Setiap musim kemarau, Indonesia kembali diingatkan pada satu masalah yang tak pernah benar-benar selesai: kebakaran hutan dan lahan, atau yang akrab disebut karhutla. Asapnya tidak hanya menutup langit, tetapi juga memaksa sekolah diliburkan, penerbangan dialihkan, dan jutaan orang menghirup udara yang jauh dari kata sehat. Di tengah persoalan sebesar itu, muncul harapan dari arah yang tak terduga: singkong, tanaman yang selama ini lebih dikenal sebagai bahan makanan rakyat.
Randall Hartolaksono, ilmuwan asal Surabaya, mengembangkan bahan pemadam api berbasis singkong. Inovasi ini menarik perhatian karena menawarkan alternatif yang lebih murah, lebih ramah lingkungan, dan bisa diproduksi dari sumber daya lokal yang melimpah. Jika nantinya berhasil dikembangkan secara komersial, temuan ini berpotensi mengubah cara Indonesia memadamkan kebakaran lahan gambut yang selama ini sangat sulit ditangani dengan teknologi konvensional. Pengembangan semacam ini juga menjadi contoh bahwa riset dalam negeri mampu menjawab persoalan nasional, bukan sekadar mengikuti tren penelitian dari luar negeri.
Singkong, dari Dapur Menuju Lokasi Kebakaran
Singkong adalah salah satu komoditas pertanian terbesar di Indonesia. Tanaman ini tumbuh hampir di semua daerah, dari lahan kering di Nusa Tenggara hingga kebun-kebun kecil di Jawa. Namun Randall melihat singkong dari sudut pandang yang berbeda: bukan sebagai sumber karbohidrat, melainkan sebagai bahan baku senyawa pemadam api. Ketersediaannya yang melimpah dan harganya yang murah menjadi alasan utama mengapa komoditas ini dipilih sebagai bahan dasar.
Konsep dasarnya sederhana. Singkong mengandung pati dalam jumlah tinggi, dan pati inilah yang diolah menjadi bahan aktif dalam cairan pemadam. Dibandingkan bahan kimia impor yang biasa dipakai dalam busa pemadam kebakaran, pati singkong menawarkan keunggulan berupa bahan baku yang tidak pernah langka serta biaya produksi yang jauh lebih terjangkau. Ini adalah langkah menuju kemandirian teknologi, di mana Indonesia tidak lagi bergantung penuh pada impor untuk alat dan material penanggulangan bencana.
Bagaimana Pati Singkong Memadamkan Api?
Ibarat selimut basah yang dilemparkan ke atas bara, bahan pemadam bekerja dengan cara memisahkan api dari oksigen sekaligus menurunkan suhu di sekitarnya. Pada kebakaran gambut, masalah terbesar justru api yang merambat di bawah permukaan tanah dan sulit terlihat dari atas. Bahan berbasis pati memiliki viskositas atau tingkat kekentalan tertentu sehingga diharapkan mampu meresap lebih baik ke dalam lapisan tanah dan menjangkau titik api yang tersembunyi.
Keunggulan lain yang tak kalah penting adalah aspek lingkungan. Berbeda dengan sebagian busa pemadam kimia yang meninggalkan residu sulit terurai, bahan dari singkong bersifat biodegradable, atau mudah diurai oleh alam. Artinya, setelah digunakan, bahan ini tidak meninggalkan polusi jangka panjang di tanah maupun sumber air. Sifat tersebut sangat relevan untuk ekosistem gambut yang dikenal rapuh, di mana campur tangan bahan kimia keras justru bisa memperburuk kerusakan lingkungan yang sudah ada.
Harapan Baru bagi Ekosistem Gambut
Kebakaran lahan gambut adalah kasus paling rumit dalam penanggulangan karhutla di Indonesia. Gambut yang kering bisa terbakar hingga kedalaman beberapa meter, dan api di dalamnya bisa bertahan berminggu-minggu meski permukaannya sudah terlihat padam. Teknologi pemadam berbasis singkong diharapkan menjadi senjata tambahan, bukan hanya untuk memadamkan api, tetapi juga untuk mencegah meluasnya kebakaran di awal musim kemarau.
Penggunaan bahan baku lokal juga membawa dampak ekonomi yang tidak kecil. Jika teknologi ini diproduksi massal, petani singkong bisa menikmati pasar baru yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan, sementara biaya operasional pemadaman kebakaran berpotensi turun drastis dibandingkan penggunaan bahan kimia impor. Dengan kata lain, inovasi ini menghubungkan dua kepentingan sekaligus: perlindungan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan petani.
Tantangan Menuju Implementasi
Meski menjanjikan, perjalanan dari laboratorium menuju lapangan tidak singkat. Bahan pemadam harus melewati serangkaian uji standar, mulai dari efektivitas memadamkan api kelas tertentu hingga keamanan bagi manusia dan lingkungan. Skala produksi juga menjadi pekerjaan rumah tersendiri: memproduksi dalam jumlah kecil di laboratorium jauh lebih mudah dibandingkan memasok ribuan liter bahan pemadam untuk satu musim kebakaran.
Kendati demikian, arah pengembangan ini sejalan dengan tren global yang semakin mendorong penggunaan material ramah lingkungan di berbagai sektor industri. Temuan Randall adalah pengingat bahwa inovasi tidak selalu datang dari laboratorium raksasa dengan peralatan mahal. Kadang, jawaban untuk masalah sebesar karhutla justru tumbuh di kebun-kebun kecil di pelosok negeri, menunggu untuk digali, diolah, dan dimanfaatkan demi kepentingan bersama.
Comments (0)