Ancaman erupsi gunung berapi di wilayah Indonesia tidak hanya berdampak buruk pada kesehatan saluran pernapasan, tetapi juga menyimpan risiko serius bagi organ penglihatan. Debu vulkanik yang terlempar ke atmosfer saat terjadi letusan mengandung silika kristalin, batuan halus, dan senyawa asam yang bersifat sangat abrasif. Ketika material tajam berukuran mikroskopis ini mengenai permukaan mata, bahaya iritasi hingga luka permanen pada jaringan kornea dapat terjadi dalam kurun waktu yang singkat.
Sayangnya, masih banyak warga masyarakat yang secara refleks mengucek mata saat kemasukan abu vulkanik. Langkah refleks tersebut justru merupakan kesalahan fatal yang dapat memperparah kerusakan mata. Gesekan langsung antara jari tangan dan debu vulkanik akan membuat partikel silika yang tajam menggores lapisan luar mata secara mendalam.
Pertolongan Pertama: Bilas Air Clean Mengalir dan Cegah Gesekan
Dokter spesialis mata dari Universitas Indonesia (UI), dr. Sesaria Rizky Kumalasari, Sp.M, menjelaskan bahwa prosedur keselamatan paling mendasar yang harus segera dilakukan ketika mata terpapar abu vulkanik adalah membilasnya dengan menggunakan air bersih yang mengalir. Penanganan darurat yang tepat dapat meminimalkan trauma mekanis pada organ penglihatan.
"Langkah awal yang paling aman dan harus segera dilakukan adalah membilas mata menggunakan air bersih mengalir atau cairan salin steril. Sangat dilarang keras mengucek mata karena partikel abu vulkanik memiliki tekstur yang sangat tajam layaknya pecahan kaca mikro,"
Ia menekankan bahwa menggosok organ mata yang terkontaminasi abu dapat menyebabkan abrasi kornea, yaitu hilangnya sebagian jaringan epitel pada permukaan kornea. Apabila luka terbuka akibat goresan ini terinfeksi oleh mikroorganisme atau mikroba pembawa penyakit, hal tersebut berisiko memicu ulkus kornea yang berujung pada kebutaan permanen.
| Kategori | Tindakan Disarankan (Do's) | Tindakan Berbahaya (Don'ts) |
|---|---|---|
| Pertolongan Pertama | Bilas mata dengan air bersih mengalir atau cairan salin steril. | Mengucek atau menggosok kelopak mata dengan tangan. |
| Alat Pelindung | Gunakan kacamata pelindung tertutup (goggles). | Menggunakan kacamata gaya biasa yang berongga. |
| Penggunaan Lensa | Gunakan kacamata korektif biasa jika dibutuhkan. | Memakai lensa kontak (contact lens) saat bencana. |
Langkah Preventive dan Tanda Darurat Medis
Selain tindakan pertolongan pertama, masyarakat di kawasan rawan bencana erupsi diimbau untuk mengenakan kacamata pelindung tertutup rapat (goggles) apabila harus terpaksa beraktivitas di luar ruangan. Kacamata biasa sering kali masih memiliki celah yang memungkinkan angin membawa debu masuk ke celah kelopak mata.
Bagi para pengguna lensa kontak, dr. Sesaria juga menyarankan untuk segera melepaskan alat bantu visual tersebut selama periode bahaya abu vulkanik berlangsung. Partikel halus abu vulkanik dapat terperangkap di bawah permukaan lensa kontak, mengunci kotoran, dan mempercepat reaksi peradangan hebat pada kornea.
Masyarakat disarankan segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan terdekat dalam waktu kurang dari 24 jam apabila menemukan tanda-tanda bahaya. Beberapa gejala yang memerlukan penanganan medis lanjutan meliputi rasa ganjal yang tidak kunjung hilang setelah dibilas, mata memerah ekstrem, timbulnya rasa nyeri yang hebat, timbulnya sensitivitas berlebih terhadap cahaya (fotofobia), hingga penurunan ketajaman penglihatan secara mendadak.
Comments (0)