Teknologi

CEO Kreta Digital: AI Kunci Agar Usaha Tetap Relevan

Mengapa ini penting: persaingan usaha saat ini tidak lagi ditentukan oleh siapa yang bermodal besar, melainkan siapa yang paling cepat membaca perubahan. Konsumen Indonesia kini memesan barang lewat a...

CEO Kreta Digital: AI Kunci Agar Usaha Tetap Relevan

Mengapa ini penting: persaingan usaha saat ini tidak lagi ditentukan oleh siapa yang bermodal besar, melainkan siapa yang paling cepat membaca perubahan. Konsumen Indonesia kini memesan barang lewat aplikasi, membandingkan harga secara daring, dan menuntut pelayanan yang serba cepat. Pelaku usaha yang menolak berubah berisiko ditinggalkan pasar dalam hitungan tahun, bukan dekade. Topik inilah yang menjadi sorotan dalam forum Sumatera Witel Catch Up-Riau Edition, sebuah ajang diskusi yang mempertemukan pelaku usaha, akademisi, dan praktisi teknologi di wilayah Riau untuk membedah arah digitalisasi dan inovasi di daerah.

Di antara deretan pembicara, nama Aldo Pasha Permana, CEO Kreta Digital, menjadi salah satu yang paling dinanti. Dalam kesempatan tersebut, ia memaparkan pandangannya tentang bagaimana kecerdasan buatan bisa menjadi penopang utama bagi keberlangsungan bisnis, terutama bagi usaha kecil dan menengah yang selama ini beroperasi dengan cara konvensional.

Ibarat seperti kompas di tengah laut yang luas, teknologi AI membantu pelaku usaha menentukan arah tanpa harus menebak-nebak. Alih-alih mengandalkan intuisi semata, keputusan bisnis kini bisa didasarkan pada data dan pola yang diolah mesin. Inilah inti dari transformasi yang sedang digaungkan: bukan mengganti manusia, melainkan memperkuat kemampuan manusia dengan perangkat cerdas.

AI Bukan Tren Sesaat, Melainkan Kebutuhan Operasional

AI (Artificial Intelligence/kecerdasan buatan) sering disalahpahami sebagai teknologi masa depan yang rumit dan mahal. Padahal, dalam pengertian paling sederhana, AI adalah sistem yang mampu belajar dari data dan melakukan tugas layaknya manusia, mulai dari mengenali pola pembelian hingga menjawab pertanyaan pelanggan secara otomatis. Di baliknya bekerja machine learning, cabang AI yang membuat sistem semakin pintar seiring bertambahnya data yang diproses.

Bagi pelaku usaha, dampaknya terasa langsung. Layanan pelanggan yang dulu membutuhkan banyak tenaga kini bisa ditangani asisten virtual yang aktif 24 jam. Analisis penjualan yang dulu memakan waktu berhari-hari bisa diselesaikan dalam hitungan menit. Efisiensi seperti inilah yang menekan biaya operasional, sementara kualitas layanan justru meningkat.

Data dari laporan e-Conomy SEA menunjukkan nilai ekonomi digital Indonesia terus melonjak dan diproyeksikan menembus angka USD 109 miliar pada 2025. Namun pertumbuhan itu tidak akan merata jika adopsi teknologi hanya dinikmati kota-kota besar. Justru di sinilah peran forum seperti Riau Edition menjadi penting: menyebarkan pemahaman bahwa AI bisa diimplementasikan oleh siapa saja, dari skala usaha apa pun.

Langkah Awal: Dari Digitalisasi Data Hingga Algoritma

Pertanyaan paling umum dari pelaku usaha adalah: dari mana harus memulai? Menurut narasi yang berkembang di forum, langkah pertama bukan langsung membeli sistem mahal, melainkan merapikan fondasi data. Transaksi, stok barang, daftar pelanggan, dan riwayat pembelian yang selama ini tercatat manual sebaiknya mulai dipindahkan ke platform digital.

Setelah data tertata, barulah pengembangan algoritma sederhana bisa dilakukan, misalnya untuk memprediksi produk yang paling laris di musim tertentu atau menentukan harga yang kompetitif. Semua itu adalah bentuk implementasi AI yang tidak harus dimulai dari hal yang rumit. Kuncinya adalah konsistensi: sedikit demi sedikit, data yang terkumpul menjadi aset paling berharga bagi bisnis.

Kreta Digital sendiri dikenal sebagai salah satu pemain di ekosistem teknologi yang fokus mendampingi pelaku usaha dalam proses transformasi ini. Pendekatan semacam ini penting karena banyak pelaku usaha kecil ragu menghadapi istilah teknis seperti deep tech, padahal kebutuhan mereka sebenarnya sederhana: cara yang lebih efisien untuk menjual dan melayani.

Hambatan di Lapangan: Infrastruktur dan Talenta

Kendati peluangnya besar, jalan menuju digitalisasi di daerah tidak mulus. Konektivitas internet yang belum merata masih menjadi keluhan klasik, terutama di kawasan di luar pusat kota. Tanpa jaringan yang stabil, platform digital hanya akan menjadi pajangan yang tidak berfungsi. Selain itu, keterbatasan talenta digital membuat banyak perusahaan kesulitan merekrut tenaga yang paham pengelolaan data dan sistem.

Untuk mengatasi hal ini, forum menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, dan sektor swasta. Pelatihan singkat, program magang, serta pendampingan teknis dinilai jauh lebih efektif daripada sekadar seminar motivasi. Ekosistem yang sehat adalah ekosistem yang saling mengisi: kampus mencetak talenta, pemerintah menyediakan infrastruktur, dan perusahaan teknologi menghadirkan solusi yang terjangkau.

Menuju Ekosistem Digital yang Inklusif

Pada akhirnya, pesan yang ingin disampaikan cukup sederhana namun tegas: relevansi bukan hak istimewa, melainkan hasil dari keputusan untuk terus belajar. Teknologi terus bergerak, dan pelaku usaha yang mau beradaptasi akan selalu menemukan celah untuk bertumbuh. Adapun yang berhenti di titik nyaman, sejarah menunjukkan mereka akan tersapu oleh arus disrupsi.

Dengan adanya forum seperti Sumatera Witel Catch Up-Riau Edition, harapan akan pemerataan digitalisasi semakin nyata. Riau dan daerah lain di Sumatera menyimpan potensi ekonomi yang besar; yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk melangkah ke era baru, tempat manusia dan kecerdasan buatan bekerja berdampingan demi efisiensi dan pertumbuhan yang lebih adil.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lidia-susanto

Reporter Olahraga Wanita. Fokus pada atlet perempuan dan kesetaraan gender dalam olahraga.

Comments (0)

User