Drone Israel Kembali Hantam Gaza, Korban Jiwa Berjatuhan
Pada Minggu malam, sebuah serangan drone militer Israel menghantam kawasan permukiman padat di Jalur Gaza bagian utara, mengakibatkan sedikitnya tujuh warga sipil meninggal dunia dan belasan lainnya l...
Pada Minggu malam, sebuah serangan drone militer Israel menghantam kawasan permukiman padat di Jalur Gaza bagian utara, mengakibatkan sedikitnya tujuh warga sipil meninggal dunia dan belasan lainnya luka-luka. Insiden terbaru ini mempertegas siklus kekerasan yang tak kunjung reda di wilayah pendudukan Palestina, memicu kembali kecaman internasional atas tingginya angka korban di kalangan penduduk yang tidak terlibat dalam konflik bersenjata.
Detik-Detik Serangan
Menurut keterangan saksi dan petugas pertahanan sipil setempat, drone tempur tak berawak yang diidentifikasi sebagai tipe Heron TP – kendaraan udara nirawak canggih buatan Israel yang mampu membawa muatan rudal presisi – meluncurkan dua proyektil ke sebuah bangunan bertingkat di lingkungan al-Tuffah, timur Kota Gaza, sekitar pukul 22.45 waktu setempat. Gedung itu diketahui dihuni oleh tiga keluarga besar yang tengah beristirahat setelah jam malam berkepanjangan akibat pemadaman listrik total yang melanda daerah tersebut.
Ledakan dahsyat meruntuhkan separuh struktur bangunan, menyulitkan proses evakuasi yang dilakukan oleh warga sekitar menggunakan peralatan seadanya. Tim penyelamat baru bisa menjangkau lokasi satu jam kemudian karena terhambat kerusakan jalan dan kekhawatiran adanya serangan susulan. Lima jenazah berhasil diangkat dari reruntuhan pada Senin dini hari, sementara dua korban lainnya dinyatakan meninggal di Rumah Sakit al-Shifa akibat luka bakar parah dan trauma tumpul.
Profil Korban dan Identitas Kemanusiaan
Kementerian Kesehatan Gaza merilis data bahwa di antara korban tewas terdapat seorang anak perempuan berusia sembilan tahun dan seorang lansia perempuan berumur 72 tahun. Dua belas orang lainnya mengalami luka-luka, dengan tiga di antaranya dalam kondisi kritis akibat pendarahan dalam dan patah tulang multipel. Identitas seluruh korban masih dalam proses verifikasi DNA karena sebagian jasad sulit dikenali secara visual.
Juru bicara badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) di Gaza menyatakan keprihatinan mendalam, menyoroti bahwa serangan terjadi di zona yang telah ditetapkan sebagai kawasan perlindungan berdasarkan hukum humaniter internasional. “Setiap kali rudal jatuh di tengah permukiman sipil, dunia seharusnya tidak lagi bertanya ‘apakah ini terjadi?’, melainkan ‘sampai kapan ini akan terus berulang?’,” demikian pernyataan yang disampaikan melalui saluran komunikasi terbatas.
Konflik Multidimensi di Tepi Barat
Bersamaan dengan eskalasi di Gaza, operasi militer Israel di Tepi Barat juga kian intensif. Pada hari yang sama, pasukan darat Israel menyerbu kamp pengungsi Jenin dengan dukungan buldoser lapis baja, meratakan sejumlah rumah yang diklaim sebagai tempat persembunyian kelompok bersenjata. Bentrokan dengan pemuda setempat menewaskan dua warga Palestina dan melukai lebih dari 30 orang, termasuk seorang jurnalis lepas yang terkena peluru tajam di bagian bahu.
Serangan drone dan operasi darat ini merupakan bagian dari kebijakan keamanan yang oleh militer Israel disebut sebagai “operasi pembasmian teror,” namun oleh organisasi hak asasi manusia dikategorikan sebagai bentuk hukuman kolektif yang melanggar Konvensi Jenewa. Data dari OCHA (Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB) per kuartal pertama 2025 menunjukkan bahwa lebih dari 400 warga Palestina tewas akibat kekerasan terkait konflik di kedua wilayah tersebut, dengan 40% di antaranya adalah anak-anak dan perempuan.
Respons dan Kecaman Internasional
Uni Eropa melalui pernyataan resmi mengecam serangan yang “tidak proporsional” dan mendesak investigasi independen. Liga Arab menggelar sidang darurat di Kairo untuk membahas mekanisme pertanggungjawaban hukum, meskipun keputusan konkret masih terganjal perbedaan sikap negara anggota. Sementara itu, aktivis solidaritas global merencanakan aksi demonstrasi di berbagai ibu kota untuk menekan embargo senjata terhadap Israel.
Di tengah tekanan diplomatik, Israel tetap bersikeras bahwa seluruh operasi militernya mematuhi protokol keterlibatan yang ketat dan menyalahkan Hamas sebagai pihak yang menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia. Namun, laporan dari organisasi seperti Amnesty International dan Human Rights Watch berulang kali mendokumentasikan pola serangan yang mengabaikan prinsip pembedaan antara kombatan dan penduduk non-kombatan.
Sementara itu, penderitaan warga Palestina terus bertambah dalam sunyi. Rumah sakit di Gaza beroperasi jauh melampaui kapasitas, dengan stok obat-obatan esensial menipis dan generator listrik hanya mampu berfungsi beberapa jam sehari. Pasokan air bersih pun semakin langka, memicu ancaman wabah penyakit menular di kamp-kamp pengungsian darurat. Setiap serangan baru merenggut lebih dari sekadar nyawa; ia juga mengikis harapan bahwa solusi damai masih mungkin diraih di tanah yang telah berdarah selama puluhan tahun ini.
Baca juga:
Comments (0)