AIPAC Siapkan Puluhan Juta Dolar Jegal Calon Senator Muslim AS
Gelombang uang besar dalam politik Amerika Serikat kembali menjadi sorotan. Kabar bahwa kelompok lobi pro-Israel terbesar di Negeri Paman Sam tengah mempertimbangkan gelontoran dana puluhan juta dolar...
Gelombang uang besar dalam politik Amerika Serikat kembali menjadi sorotan. Kabar bahwa kelompok lobi pro-Israel terbesar di Negeri Paman Sam tengah mempertimbangkan gelontoran dana puluhan juta dolar untuk menggagalkan langkah seorang calon senator Muslim bukan sekadar berita politik biasa. Ini soal siapa yang berhak mewakili rakyat di Senat, seberapa jauh uang bisa membeli pengaruh, dan bagaimana isu kebijakan luar negeri kini ikut menentukan nasib kandidat di dalam negeri. Bagi pembaca di Indonesia, cerita ini relevan karena menunjukkan bahwa sistem pemilihan umum di negara maju sekalipun sangat rentan terhadap dominasi pendanaan kelompok kepentingan.
Kelompok yang dimaksud adalah AIPAC (American Israel Public Affairs Committee atau Komite Urusan Publik Amerika-Israel), organisasi lobi yang selama beberapa dekade dikenal sebagai salah satu pemain paling berpengaruh di Washington. Menurut sejumlah laporan yang beredar, AIPAC sedang menimbang pengerahan sumber daya finansial dalam skala besar pada pemilihan paruh waktu (midterm election) mendatang, dengan satu target utama: menghadang Abdul El-Sayed, kandidat Muslim yang memperebutkan kursi Senat dari negara bagian Michigan.
Siapa Abdul El-Sayed?
Abdul El-Sayed bukan wajah baru di panggung politik Michigan. Pria kelahiran tahun 1984 ini adalah dokter sekaligus ahli epidemiologi (ilmu yang mempelajari penyebaran penyakit) lulusan Universitas Michigan, dan pernah meraih beasiswa bergengsi Rhodes Scholarship untuk menempuh studi doktoral di Universitas Oxford, Inggris. Ia pernah menjabat direktur Dinas Kesehatan Kota Detroit pada usia yang relatif muda, sebelum mencalonkan diri sebagai gubernur Michigan pada pemilihan tahun 2018. Meski kalah di pemilihan pendahuluan (primary) Partai Demokrat kala itu, namanya melejit berkat dukungan dari senator progresif Bernie Sanders.
Kini, El-Sayed kembali maju, kali ini memperebutkan kursi Senat yang ditinggalkan Gary Peters yang memutuskan pensiun. Putra imigran Mesir ini dikenal vokal mengkritik kebijakan pemerintah AS terhadap Israel, khususnya terkait perang di Gaza dan aliran bantuan militer ke Tel Aviv. Posisi politik inilah yang diyakini membuatnya menjadi sasaran kelompok lobi pro-Israel.
Rekam Jejak AIPAC dan Mesin Uangnya
Untuk memahami mengapa rencana ini menggetarkan dunia politik AS, perlu dipahami dulu skala kekuatan finansial AIPAC. Ibarat raksasa yang jarang kalah bertarung, kelompok ini bersama afiliasinya, super PAC (political action committee/komite aksi politik yang bisa menghimpun dana tanpa batas) bernama United Democracy Project, telah menghabiskan sekitar 100 juta dolar AS pada siklus pemilu 2024. Sebagian besar dana itu dipakai menggempur kandidat progresif yang kritis terhadap Israel melalui iklan televisi, platform digital, serta penargetan pemilih berbasis data alias microtargeting, teknik yang memanfaatkan analitik data untuk menyasar segmen pemilih tertentu secara presisi.
Hasilnya nyata. Dua anggota Kongres petahana dari Partai Demokrat, Jamaal Bowman di New York dan Cori Bush di Missouri, tumbang di pemilihan pendahuluan 2024 setelah menjadi target pengeluaran belasan juta dolar. Perlombaan melawan Bowman bahkan tercatat sebagai salah satu pemilihan pendahuluan DPR termahal dalam sejarah AS, dengan dana sekitar 15 juta dolar AS. Jika AIPAC benar-benar mengucurkan puluhan juta dolar melawan El-Sayed, pertarungan Senat di Michigan berpotensi memecahkan rekor baru.
Mengapa Michigan Menjadi Medan Pertarungan Krusial
Michigan bukan negara bagian sembarangan. Wilayah ini adalah swing state (negara bagian yang suaranya berpindah-pindah antara partai) sekaligus rumah bagi komunitas Arab dan Muslim Amerika terbesar di AS, terutama di kota Dearborn. Pada pemilihan presiden 2024, gerakan protes Uncommitted (tidak berkomitmen) yang menolak kebijakan Presiden Joe Biden soal Gaza lahir di sini dan mengumpulkan lebih dari 100 ribu suara. Artinya, isu Palestina-Israel bukan isu pinggiran di Michigan, melainkan penentu suara.
Bagi komunitas Muslim Amerika, pencalonan El-Sayed dipandang sebagai momentum bersejarah: peluang memiliki senator Muslim pertama dari Michigan. Sebaliknya, bagi AIPAC, kemenangan seorang kritikus vokal Israel di Senat bisa mengubah peta dukungan politik di Washington. Di sinilah benturan kepentingan itu terjadi.
Perdebatan tentang Uang dan Demokrasi
Rencana pengeluaran besar ini memicu perdebatan sengit. Para kritikus menilai intervensi dana raksasa dari luar negara bagian berisiko menenggelamkan isu-isu lokal seperti kesehatan, lapangan kerja, dan biaya hidup yang seharusnya menjadi fokus pemilih Michigan. Sebagian pihak bahkan menyebutnya sebagai upaya sistematis menghalangi representasi politik warga Muslim Amerika.
Namun pendukung AIPAC berargumen bahwa pengeluaran kampanye adalah bentuk kebebasan berpendapat yang sah dan dilindungi konstitusi AS. Apa pun argumennya, satu hal pasti: pertarungan di Michigan akan menjadi ujian seberapa jauh uang masih menjadi penentu arah demokrasi Amerika.
Comments (0)