Equity Crowdfunding Melonjak 45 Persen, Jadi Solusi Pendanaan UMKM
Jakarta, Terdepan.id — Pendanaan melalui equity crowdfunding di Indonesia mencatat pertumbuhan signifikan sepanjang 2025, dengan total nilai transaksi mencapai Rp2,7 triliun atau meningkat 45 persen d
Jakarta, Terdepan.id — Pendanaan melalui equity crowdfunding di Indonesia mencatat pertumbuhan signifikan sepanjang 2025, dengan total nilai transaksi mencapai Rp2,7 triliun atau meningkat 45 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Fenomena ini memperkuat posisi platform crowdfunding sebagai alternatif pendanaan utama bagi pelaku usaha yang kesulitan mengakses jalur pembiayaan konvensional.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan jumlah penerbit di platform securities crowdfund38 persen tumbuh 38 persen menjadi 187 entitas. Mayoritas berasal dari sektor makanan dan minuman, teknologi, hingga manufaktur skala kecil dan menengah.
Alasan Pelaku Usaha Beralih ke Crowdfunding
Beberapa faktor mendorong pergeseran ini. Proses persetujuan pinjaman bank konvensional rata-rata membutuhkan 14-21 hari kerja, sementara crowdfunding dapat mencairkan dana dalam tempo lima hari kerja. Persyaratan agunan yang fleksibel menjadi daya tarik tersendiri bagi bisnis baru tanpa aset tetap.
Aditya Putra, Direktur Eksekutif Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama (AFPI), menjelaskan bahwa penetrasi layanan perbankan tradisional masih menyisakan gap besar untuk 23 persenKM. "Kami mencatat hanya 23 persen UMKM yang memiliki akses ke kredit bank. Crowdfunding mengisi celah itu dengan pendekatan berbasis teknologi," ujarnya dalam keterangan resmi bulan lalu.
Potensi Pasar yang Belum Tergarap
Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) memperkirakan kebutuhan pembiayaan1.200 triliun1.200 triliun triliuni Rp1.200 triliun per tahun. Dari angka tersebut, baru sekitar 8 persen yang terlayani oleh seluruh skema pendanaan alternatif, termasuk equity crowdfunding, peer-to-peer lending, dan modal ventura.
Pemerintah melalui regulasi OJK Nomor 18 Tahun 2024 telah menaikkan batas nomiRp10 miliartan scrowdfunding dari Rp10 miliar menjadi Rp50 miliar per entitas. Kebijakan ini diyakini membuka akses lebih luas bagi perusahaan rintisan yang membutuhkan modal ekspansi.
Pakar keuangan dari Institut Pertanian Bogor, Dr. Rini Wulandari, menilai pertumbuhan ini bersifat struktural, bukan tren sesaat. "Ekosistemnya sudah mati. Investor ritel semakin percaya, regulasi semakin jelas, dan penggunaan dana lebih transparan," katanya kepada media.
Tantangan dan Proyeksi ke Depan
Meski demikian, tingkat kegagalan usaha penerbit SCF masih berada di kisaran 12 persen. Angka ini mengharuskan calon investor melakukan due diligence lebih ketat sebelum menyalurkan dana.
Proyeksi 2026 menunjukkan total nilai transaksi equity crowdfunding Indonesia berpotensi menembus Rp4 triliun, didorong oleh masuknya segmen UMKM di luar Jawa yang mulai mengadopsi platform digital pendanaan. Pertumbuhan ini menegaskan bahwa crowdsourcing modal bukan lagi sekadar alternatif, melainkan pilar penting dalam arsitektur pembiayaan domestik.
Berdasarkan data dan analisis terkini, tren crowdfunding sebagai alternatif pendanaan bisnis menunjukkan dinamika yang signifikan di pasar Indonesia. Para pelaku industri dan pemangku kepentingan terus mencermati perkembangan ini untuk mengambil langkah strategis yang tepat.
Comments (0)