Teknologi

Ben-Gvir Kembali Terobos Masjid Al Aqsa, Dunia Islam Protes Keras

Ketegangan di Yerusalem Timur kembali memanas. Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, erneut menyerbu kompleks Masjid Al Aqsa pada Senin (31/8), memicu gelombang protes dari berbagai negar...

Ben-Gvir Kembali Terobos Masjid Al Aqsa, Dunia Islam Protes Keras

Ketegangan di Yerusalem Timur kembali memanas. Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, erneut menyerbu kompleks Masjid Al Aqsa pada Senin (31/8), memicu gelombang protes dari berbagai negara dunia Islam. Langkah provokatif ini dinilai sebagai eskalasi serius yang mengancam stabilitas kawasan dan sensitifitas agama yang sudah rapuh.

Kunjungan Ben-Gvir ke kompleks suci umat Islam itu bukan yang pertama. Ia dikenal sebagai politikus sayap kanan yang konsisten mendorong kebijakan kontroversial di kawasan Yerusalem. Namun, kali ini aksinya mendapat perhatian lebih besar karena dilakukan di tengah negosiasi gencatan senjata dan upaya perdamaian yang masih alot.

Mengapa Kompleks Al Aqsa Begitu Sensitif?

Masjid Al Aqsa bukan sekadar tempat ibadah. Kompleks ini merupakan lokasi suci ketiga bagi umat Islam, sekaligus menjadi simbol perjuangan kemerdekaan Palestina. Secara historis, bangunan di atas bukit ini juga dihormati oleh umat Yahudi yang menyebutnya Temple Mount (Bukit Bait Suci).

Ibarat sebuah rumah dengan dua pintu yang sama-sama dijaga ketat, kompleks ini menjadi titik temu sekaligus titik konflik tiga agama besar. Setiap langkah yang dianggap mengubah status quo di kawasan ini langsung memicu reaksi keras dari pihak Palestina, dunia Arab, dan komunitas internasional.

Berdasarkan catatan sejarah, Israel menduduki Yerusalem Timur pada 1967 dan kemudian mencaploknya secara sepihak. Komunitas internasional, termasuk PBB, tidak mengakui kedaulatan Israel atas wilayah tersebut. Namun, Israel tetap mengelola akses ke kompleks Al Aqsa melalui kepolisian dan otoritas keagamaan yang kontroversial.

Reaksi Dunia Islam dan Komunitas Internasional

Serangan Ben-Gvir memicu reaksi cepat dari berbagai negara. Otoritas Palestina langsung mengecam keras tindakan tersebut dan menuntut intervensi internasional. Juru bicara mereka menyebut langkah itu sebagai "pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan resolusi PBB."

Negara-negara Arab, termasuk Yordania yang memiliki peran khusus dalam pengelolaan kompleks keagamaan Yerusalem, juga angkat bicara. Amman menyatakan bahwa tindakan Israel "melanggar status quo historis" dan meminta komunitas internasional mengambil tindakan tegas.

Organisasi Kerja Sama Islam (OIC) mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam keras kunjungan tersebut. Dalam keterangannya, OIC mengingatkan bahwa provokasi semacam ini dapat "membuka kotak Pandora" yang akan sulit ditutup kembali.

Dampak terhadap Proses Perdamaian

Analis politik melihat langkah Ben-Gvir sebagai sabotage terhadap upaya perdamaian yang sedang berjalan. Beberapa sumber menyebutkan bahwa negosiasi rahasia antara Israel dan Palestina sedang memasuki fase krusial, namun kunjungan ini berpotensi mengacaukan seluruh proses.

Dr. Ahmad Farisi, analis hubungan internasional dari Universitas Jakarta, menjelaskan bahwa "tindakan provokatif seperti ini bukan hanya soal agama, tetapi juga manuver politik domestik Israel jelang pemilihan. Ben-Gvir butuh menunjukkan kekuatan kepada basis elektabilitasnya."

Di sisi lain, sebagian pengamat menilai bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk mengubah fakta di lapangan. Dengan mengukuhkan kehadiran di kompleks Al Aqsa secara bertahap, Israel disebut-sebut berusaha mengubah komposisi demografis dan keagamaan Yerusalem Timur.

Situasi ini menambah beban bagi mediator internasional yang berusaha menjembatani konflik Israel-Palestina. Amerika Serikat, yang selama ini menjadi penengah utama, belum memberikan pernyataan resmi yang tegas. Eropa melalui Uni Eropa hanya mengeluarkan ajakan untuk "menahan diri" tanpa mengkritik langsung kebijakan Israel.

Bagi masyarakat Palestina yang hidup di Yerusalem Timur, kunjungan seperti ini bukan sekadar berita politik. Mereka merasakan langsung dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari: pembatasan akses ke tempat ibadah, peningkatan kehadiran militer, dan ketakutan akan pengusiran paksa yang terus menghantui.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lidia-susanto

Reporter Olahraga Wanita. Fokus pada atlet perempuan dan kesetaraan gender dalam olahraga.

Comments (0)

User