Bukan Cuma Starlink, Indonesia Kini Bangun Jaringan Satelit LEO Sendiri

Ketimpangan akses internet masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia. Ribuan desa di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) belum tersentuh jaringan serat optik, dan pembangunan menar...

Jul 12, 2026 - 12:40
0 0
Bukan Cuma Starlink, Indonesia Kini Bangun Jaringan Satelit LEO Sendiri

Ketimpangan akses internet masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia. Ribuan desa di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) belum tersentuh jaringan serat optik, dan pembangunan menara BTS konvensional kerap terkendala medan serta biaya tinggi. Kehadiran Starlink dengan konstelasi satelit LEO (Low Earth Orbit/orbit rendah) sempat menjadi angin segar, tetapi harga langganan yang menyentuh Rp750.000 per bulan membuat layanan ini belum terjangkau bagi sebagian besar masyarakat pedesaan dan pelaku UMKM. Di sinilah urgensi muncul: Indonesia butuh jalur konektivitas alternatif yang bisa dikendalikan sendiri—baik dari sisi harga, kapasitas, maupun kedaulatan data. Kabar terbaru menunjukkan bahwa operator satelit nasional mulai merintis jawaban atas kebutuhan itu. PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) dan PT Telkom Satelit Indonesia (Telkomsat) dikabarkan telah memasukkan pengajuan resmi ke International Telecommunication Union (ITU) untuk mengoperasikan satelit LEO mereka sendiri. Ibarat memutuskan membangun jalan tol sendiri di luar angkasa, langkah ini menandai babak baru kemandirian infrastruktur digital Indonesia.

Mengapa Orbit Rendah Begitu Penting?

Untuk memahami signifikansi langkah ini, kita perlu menengok perbedaan mendasar antara satelit GEO (Geostationary Earth Orbit) dan LEO. Satelit GEO—seperti Satria-1 milik PSN atau Merah Putih milik Telkomsat—berada di ketinggian sekitar 36.000 kilometer di atas ekuator. Jarak sejauh itu menghasilkan latensi tinggi, bisa mencapai 600 milidetik, dan membutuhkan daya pancar besar. Sebaliknya, satelit LEO mengorbit di ketinggian antara 500 hingga 2.000 kilometer, sehingga waktu tempuh sinyal ke bumi dan kembali (round-trip) bisa ditekan di bawah 50 milidetik. Latensi rendah ini krusial untuk aplikasi real-time seperti panggilan video berkualitas, game daring, operasi drone, hingga telemedicine. Selain itu, arsitektur LEO memungkinkan kapasitas agregat yang jauh lebih besar karena dibangun dalam bentuk konstelasi—ratusan hingga ribuan satelit kecil yang saling terhubung membentuk jaring di angkasa. Inilah yang membuat Starlink mampu menawarkan kecepatan unduh 100–200 Mbps bahkan di tengah gurun. Kini, operator Indonesia ingin mereplikasi pendekatan serupa dengan konstelasi yang lebih disesuaikan dengan karakteristik geografis dan kebutuhan domestik.

Langkah Awal Menuju Konstelasi Nasional

Pengajuan ke ITU merupakan tahap fondasi dalam merintis jaringan satelit LEO. ITU, badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengelola spektrum frekuensi dan slot orbit global, mengharuskan setiap operator mengajukan permohonan penggunaan spektrum serta posisi orbit agar tidak saling menginterferensi. PSN dan Telkomsat, dua nama besar di industri satelit Indonesia, kini berada di jalur tersebut. PSN, perusahaan swasta nasional yang sukses mengelola Satria-1 berkapasitas 150 Gbps—satelit GEO dengan muatan High Throughput Satellite (HTS)—dan Telkomsat, anak usaha Telkom yang mengoperasikan beberapa satelit GEO, sama-sama memperlihatkan sinyal serius melebarkan sayap ke orbit rendah. Meski detail jumlah satelit dan kapasitas total yang diajukan belum diungkap, langkah ini menegaskan bahwa ekosistem satelit nasional tidak ingin sekadar menjadi pasar bagi operator asing. Dengan karakteristik negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17.000 pulau, pendekatan LEO dianggap lebih presisi untuk menghadirkan konektivitas di titik-titik yang selama ini luput dari jangkauan kabel bawah laut maupun microwave.

