perpecahan internal ini terjadi di tengah konflik eksternal yang tak kunjung usai. Israel harus menghadapi tekanan dari luar sekaligus mengelola keretakan di dalam. Ibarat sebuah kapal yang bocor, awak di dalam malah bertengkar soal siapa yang berhak memegang kemudi.

Pelajaran bagi Dunia yang Beragam

Kisah Israel ini memberikan pelajaran penting bagi negara mana pun yang memiliki masyarakat majemuk. Identitas bersama—entah berdasarkan agama, suku, atau bangsa—tidak otomatis menghapus prasangka dan ketidakadilan. Yang dibutuhkan adalah kebijakan inklusif, penegakan hukum yang setara, dan kesediaan untuk mengakui sejarah kelam. Tanpa itu, sebuah negara bisa terjebak dalam lingkaran perpecahan yang menggerogoti fondasinya sendiri.

Bagi Indonesia, yang juga memiliki keberagaman luar biasa, refleksi ini relevan. Kita tidak perlu jauh-jauh mencari contoh. Prinsipnya sederhana: rumah yang besar hanya akan kokoh jika setiap penghuninya merasa dihargai, bukan hanya diterima sebagai pelengkap. Sejarah Israel adalah cermin—bukan untuk menghakimi, tetapi untuk belajar bahwa keadilan sejati tidak pernah bisa ditawar oleh alasan apa pun, termasuk oleh ikatan darah atau keyakinan yang sama.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User