Api di Bawah Timbunan Sampah Perparah Kebakaran TPA Jatiwaringin

Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, yang hingga kini belum sepenuhnya padam, menyimpan persoalan teknis yang lebih kompleks dari sekadar api permukaan. Seorang pakar dari Badan Ri...

Jul 12, 2026 - 11:40
0 0
Api di Bawah Timbunan Sampah Perparah Kebakaran TPA Jatiwaringin

Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, yang hingga kini belum sepenuhnya padam, menyimpan persoalan teknis yang lebih kompleks dari sekadar api permukaan. Seorang pakar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan bahwa fenomena api bawah permukaan (deep-seated fire) menjadi alasan utama mengapa upaya pemadaman konvensional kerap menemui jalan buntu.

Berbeda dengan kebakaran terbuka pada lahan atau bangunan, api di area pembuangan sampah seringkali merambat jauh ke dalam timbunan, menciptakan kantong-kantong api yang tersembunyi di bawah lapisan sampah padat. Kondisi ini membuat air atau bahan pemadam lainnya tidak mampu menjangkau sumber panas secara efektif.

Fenomena Api Bawah Permukaan di TPA

Menurut peneliti tersebut, sampah organik yang menumpuk selama bertahun-tahun mengalami dekomposisi anaerobik, menghasilkan gas metana yang sangat mudah terbakar. Ketika suhu di dalam timbunan meningkat, baik karena panas dekomposisi maupun faktor eksternal seperti puntung rokok atau gesekan, gas metana dapat tersulut dan menyebabkan kebakaran bawah tanah.

"Ibarat bara di dalam sekam, api ini tidak terlihat jelas dari luar, tetapi terus membakar lapisan demi lapisan sampah di bagian dalam," jelasnya. Suhu di pusat kebakaran bisa mencapai lebih dari 500 derajat Celsius, cukup untuk memecah material sampah menjadi arang dan gas baru yang justru memicu pembakaran berkelanjutan.

Mengapa Pemadaman Sulit Dilakukan?

Metode pemadaman standar dengan menyemprotkan air dari atas hanya mampu mendinginkan permukaan. Air tidak dapat menembus lapisan sampah yang padat dan berlapis-lapis, sehingga api di bagian dalam terus menyala. Bahkan, air yang masuk melalui celah berisiko bereaksi dengan karbon panas dan menghasilkan gas hidrogen yang semakin menambah intensitas api.

Selain itu, struktur TPA yang tidak memiliki sistem ventilasi atau sekat pemisah membuat api bisa merambat secara horizontal dan vertikal tanpa hambatan. Ketika petugas berhasil memadamkan satu titik, titik lain di area yang terhubung secara termal dapat kembali menyala, menciptakan efek whack-a-mole yang melelahkan sumber daya pemadaman.

Dampak Lingkungan dan Kesehatan

Kebakaran bawah permukaan tidak hanya sulit dipadamkan, tetapi juga melepaskan asap tebal mengandung partikel berbahaya seperti karbon monoksida, sulfur dioksida, dan senyawa organik volatil. Masyarakat di sekitar TPA Jatiwaringin terpapar risiko gangguan pernapasan akut, iritasi mata, dan penyakit kronis jika terpapar dalam jangka panjang.

Dari sisi lingkungan, pembakaran tidak sempurna menghasilkan dioxin dan furan—zat karsinogenik yang dapat mengendap di tanah dan air. Curah hujan yang turun di area bekas terbakar berpotensi melindi zat beracun ke dalam tanah dan mencemari air tanah yang digunakan warga.

Teknologi dan Strategi Penanganan

Pakar BRIN menyarankan pendekatan berbeda untuk memadamkan api bawah permukaan. Salah satunya adalah dengan menginjeksikan nitrogen cair atau karbon dioksida dalam jumlah besar untuk menghilangkan oksigen di dalam timbunan, sehingga api padam karena kekurangan oksidator. Namun, teknik ini memerlukan perhitungan volume yang tepat agar tidak malah menyebarkan api akibat tekanan gas yang tidak terkendali.

Alternatif lain adalah dengan melakukan pembongkaran bertahap menggunakan ekskavator untuk membuka kantong api, diikuti pendinginan dengan air bertekanan tinggi. Metode ini membutuhkan waktu lebih lama dan koordinasi yang baik agar tidak membahayakan operator alat berat. Di beberapa negara, teknik foam injection dengan surfaktan khusus digunakan untuk menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat meresap lebih dalam ke pori-pori sampah.

Pencegahan di Masa Depan

Mencegah kebakaran serupa di TPA lain memerlukan perubahan mendasar dalam pengelolaan sampah. Pakar menekankan pentingnya pemadatan sampah yang disiplin dan penutupan dengan tanah setiap hari untuk mengurangi infiltrasi oksigen. Pemasangan pipa ventilasi untuk menyalurkan gas metana ke suar atau pemanfaatan sebagai energi listrik juga menjadi solusi jangka panjang yang mengurangi risiko ledakan.

Di sisi hulu, pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah tangga akan mengurangi volume sampah yang terdekomposisi dan menghasilkan metana. Pemerintah daerah perlu mempercepat transisi menuju sanitary landfill yang memiliki sistem pengelolaan gas dan lindi (air sampah) terintegrasi, bukan hanya sekadar penimbunan terbuka seperti yang masih marak di Indonesia.

Respons Posko Pemadaman

Saat ini, tim gabungan dari Dinas Pemadam Kebakaran, BPBD, dan relawan terus berupaya memadamkan titik api yang tersisa. Komandan posko mengakui bahwa teknik konvensional belum membuahkan hasil maksimal. "Kami sudah berkoordinasi dengan ahli untuk menerapkan metode pendalaman injeksi sebagai langkah lanjutan," ujarnya.

Warga diharapkan tetap waspada terhadap perubahan arah angin yang membawa asap dan segera melapor jika menemukan peningkatan suhu tanah atau keluarnya asap dari permukaan yang tidak biasa. Kejadian di TPA Jatiwaringin ini menjadi pengingat bahwa kebakaran di fasilitas pengelolaan sampah memerlukan keahlian dan peralatan khusus yang tidak bisa disamakan dengan kebakaran biasa.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User