Teknologi

FCC Siap Lelang Spektrum 25 MHz untuk Internet Satelit ke Ponsel

Bayangkan sedang berada di tengah hutan, di atas kapal, atau di daerah terpencil tanpa menara seluler (BTS/Base Transceiver Station), tetapi ponsel biasa Anda tetap bisa mengirim pesan dan mengakses i...

FCC Siap Lelang Spektrum 25 MHz untuk Internet Satelit ke Ponsel

Bayangkan sedang berada di tengah hutan, di atas kapal, atau di daerah terpencil tanpa menara seluler (BTS/Base Transceiver Station), tetapi ponsel biasa Anda tetap bisa mengirim pesan dan mengakses internet. Skenario yang dulu terdengar seperti fiksi ilmiah ini semakin nyata. Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat (FCC/Federal Communications Commission) dijadwalkan menggelar pemungutan suara pada 29 Oktober 2026 untuk melelang 25 MHz spektrum frekuensi yang akan menjadi tulang punggung layanan konektivitas langsung dari satelit ke perangkat genggam atau dikenal sebagai Direct-to-Device (D2D). Langkah ini menjadi penanda penting bahwa era internet satelit yang menyambung langsung ke ponsel semakin dekat ke implementasi komersial.

Mengapa ini penting bagi kehidupan sehari-hari? Selama ini, layanan internet satelit seperti Starlink membutuhkan terminal penerima khusus berbentuk piringan yang harganya cukup mahal. Dengan adanya spektrum baru ini, operator satelit dapat berkomunikasi langsung dengan ponsel pintar konvensional tanpa perangkat tambahan. Artinya, sekitar 2,6 miliar orang di dunia yang menurut data International Telecommunication Union (ITU) masih belum memiliki akses internet—sebagian besar karena tinggal di area tanpa infrastruktur seluler—berpotensi mendapatkan koneksi yang setara dengan pengguna di kota besar. Ibarat seperti jalan tol yang sebelumnya hanya boleh dilewati truk besar, kini dibuka satu jalur khusus untuk sepeda motor, sehingga semua orang bisa melintas.

Apa Itu Spektrum 25 MHz dan Mengapa Dilelang?

Spektrum frekuensi adalah sumber daya alam terbatas yang penggunaannya diatur negara. Dalam konteks ini, 25 MHz (Megahertz) adalah lebar pita frekuensi yang akan dialokasikan khusus untuk komunikasi satelit-ke-ponsel. Sebagai perbandingan, operator seluler biasanya memiliki ratusan MHz untuk melayani jutaan pelanggan di satu wilayah. Namun, untuk layanan D2D, 25 MHz sudah cukup untuk menyediakan pesan teks, panggilan suara, dan data kecepatan rendah hingga menengah—cukup untuk aplikasi perpesanan, peta offline, atau panggilan darurat.

Menurut dokumen resmi FCC, lelang ini akan menggunakan mekanisme competitive bidding atau penawaran kompetitif, di mana perusahaan seperti SpaceX (Starlink), AST SpaceMobile, dan Amazon (Project Kuiper) diperkirakan akan ikut serta. Pemenang lelang nantinya wajib memenuhi syarat cakupan, termasuk melayani area pedesaan dan wilayah yang rawan bencana. Spektrum ini berada di pita frekuensi rendah hingga menengah, yang memiliki karakteristik propagasi (penyebaran sinyal) lebih baik dalam menembus bangunan dan dedaunan, sehingga cocok untuk koneksi langsung ke ponsel.

Bagaimana Teknologi Direct-to-Device Bekerja?

Secara teknis, teknologi D2D menggunakan satelit di orbit rendah Bumi (LEO/Low Earth Orbit) yang dilengkapi antena berukuran besar dan algoritma pemrosesan sinyal canggih. Ketika ponsel mengirim sinyal, satelit menangkap sinyal lemah tersebut—yang biasanya hanya sekuat sepersekian watt—lalu memperkuat dan mengirimkannya kembali ke stasiun bumi (gateway) untuk diteruskan ke jaringan internet. Proses ini melibatkan machine learning (pembelajaran mesin) untuk mengelola interferensi, handover antar satelit, dan alokasi sumber daya secara real-time.

Blockquote dari seorang pakar telekomunikasi dari Universitas Indonesia, Dr. Ir. Budi Santoso, M.Sc., menyatakan: “Tantangan terbesar D2D bukan pada satelitnya, melainkan pada kemampuan ponsel standar memancarkan sinyal ke jarak 500 kilometer. Ini seperti berbisik dari Jakarta ke Surabaya, dan satelit harus bisa mendengar bisikan itu di tengah kebisingan.” Oleh karena itu, alokasi spektrum yang tepat dan lelang yang transparan menjadi krusial agar ekosistem ini tidak hanya dikuasai satu pemain.

Dampak bagi Indonesia dan Negara Berkembang

Bagi Indonesia, negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, teknologi ini berpotensi mendisrupsi cara operator telekomunikasi membangun infrastruktur. Saat ini, pembangunan BTS di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) membutuhkan biaya besar dan waktu lama. Dengan D2D, pemerintah dapat menjangkau nelayan di laut lepas, petani di pedalaman Kalimantan, atau pulau-pulau kecil tanpa harus menunggu pembangunan menara.

Namun, ada catatan penting. Lelang FCC hanya berlaku untuk wilayah yurisdiksi Amerika Serikat. Negara lain, termasuk Indonesia, perlu segera menyiapkan regulasi spektrum serupa agar tidak tertinggal. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) diharapkan mulai mengkaji alokasi frekuensi untuk D2D, termasuk potensi kerja sama internasional. Tanpa kesiapan regulasi, layanan ini bisa saja hanya menjadi kenangan bagi negara maju, sementara negara berkembang tetap bergantung pada infrastruktur darat yang mahal.

Dengan jadwal pemungutan suara 29 Oktober 2026, kita berada di ambang babak baru konektivitas global. Efisiensi dan inovasi yang ditawarkan bukan sekadar peningkatan kecepatan, melainkan jaminan bahwa tidak ada lagi titik buta sinyal di Bumi. Seperti listrik yang dulu hanya ada di kota, internet satelit langsung ke ponsel bisa menjadi hak dasar baru bagi semua orang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS fahmi-reza

Reporter MotoGP/Formula 1. Meliput balapan motor dan mobil internasional.

Comments (0)

User