Digantikan Kecerdasan Buatan, Aktor Drama China Banting Setir ke Pasar Tradisional

Teknologi kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence) kini bukan hanya menjadi alat bantu di balik layar produksi hiburan, melainkan telah menjadi “aktor” pengganti yang diam-diam menggeru...

Jul 12, 2026 - 12:18
0 0
Digantikan Kecerdasan Buatan, Aktor Drama China Banting Setir ke Pasar Tradisional

Teknologi kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence) kini bukan hanya menjadi alat bantu di balik layar produksi hiburan, melainkan telah menjadi “aktor” pengganti yang diam-diam menggerus peran manusia. Fenomena ini mencuat setelah sejumlah pekerja seni di Tiongkok mulai kehilangan mata pencaharian karena produksi drama lebih memilih avatar digital ketimbang manusia sungguhan. Salah satu kisah paling menyentak datang dari Xu Peng, aktor drama kolosal yang terpaksa menanggalkan mimpi di depan kamera dan kembali ke kampung halaman untuk memulai hidup baru sebagai pedagang sayur.

Transformasi ini menandai babak baru disrupsi digital di industri kreatif. Jika dulu otomatisasi hanya mengancam buruh pabrik, sekarang giliran para pemain figuran, pemeran pengganti, hingga aktor pendukung yang tergusur oleh algoritma. Xu hanyalah satu dari ribuan pekerja seni yang terjebak dalam badai efisiensi industri drama Tiongkok yang kian bergantung pada machine learning dan grafik generatif.

Dari Set Lokasi ke Lapak Sayur: Perjalanan Pahit Xu Peng

Setelah lebih dari satu dekade menghidupi diri lewat peran-peran kecil di drama televisi, Xu Peng harus menghadapi kenyataan pahit ketika panggilan telepon untuk casting mendadak berhenti. Proyek-proyek baru yang muncul lebih memilih memanfaatkan teknologi deepfake untuk mereproduksi wajah bintang besar ke tubuh aktor pengganti, atau bahkan menciptakan kerumunan virtual sepenuhnya dengan AI generatif. Akibatnya, aktor seperti Xu tidak lagi dibutuhkan.

“Dahulu saya bisa mendapat lima sampai enam proyek dalam setahun. Sekarang, dalam enam bulan terakhir, tidak ada satu pun tawaran yang masuk,” tutur Xu dengan nada pasrah saat ditemui di kios kecilnya di pinggiran kota. Tanpa penghasilan tetap dan tabungan yang menipis, pria berusia 34 tahun itu memutuskan pulang ke kampung halaman dan membuka lapak sayur di pasar tradisional. Gerobak kayu sederhana kini menjadi panggung barunya, jauh dari gemerlap lampu sorot dan kamera.

Keputusan Xu bukanlah aksi spontan, melainkan akumulasi tekanan ekonomi selama dua tahun terakhir. Ia menyaksikan sendiri bagaimana produser mulai bereksperimen dengan perangkat lunak seperti metahuman yang bisa menciptakan karakter realistis tanpa harus membayar aktor harian. “Biaya produksi bisa ditekan hingga 60 persen, jadi siapa yang mau pakai manusia?” keluhnya.

Bagaimana AI Merevolusi Produksi Drama

Untuk memahami gelombang disrupsi ini, penting melihat bagaimana teknologi bekerja. AI generatif, termasuk model difusi dan GAN (Generative Adversarial Network), memungkinkan rumah produksi menciptakan adegan massal ribuan orang hanya dengan beberapa klik. Bahkan, wajah aktor utama bisa disematkan ke pemeran pengganti lewat teknik AI face swap, sehingga aktor pendukung atau figuran kehilangan fungsinya. Tak hanya itu, suara pun dapat disintesis dengan emosi yang nyaris sempurna, memotong kebutuhan pengisi suara latar.

Di Tiongkok, sejumlah studio besar telah menginvestasikan dana besar untuk mengembangkan platform produksi berbasis AI. Platform seperti DeepDreamStudio dan FaceMagic menawarkan layanan membuat kerumunan digital hanya dengan mengunggah beberapa gambar referensi. Hasilnya, satu adegan perang besar yang sebelumnya memerlukan 500 aktor figuran kini bisa dihasilkan hanya oleh lima orang tenaga teknis dan satu server GPU berdaya tinggi.

Efisiensi ini memang menggiurkan secara bisnis, namun membawa dampak sosial yang tak terhindarkan. Serikat pekerja seni peran di Beijing mencatat, sejak awal 2025, lebih dari 12.000 aktor lepas kehilangan pekerjaan akibat produksi yang beralih ke solusi digital. Angka ini melonjak dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. “Ini adalah peringatan keras bahwa kita belum siap menghadapi lonjakan teknologi,” ujar Dr. Li Wei, pengamat industri kreatif dari Universitas Tsinghua, dalam sebuah webinar baru-baru ini.

Kebijakan yang Tertinggal di Belakang Inovasi

Pemerintah Tiongkok sejatinya telah mengeluarkan pedoman etika pemanfaatan AI di sektor hiburan pada akhir 2025. Regulasi itu mewajibkan produser mencantumkan bila suatu adegan menggunakan karakter virtual, serta memberikan kompensasi kepada aktor yang wajahnya digunakan dalam deepfake. Namun, aturan ini hanya melindungi bintang terkenal, bukan figuran seperti Xu Peng. “Kami seperti remah-remah yang tidak terlihat,” ucap Xu getir.

Beberapa perusahaan rintisan mencoba menawarkan solusi dengan menciptakan platform pelatihan digital bagi pekerja seni yang terdampak. Mereka diajari keterampilan mengoperasikan perangkat lunak AI untuk produksi konten, berharap bisa terserap sebagai operator atau desainer virtual. Sayangnya, jumlah peminat program ini masih minim karena rendahnya literasi digital di kalangan aktor tradisional. Tambahan, stigma bahwa “seni harus manusiawi” membuat banyak yang enggan beradaptasi, hingga akhirnya benar-benar tersingkir seperti Xu.

Nostalgia atau Keniscayaan? Mencari Jalan Tengah

Di balik cerita pilu Xu Peng, muncul pertanyaan besar: apakah kehadiran AI harus selalu menjadi ancaman? Beberapa pihak berpendapat bahwa teknologi ini justru bisa menjadi alat kolaborasi, bukan pengganti total. Misalnya, aktor kecil bisa dilibatkan sebagai pelatih emosi untuk karakter digital, atau sebagai konsultan gerak tubuh agar avatar lebih natural. Namun, untuk menuju ke sana dibutuhkan pelatihan ulang skala besar yang belum tersedia secara merata.

Sementara itu, Xu Peng memilih berdamai dengan realitas. Setiap pagi ia bangun pukul tiga dini hari untuk berbelanja sayur di pasar induk, lalu menjajakan dagangannya hingga sore. Penghasilannya tidak sebesar saat jadi aktor, tetapi cukup untuk menghidupi istri dan anaknya. “Setidaknya, sayur ini tidak bisa digantikan AI,” candanya sambil tertawa kecil, mencoba menyembunyikan luka yang masih menganga.

Kisah Xu menjadi potret getir dari revolusi industri 4.0 di ranah hiburan. Di saat penonton disuguhi tontonan yang kian canggih secara visual, para pekerja di baliknya justru semakin terpinggirkan. Tanpa intervensi kebijakan yang melindungi tenaga kerja kreatif, bukan tidak mungkin pasar-pasar tradisional akan semakin ramai oleh mantan bintang layar kaca yang terpaksa banting setir.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User