Setiap kemarau tiba, warga di Kalimantan dan Sumatra kembali dihantui langit kelam dan udara yang menusuk tenggorokan. Kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar bencana musiman yang lewat begitu saja: asapnya mengganggu kesehatan jutaan orang, menutup bandara, meliburkan sekolah, hingga merugikan negara triliunan rupiah. Pertanyaannya, siapa dalang di balik api itu? Temuan penelitian selama bertahun-tahun menunjukkan jawabannya justru lebih dekat dari perkiraan banyak orang — bukan sekadar fenomena alam, melainkan ulah tangan manusia yang dipercepat oleh kondisi cuaca ekstrem.
Bukan Semata Cuaca: Tangan Manusia di Balik Titik Api
Ibarat sebuah kompor yang sudah lama dipanaskan, El Nino hanya menyediakan wajan yang kering dan siap terbakar. Yang menyalakan apinya tetap manusia. Data dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan lembaga pemantau satelit menunjukkan mayoritas titik panas (hotspot) di Kalimantan dan Sumatra muncul di kawasan konsesi perkebunan kelapa sawit, areal pengusahaan hutan tanaman industri, serta lahan garapan masyarakat. Pemicunya hampir seragam: pembukaan lahan dengan cara membakar, praktik yang dianggap paling murah dan cepat dibandingkan membabat lahan secara mekanis.
Modusnya berulang setiap tahun. Petani kecil membakar sisa tanaman untuk menyuburkan tanah, sementara sebagian perusahaan diduga membakar lahan gambut yang sudah dikeringkan untuk mempercepat siklus tanam. Masalahnya, api di lahan gambut tidak pernah benar-benar padam. Ia merambat di bawah permukaan seperti bara tersembunyi, bertahan berbulan-bulan, lalu meledak menjadi kebakaran besar begitu musim kemarau memuncak. Inilah alasan mengapa kebakaran selalu kembali, meski setiap tahun ada peringatan dini.
El Nino: Katalis yang Memperparah Kondisi
El Nino adalah fenomena pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang mengubah pola sirkulasi udara global. Dampaknya bagi Indonesia adalah musim kemarau yang lebih panjang dan kering dari normal, terutama di wilayah selatan khatulistiwa. Saat fenomena ini terjadi, curah hujan turun drastis, permukaan air tanah menyusut, dan lahan gambut yang biasanya basah menjadi rapuh seperti kayu kering. Kondisi inilah yang membuat api kecil dari aktivitas manusia dengan mudah berubah menjadi bencana besar.
Sejarah membuktikan kombinasi mematikan ini. Pada El Nino kuat tahun 2015, kebakaran menghanguskan lebih dari 2,6 juta hektare lahan di Indonesia dan menghasilkan emisi karbon yang oleh peneliti global disetarakan dengan emisi tahunan beberapa negara industri besar. Peristiwa serupa terulang pada 2019 ketika titik panas melonjak drastis di Kalimantan Barat dan Sumatra Selatan, memicu kabut asap yang sampai menembus negara tetangga. Para ahli iklim memperingatkan bahwa dengan pemanasan global, frekuensi El Nino yang ekstrem berpotensi meningkat, sehingga risiko kebakaran ke depan justru semakin tinggi.
Teknologi dan Inovasi untuk Menjinakkan Api
Kabar baiknya, perang melawan kebakaran kini mengandalkan inovasi teknologi yang semakin canggih. Pemantauan titik panas dilakukan secara real-time melalui citra satelit, seperti instrumen MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) dari NASA yang datanya dapat diakses publik melalui platform FIRMS (Fire Information for Resource Management System). Dengan teknologi ini, petugas dapat mengetahui lokasi api dalam hitungan jam setelah muncul, jauh lebih cepat dibandingkan patroli darat konvensional.
Bahkan, penelitian dan pengembangan (R&D) mulai memanfaatkan machine learning — cabang kecerdasan buatan (AI/Artificial Intelligence) yang memungkinkan komputer belajar dari data — untuk memprediksi daerah rawan kebakaran sebelum api menyala. Algoritma ini menganalisis pola cuaca, kelembaban gambut, dan riwayat titik panas untuk menyusun peta risiko harian, sehingga upaya pencegahan bisa lebih efisien dan tepat sasaran. Di sisi lain, implementasi pembasahan lahan gambut melalui pembangunan sekat kanal terus digencarkan untuk mengembalikan fungsi lahan basah yang selama ini dikeringkan.
Ekosistem Pencegahan: Kunci Jangka Panjang
Teknologi saja tidak cukup tanpa ekosistem penegakan hukum yang kuat. Pemerintah telah menerapkan moratorium pembukaan lahan gambut, kebijakan larangan membakar (zero burning), serta pengawasan ketat terhadap konsesi perusahaan. Masyarakat juga dilibatkan melalui program desa peduli api dan pelatihan pertanian tanpa bakar, yang menawarkan alternatif pengolahan lahan yang lebih aman. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan tren luas kebakaran menurun pada tahun-tahun tanpa El Nino kuat, membuktikan bahwa kombinasi pengawasan, teknologi, dan kesadaran masyarakat mampu menekan angka kejadian.
Namun para peneliti mengingatkan bahwa pekerjaan belum selesai. Selama membuka lahan dengan api masih dianggap praktik termurah, selama itu pula ancaman kebakaran akan terus mengintai. Inovasi pendanaan, seperti insentif ekonomi bagi petani yang beralih ke metode ramah lingkungan, dan pengembangan teknologi deteksi dini yang lebih presisi menjadi pekerjaan rumah bersama. Pada akhirnya, api bukan hanya masalah cuaca — ia adalah cermin bagaimana kita mengelola sumber daya, dan teknologi hanyalah alat bantu untuk menyalakan kesadaran yang lebih besar.
Comments (0)