IKEA Tutup Dua Toko di AS, Fokus Strategi Keberlanjutan
New York, Terdepan.id — Raksasa furnitur global asal Swedia, IKEA, mengumumkan akan menutup dua unit bisnisnya yang beroperasi dengan format “Plan an
New York, Terdepan.id — Raksasa furnitur global asal Swedia, IKEA, mengumumkan akan menutup dua unit bisnisnya yang beroperasi dengan format “Plan and order point with Pick-up” di Amerika Serikat pada 30 Agustus 2026. Langkah ini menjadi sinyal perubahan signifikan dalam strategi ekspansi perusahaan yang selama bertahun-tahun dikenal dengan toko raksasa bergaya big-box-nya.
Kedua lokasi yang terdampak merupakan bagian dari jaringan titik layanan perencanaan dan pengambilan barang yang dirancang untuk menjangkau konsumen di luar jangkauan toko utama. Penutupan ini, menurut pernyataan resmi perusahaan, bukanlah bentuk kemunduran, melainkan bagian dari transformasi menyeluruh untuk meningkatkan aksesibilitas dan keberlanjutan bisnis jangka panjang.
Kronologi dan Latar Belakang Penutupan
Informasi yang dihimpun Terdepan.id dari laporan internal IKEA menyebutkan bahwa keputusan ini telah melalui evaluasi bisnis selama beberapa bulan terakhir. Perusahaan melakukan kajian mendalam terhadap performa dan efektivitas setiap titik layanan dalam portofolionya.
- Awal 2026: IKEA memulai audit internal terhadap seluruh format tokonya di Amerika Utara, termasuk titik Plan and order point.
- April 2026: Data awal menunjukkan bahwa beberapa lokasi berformat kecil tidak mencapai target kunjungan dan konversi penjualan yang diharapkan.
- Juni 2026: Manajemen pusat IKEA di Delft, Belanda, menyetujui rekomendasi untuk merampingkan portofolio titik layanan di AS.
- Juli 2026: Pengumuman resmi disampaikan kepada karyawan dan mitra bisnis di dua lokasi terdampak.
- 30 Agustus 2026: Kedua titik layanan akan resmi berhenti beroperasi.
Apa Itu Format “Plan and Order Point with Pick-up”?
Format ini merupakan inovasi IKEA yang diperkenalkan secara bertahap sejak 2020. Berbeda dari toko konvensional IKEA yang luasnya bisa mencapai puluhan ribu meter persegi, Plan and order point adalah gerai berukuran lebih kecil—biasanya berlokasi di pusat perbelanjaan atau area perkotaan padat—yang fokus pada layanan konsultasi desain dan pemesanan furnitur.
Konsumen dapat berkonsultasi langsung dengan perencana interior IKEA untuk mendesain dapur, lemari pakaian, atau ruang tamu sesuai kebutuhan, lalu melakukan pemesanan. Barang yang telah dipesan kemudian dapat diambil di titik pick-up yang sama atau dikirim langsung ke rumah. Namun, format ini tidak menyediakan pengalaman berbelanja langsung seperti toko utama—tidak ada area pamer yang luas, tidak ada restoran, dan tidak ada gudang swalayan.
Alasan di Balik Keputusan IKEA
Dalam keterangannya, juru bicara IKEA AS menyebut bahwa penutupan ini merupakan bagian dari strategi berkelanjutan untuk menghadirkan aksesibilitas yang lebih baik bagi pelanggan. Secara spesifik, perusahaan menyoroti tiga faktor utama yang memengaruhi keputusan ini:
- Pergeseran perilaku konsumen: Pandemi telah mengubah cara orang berbelanja furnitur secara permanen. Data internal IKEA menunjukkan bahwa lebih dari 60% pelanggan kini memulai perjalanan belanja mereka secara daring sebelum mengunjungi toko fisik.
- Optimalisasi portofolio aset: IKEA terus mengevaluasi kinerja setiap lokasi. Dua titik yang ditutup dinilai kurang menguntungkan secara operasional dibandingkan investasi yang dikeluarkan.
- Fokus pada omnichannel: Perusahaan ingin mengkonsolidasikan sumber daya untuk memperkuat platform e-commerce dan titik distribusi yang lebih besar serta lebih strategis.
