Teknologi

2.700 Pebisnis Global Hadiri BATIC 2026 di Bali, Telkom Dorong Kolaborasi

Lebih dari 2.700 pelaku usaha dari berbagai penjuru dunia dijadwalkan berkumpul di Bali pada 2026 dalam ajang BATIC — kepanjangan dari Bali Annual Telkom International Conference, yakni konferensi i...

2.700 Pebisnis Global Hadiri BATIC 2026 di Bali, Telkom Dorong Kolaborasi

Lebih dari 2.700 pelaku usaha dari berbagai penjuru dunia dijadwalkan berkumpul di Bali pada 2026 dalam ajang BATIC — kepanjangan dari Bali Annual Telkom International Conference, yakni konferensi internasional tahunan yang digelar Telkom. Bagi masyarakat umum, angka sebesar itu mungkin terdengar seperti statistik belaka. Namun di baliknya tersimpan pesan yang lebih dalam: dunia usaha tengah bergeser dari pola kompetisi menuju pola kerja sama lintas sektor.

Mengapa hal ini penting bagi kita? Karena keputusan yang diambil para pebisnis global di forum semacam ini pada akhirnya ikut menentukan harga layanan internet, kemudahan akses layanan keuangan digital, hingga kecepatan adopsi teknologi di Indonesia. Ketika perusahaan-perusahaan besar saling berkolaborasi, dampaknya tidak hanya dirasakan mereka, tetapi juga konsumen rumah tangga dan pelaku usaha kecil.

Kolaborasi Industri: Bukan Sekadar Kata Kunci

Tema utama perhelatan tahun ini berpusat pada semangat menyatukan kekuatan lintas industri. Ibarat seperti orkestra, satu instrumen yang dimainkan sendirian tidak akan menghasilkan simfoni; butuh biola, piano, dan drum yang berjalan seirama. Demikian pula dunia usaha modern: operator telekomunikasi, perbankan, perusahaan teknologi, hingga industri kreatif dituntut memainkan peran masing-masing secara selaras.

Dalam praktiknya, kolaborasi lintas industri berarti berbagi infrastruktur, bertukar data secara aman, dan menyusun standar bersama. Tanpa itu, setiap perusahaan akan membangun ekosistem tertutup yang mahal dan lambat beradaptasi. Forum ini mencoba menjawab pertanyaan mendasar: bagaimana membuat kerja sama antarperusahaan berjalan efisien tanpa mengorbankan keamanan data pengguna.

2.700 Pebisnis dan Daya Tarik Bali

Jumlah peserta yang menyentuh angka 2.700 orang bukan sekadar catatan partisipasi. Angka itu merefleksikan besarnya minat investor dan mitra bisnis internasional untuk melihat langsung peluang di pasar Asia Tenggara. Bali dipilih sebagai lokasi bukan tanpa alasan: selain daya tarik pariwisatanya, Pulau Dewata telah terbiasa menjadi tuan rumah forum internasional, mulai dari pertemuan G20 (Group of Twenty) hingga konferensi teknologi, sehingga infrastruktur pendukungnya telah teruji.

Bagi Telkom, ajang ini sekaligus menjadi panggung untuk memamerkan kapasitasnya. Sebagai BUMN (Badan Usaha Milik Negara) di sektor telekomunikasi, perusahaan ini membawa agenda besar: mendorong terbentuknya kolaborasi yang tidak berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman, tetapi berlanjut ke implementasi nyata di lapangan.

Peran Telkom dalam Ekosistem Digital

Dalam ekosistem digital, operator telekomunikasi sering disebut sebagai tulang punggung. Alasannya sederhana: tanpa jaringan, tidak ada internet; tanpa internet, tidak ada layanan digital seperti e-commerce, perbankan daring, maupun kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence) yang belakangan ramai dipakai masyarakat. Telkom, melalui berbagai anak usahanya, bergerak di banyak lapisan ekosistem ini — dari konektivitas hingga pusat data dan layanan komputasi awan.

Kehadiran para pebisnis global dalam forum ini membuka ruang bagi transfer teknologi dan masuknya investasi. Perusahaan asing yang ingin menembus pasar Indonesia tidak perlu membangun semuanya dari nol; mereka dapat bergandengan tangan dengan pemain lokal yang sudah memahami karakteristik pasar. Di sinilah nilai strategis kolaborasi lintas industri itu berada.

Dampak bagi Ekonomi dan Masyarakat

Jika kolaborasi yang didorong forum ini terealisasi, salah satu dampak yang paling terasa adalah percepatan transformasi digital di berbagai sektor. Rumah sakit dapat berbagi data dengan laboratorium riset, pemerintah daerah dapat bekerja sama dengan penyedia teknologi untuk layanan publik, dan pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) dapat memanfaatkan platform digital yang sebelumnya hanya terjangkau korporasi besar.

Efisiensi menjadi kata kunci kedua setelah kolaborasi. Dengan berbagi infrastruktur, perusahaan dapat menekan biaya operasional, dan penghematan itu berpotensi diteruskan ke konsumen dalam bentuk harga layanan yang lebih wajar. Inovasi juga berpeluang lahir lebih cepat ketika ide bertemu modal dan infrastruktur dalam satu forum.

Kendati demikian, tantangan tetap ada. Kepercayaan antarperusahaan, perlindungan data pribadi, dan kesiapan regulasi adalah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama antara pelaku industri dan pemerintah. Kolaborasi yang sehat hanya akan tumbuh di atas fondasi aturan main yang jelas.

Pada akhirnya, pertemuan ribuan pebisnis di Bali ini adalah cermin arah masa depan ekonomi digital: bukan lagi siapa yang paling besar, melainkan siapa yang paling mampu bekerja sama. Bagi Indonesia, kesempatan ini layak dimanfaatkan agar posisinya semakin kokoh di peta ekonomi regional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User