Banjir yang merendam sejumlah kawasan di Padang, Sumatra Barat, kembali membuka pertanyaan besar tentang seberapa siap kota pesisir menghadapi cuaca ekstrem. Bagi warga yang harus mengungsi atau kehilangan harta benda, peristiwa ini bukan sekadar bencana musiman. Ini adalah alarm bahwa infrastruktur pengendali banjir yang seharusnya melindungi mereka mungkin tidak lagi bekerja pada kapasitas penuh. Mengapa ini penting? Karena kegagalan satu kanal, tanggul, atau pompa dapat berlipat ganda menjadi kerugian ekonomi dan korban jiwa.
Daryono, pakar dari Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), menyoroti bahwa ketahanan infrastruktur menjadi kunci. Menurutnya, kerusakan pada bangunan pengendali banjir bukan hanya memperlambat upaya penanganan, tetapi justru memperparah dampak yang dirasakan masyarakat. Ibarat payung yang bocor di tengah hujan deras, infrastruktur yang rusak memberi rasa aman semu, lalu gagal tepat saat dibutuhkan.
Anatomi Masalah: Dari Drainase Hingga Pompa
Padang memiliki karakter geografis yang menantang. Kota ini berhadapan langsung dengan Samudra Hindia, dilintasi sejumlah sungai, dan dikelilingi perbukitan. Dalam bahasa teknis, ada kombinasi antara banjir kiriman (luapan sungai) dan banjir genangan akibat drainase yang tidak mampu menampung debit air. Sistem pengendaliannya mencakup kanal, kolam retensi, tanggul, hingga stasiun pompa.
Sederhananya, kolam retensi adalah "ember penampung" raksasa yang menahan air sementara sebelum dilepas perlahan. Pompa berfungsi seperti "jantung" yang memompa air keluar dari kawasan padat. Jika salah satu komponen rusak, beban berpindah ke komponen lain, dan rantai kegagalan pun dimulai.
Data historis menunjukkan pola yang berulang. Setiap kali hujan dengan intensitas tinggi mengguyur dalam durasi panjang, titik-titik genangan yang sama muncul kembali. Ini mengindikasikan masalah bukan semata curah hujan, melainkan kapasitas dan pemeliharaan infrastruktur. Algoritma prediksi cuaca modern bisa memberi peringatan dini, tetapi tanpa saluran yang berfungsi, peringatan itu hanya menghasilkan evakuasi, bukan pencegahan.
Pemeliharaan: Variabel yang Sering Terlupakan
Dalam pengembangan infrastruktur, ada anggaran pembangunan dan ada anggaran perawatan. Yang kedua sering menjadi anak tiri. Padahal, sedimen, sampah, dan kerusakan struktural akibat abrasi air secara bertahap menurunkan kinerja sistem. Ibarat mesin mobil yang tidak pernah diservis, ia tetap menyala, tetapi tenaganya berkurang setiap bulan.
Penelitian di berbagai kota menunjukkan bahwa pembersihan sedimen secara rutin dapat meningkatkan kapasitas drainase hingga puluhan persen. Ini adalah intervensi berbiaya rendah dengan dampak besar. Masalahnya, pekerjaan ini tidak terlihat dan jarang menjadi prioritas politik karena tidak menghasilkan seremoni peresmian.
“Kerusakan infrastruktur pengendali banjir akan memperburuk dampak yang ditimbulkan. Karena itu, ketahanan dan pemeliharaan harus menjadi perhatian utama, bukan hanya pembangunan fisik semata,” ujar Daryono dari IABI.
Pernyataan ini menegaskan bahwa pendekatan bencana tidak bisa parsial. Diperlukan ekosistem kebijakan yang mencakup perencanaan tata ruang, anggaran perawatan berkelanjutan, dan partisipasi warga. Teknologi pemantauan berbasis sensor, misalnya, dapat menjadi solusi efisien. Sensor tinggi muka air yang terhubung ke platform digital bisa mengirim data real-time, sehingga operator mengetahui titik kritis sebelum air meluap.
Menuju Ketahanan yang Terukur
Ketahanan bukanlah konsep abstrak. Ia bisa diukur melalui indikator seperti waktu pemulihan pascabanjir, persentase infrastruktur berfungsi, dan jumlah titik genangan berulang. Pemerintah daerah dapat menetapkan target yang jelas, misalnya menurunkan luas genangan pada periode tertentu.
Investasi pada deep tech seperti pemodelan hidrologi dan machine learning untuk prediksi genangan juga semakin terjangkau. Namun, teknologi hanyalah alat. Tanpa komitmen perawatan dan koordinasi antarinstansi, hasilnya tidak akan optimal. Disrupsi iklim menuntut kita berhenti menganggap banjir sebagai takdir, dan mulai memperlakukannya sebagai persoalan rekayasa yang bisa dikelola.
Pada akhirnya, keselamatan warga Padang bergantung pada seberapa serius negara merawat apa yang telah dibangun. Infrastruktur yang terawat adalah bentuk perlindungan paling nyata bagi masyarakat, jauh sebelum hujan berikutnya datang.
Comments (0)