Jalan Panjang Tujuh Tahun Menuju Peluncuran

Membangun konstelasi LEO bukan perkara cepat. Menurut standar yang berlaku, proses dari pengajuan awal ke ITU hingga satelit benar-benar mengorbit bisa memakan waktu hingga tujuh tahun. Tahap pertama adalah koordinasi internasional untuk memperoleh hak prioritas spektrum dan slot orbit yang bebas interferensi—proses yang bisa memakan waktu 2–3 tahun, tergantung tingkat kepadatan pengajuan dari negara lain. Setelah itu, operator harus merampungkan desain teknis satelit, menentukan pabrikan, dan menjalani rangkaian uji ketat mulai dari lingkungan termal-vakum hingga ketahanan radiasi. Pembangunan konstelasi dalam jumlah besar juga memerlukan strategi peluncuran yang matang: menggunakan roket andalan seperti Falcon 9, Ariane 6, atau bahkan potensi roket kecil dari penyedia Asia, serta menyiapkan stasiun bumi (gateway) yang tersebar di beberapa lokasi strategis. Biaya total untuk satu konstelasi sederhana dengan puluhan satelit bisa menembus ratusan juta dolar AS. Sebagai perbandingan, Starlink menghabiskan miliaran dolar untuk membangun armada ribuan satelitnya. Karena itu, wajar jika operator lokal mulai menjajaki kemitraan strategis, baik dari sisi pendanaan maupun transfer teknologi, guna mengakselerasi realisasi proyek.

Tantangan dan Harapan Konektivitas Merata

Jalan menuju konstelasi LEO nasional tidak bebas dari tantangan berat. Salah satunya adalah persaingan langsung dengan pemain global yang sudah lebih dulu mapan, seperti Starlink yang telah memiliki lebih dari 5.000 satelit aktif dan layanan yang tersedia di puluhan negara, termasuk Indonesia. Untuk bisa bersaing, operator lokal perlu menawarkan nilai lebih dari sekadar bandwidth, misalnya integrasi dengan jaringan terestrial Telkomsel, model bisnis yang menyasar segmen pemerintahan dan B2B, atau opsi harga yang lebih selaras dengan daya beli domestik. Regulasi juga menjadi kunci: Kementerian Komunikasi dan Digital perlu merumuskan kerangka yang adil antara pemain lokal dan global, termasuk aspek hak labuh (landing rights) dan kewajiban layanan universal. Namun, peluang yang terbuka sangatlah besar. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan masih ada lebih dari 12.000 desa yang belum terjangkau internet memadai. Jika berhasil, proyek ini bisa menjadi tulang punggung baru untuk pendidikan digital, layanan kesehatan jarak jauh, sistem peringatan dini bencana, hingga penguatan sektor maritim dan perikanan. Yang tak kalah penting, kepemilikan konstelasi LEO akan memperkuat posisi tawar Indonesia dalam kancah diplomasi spektrum dan keamanan siber, karena data kritis warga negara tidak sepenuhnya mengalir melalui infrastruktur asing.

Meskipun masih panjang, langkah awal PSN dan Telkomsat ini menjadi sinyal bahwa Indonesia sedang merajut mimpi konektivitas yang lebih merdeka. Perjalanan tujuh tahun ke depan akan menjadi arena pembuktian apakah negeri ini mampu melahirkan “Starlink versi lokal” yang tidak sekadar mengekor, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan khas Nusantara. Publik, investor, dan regulator kini menanti babak berikutnya: desain konstelasi, skema pembiayaan, dan tentu saja tanggal pasti peluncuran perdana. Satu hal yang pasti, orbit rendah tak lagi hanya menjadi panggung raksasa global; Indonesia siap unjuk gigi di antariksa.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User