Api Bawah Permukaan Jadi Biang Keladi Sulitnya Padamkan Kebakaran TPA Jatiwaringin

Kebakaran yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Tangerang Selatan sejak beberapa hari terakhir bukan sekadar insiden biasa. Upaya pemadaman yang dilakukan puluhan personel pemadam...

Jul 12, 2026 - 16:14
0 0
Api Bawah Permukaan Jadi Biang Keladi Sulitnya Padamkan Kebakaran TPA Jatiwaringin

Kebakaran yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Tangerang Selatan sejak beberapa hari terakhir bukan sekadar insiden biasa. Upaya pemadaman yang dilakukan puluhan personel pemadam kebakaran tampak seperti menyiram air ke padang pasir—asap tebal terus mengepul dan titik api tak kunjung padam sepenuhnya. Para ahli menjelaskan, penyebab utama kegagalan pemadaman konvensional ini adalah fenomena yang jarang disorot publik: api bawah permukaan (subsurface fire).

Ketika Api Bersembunyi di Perut Timbunan Sampah

Berbeda dengan kebakaran permukaan yang bisa langsung disiram air, api bawah permukaan terjadi di lapisan dalam tumpukan sampah yang telah mengalami pemadatan bertahun-tahun. Sampah organik yang terdekomposisi secara anaerobik menghasilkan gas metana dalam jumlah besar. Gas ini terperangkap di antara lapisan-lapisan sampah yang memadat, menciptakan kantong-kantong mudah terbakar pada kedalaman 5 hingga 15 meter di bawah permukaan. Ketika suhu di dalam timbunan mencapai titik nyala—sekitar 300–400 derajat Celsius—api dapat muncul tanpa peringatan dan menjalar perlahan melalui pori-pori material.

Ibarat bara dalam sekam, api bawah permukaan ini tidak terlihat dari luar, namun terus menyala dan menyebar secara horizontal. Air yang disemprotkan dari atas hanya membasahi lapisan terluar, sementara panas dan pembakaran di bawahnya tetap berlangsung. Diperlukan teknik khusus, seperti injeksi air bertekanan tinggi ke dalam lapisan dalam atau penggunaan bahan pemadam yang mampu menembus pori-pori, untuk benar-benar memadamkan api jenis ini.

Mengapa Pemadaman Konvensional Tidak Mempan?

Menurut para peneliti, TPA dengan ketinggian timbunan melebihi 10 meter—seperti Jatiwaringin yang telah beroperasi lebih dari dua dekade—sangat rentan terhadap kebakaran bawah permukaan. Proses dekomposisi alami secara terus-menerus menghasilkan panas. Tanpa sistem ventilasi gas yang memadai, panas terakumulasi dan memicu reaksi berantai. Lahan seluas lebih dari 10 hektare dengan volume sampah mencapai ratusan ribu meter kubik menjadi medan yang sulit dijangkau oleh metode pemadaman biasa.

Beberapa kendala teknis yang dihadapi antara lain:

1. Kedalaman sumber api. Api di kedalaman lebih dari 5 meter tidak dapat dijangkau selang pemadam biasa. Diperlukan alat bor khusus untuk membuat titik injeksi.

2. Kandungan metana tinggi. Gas metana yang terperangkap dapat memicu ledakan kecil saat terkena air, menyebarkan api ke area lain.

3. Struktur timbunan yang labil. Rongga-rongga akibat sampah yang terbakar membuat permukaan berpotensi ambles, membahayakan petugas.

4. Durasi pembakaran. Api bawah permukaan bisa bertahan berminggu-minggu hingga berbulan-bulan jika tidak ditangani secara spesifik.

Dampak Lebih Luas: Bukan Sekadar Asap

Asap tebal dari kebakaran TPA mengandung berbagai senyawa berbahaya seperti karbon monoksida, sulfur dioksida, hidrogen sulfida, dan partikulat halus (PM2.5). Paparan jangka pendek dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, sakit kepala, dan mual. Dalam jangka panjang, risiko penyakit pernapasan kronis dan kardiovaskular meningkat, terutama bagi warga di permukiman sekitar yang berjarak kurang dari 500 meter dari lokasi.

Selain kesehatan, kebakaran bawah permukaan juga menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan. Lahan yang terbakar mengalami penurunan permukaan (subsidence) dan berpotensi mencemari air tanah melalui air lindi yang tercampur zat beracun hasil pembakaran. Pemerintah daerah dihadapkan pada dilema: memperpanjang masa operasional TPA yang sudah overkapasitas atau segera merealisasikan rencana penutupan dan rehabilitasi lahan.

Teknologi dan Strategi Penanganan Masa Depan

Untuk mengatasi api bawah permukaan, sejumlah ahli merekomendasikan pendekatan terpadu. Pertama, pemasangan sistem deteksi dini berupa sensor suhu dan gas yang dipasang pada berbagai kedalaman. Kedua, pembangunan sumur injeksi untuk menyalurkan air atau bahan pemadam langsung ke titik api. Ketiga, penggunaan teknologi soil mixing yang mengaduk lapisan sampah dengan material penghambat bakar seperti tanah liat atau kapur. Keempat, penerapan penutupan permukaan (capping) dengan geomembran untuk memutus pasokan oksigen.

Kejadian di TPA Jatiwaringin menjadi pengingat bahwa pengelolaan sampah perkotaan memerlukan investasi infrastruktur yang tidak murah. Dengan volume sampah harian yang mencapai lebih dari 1.200 ton, TPA ini sesungguhnya sudah melewati kapasitas idealnya. Peristiwa ini diharapkan mendorong percepatan transisi menuju teknologi pengolahan sampah yang lebih modern, seperti insinerator ramah lingkungan atau fasilitas pengelolaan sampah menjadi energi (waste-to-energy plant), yang dapat mengurangi volume sampah sekaligus meminimalkan risiko kebakaran di masa mendatang.

Hingga berita ini diturunkan, proses pendinginan masih berlangsung dengan melibatkan tim gabungan dari dinas pemadam kebakaran, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, serta dukungan teknis dari lembaga penelitian. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap kualitas udara dan mengurangi aktivitas di luar ruangan saat konsentrasi asap meningkat.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User