“Kami secara rutin mengevaluasi portofolio toko kami untuk memastikan bahwa kami berinvestasi di lokasi dan format yang paling relevan bagi pelanggan. Penutupan ini adalah bagian dari evolusi alami strategi omnichannel kami,” ujar perwakilan IKEA AS dalam pernyataan tertulis kepada Terdepan.id.
Bukan Pertama Kalinya IKEA Merestrukturisasi
Langkah penutupan ini bukanlah yang pertama bagi IKEA dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024, perusahaan sempat menutup sejumlah toko format kecil di Eropa dan Asia, termasuk lokasi di Shanghai, Tiongkok, yang saat itu menuai perhatian luas. Manajemen IKEA saat itu menjelaskan bahwa ekspansi yang terlalu agresif dalam format toko kecil perlu dikalibrasi ulang.
Di sisi lain, IKEA justru agresif membuka toko berukuran penuh di lokasi-lokasi strategis baru. Pada 2025, perusahaan membuka toko utama pertamanya di Kolombia dan memperluas kehadiran di India dengan tiga gerai baru. Pola ini menegaskan bahwa IKEA tidak mundur dari ritel fisik, melainkan sedang menyempurnakan peta kehadirannya.
Dampak bagi Konsumen dan Karyawan
Bagi konsumen yang selama ini mengandalkan dua titik layanan tersebut, IKEA memastikan bahwa layanan perencanaan dan pemesanan akan tetap tersedia melalui kanal daring dan toko utama terdekat. Perusahaan menyebut bahwa investasi baru akan diarahkan pada pengembangan aplikasi seluler dan platform desain virtual yang memungkinkan konsumen merancang interior rumah secara digital dari mana saja.
Terkait nasib karyawan, IKEA menyatakan akan berupaya menawarkan program relokasi dan pelatihan ulang bagi staf terdampak. “Karyawan adalah aset terpenting kami. Kami akan bekerja sama dengan setiap individu untuk menemukan peluang terbaik di dalam ekosistem IKEA,” tambah juru bicara perusahaan.
Analisis: Apa Makna Strategis Penutupan Ini?
Pengamat industri ritel menilai bahwa langkah IKEA mencerminkan tren yang lebih luas di sektor ritel global. Format toko kecil yang sempat menjadi tren pasca-pandemi kini mulai dipertanyakan efektivitasnya, terutama ketika biaya sewa properti komersial di lokasi premium terus meningkat sementara margin dari format tersebut cenderung tipis.
“IKEA sedang memainkan permainan jangka panjang,” ujar seorang analis ritel independen yang enggan disebutkan namanya. “Mereka tidak meninggalkan model hybrid antara online dan offline, tetapi mereka sedang menyaring mana format yang benar-benar memberikan nilai tambah dan mana yang sekadar menjadi beban operasional.”
Langkah ini juga dipandang sebagai bentuk komitmen IKEA terhadap prinsip keberlanjutan. Dengan mengurangi jejak fisik yang tidak efisien, perusahaan dapat memangkas konsumsi energi dan emisi karbon dari operasi propertinya—sejalan dengan target IKEA untuk menjadi perusahaan yang sepenuhnya sirkular pada tahun 2030.
Ke depan, para analis memperkirakan IKEA akan terus merampingkan jaringan tokonya secara selektif sambil memperkuat investasi pada teknologi, logistik last-mile, dan pusat distribusi regional. Transformasi ini menandai babak baru bagi perusahaan yang telah berusia lebih dari delapan dekade tersebut, membuktikan bahwa bahkan raksasa furnitur paling ikonik di dunia pun harus terus beradaptasi untuk tetap relevan.
[SOCIAL_TWEET]: IKEA resmi tutup dua lokasi Plan and order point di AS per 30 Agustus 2026. Bukan kemunduran, tapi bagian dari transformasi strategi omnichannel dan keberlanjutan. Raksasa furnitur ini makin selektif pilih format toko yang efisien. #IKEA #BisnisRitel #FurniturGlobal[SOCIAL_TG]: 🛋️ IKEA tutup dua titik layanan di AS! Per 30 Agustus 2026, dua lokasi Plan and order point resmi berhenti operasi. Simak apa alasan dan dampaknya 👇
Comments (0)