Wall Street Anjlok Usai Trump Ancam Blokade Selat Hormuz
Bursa saham Amerika Serikat ditutup terperosok dalam pada perdagangan Senin (13/7), setelah Presiden Donald Trump secara terbuka mengancam akan kembali mem
Bursa saham Amerika Serikat ditutup terperosok dalam pada perdagangan Senin (13/7), setelah Presiden Donald Trump secara terbuka mengancam akan kembali memberlakukan blokade terhadap pelayaran Iran di Selat Hormuz. Tiga indeks utama Wall Street kompak memerah, dengan Dow Jones Industrial Average ambles 587 poin atau 1,4% ke level 40.912, menandai koreksi harian terdalam dalam dua pekan terakhir. Indeks S&P 500 tak ketinggalan tergerus 1,7% ke posisi 5.431, sementara Nasdaq Composite memimpin penurunan dengan koreksi 2,1% menjadi 18.293—dipicu aksi jual masif pada saham-saham teknologi dan energi yang paling rentan terhadap eskalasi geopolitik.
Trump Kembali Mainkan Kartu Selat Hormuz
Dalam pernyataan mengejutkan yang disampaikan melalui akun Truth Social dan kemudian dikonfirmasi dalam konferensi pers di Mar-a-Lago, Trump menyatakan bahwa kapal perang Angkatan Laut AS akan menghalau dan menginspeksi setiap kapal tanker yang dicurigai membawa minyak Iran melewati Selat Hormuz. "Kami tidak akan membiarkan rezim di Tehran terus mendanai teror melalui ekspor minyak ilegal. Hormuz adalah jalur internasional, tapi kami yang mengamankannya selama puluhan tahun—saatnya mereka membayar harga," tegas Trump. Langkah ini secara efektif menghidupkan kembali kebijakan maximum pressure era 2018-2020 yang sempat meredup di bawah pemerintahan sebelumnya.
Selat Hormuz sendiri merupakan arteri perdagangan energi dunia yang tak tergantikan. Data dari U.S. Energy Information Administration menunjukkan bahwa sekitar 20,4 juta barel minyak mentah dan produk olahan melintasi selat ini setiap harinya—setara dengan hampir seperlima konsumsi minyak global. Tak heran jika retorika Trump seketika menyulut kepanikan di lantai bursa New York. "Pasar tidak memerlukan perang baru. Mereka butuh kepastian dan rantai pasok yang stabil," ujar analis senior Morgan Stanley, Lisa Everhart, dalam catatan klien yang dikutip Reuters. "Ketidakpastian di Hormuz sama dengan inflasi di pompa bensin AS—dan itu mimpi buruk untuk the Fed."
Minyak dan Saham Energi: Paradoks Kenaikan di Tengah Kejatuhan
Ironisnya, tak semua sektor tenggelam. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melesat 5,8% ke level $81,40 per barel, tertinggi sejak Maret 2026, sementara Brent melambung 5,3% ke $85,20. Saham-saham perusahaan minyak dan gas seperti ExxonMobil dan Chevron justru mencatat penguatan masing-masing 3,2% dan 2,8%, menjadi penopang satu-satunya di indeks Dow. Namun sektor penerbangan dan transportasi justru babak belur—Delta Air Lines anjlok 4,1%, FedEx kehilangan 3,7%, dan saham perusahaan pelayaran global seperti Maersk terpangkas 4,5% di perdagangan awal Eropa sebagai efek lanjutan.
Lonjakan harga minyak ini memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi AS yang sejatinya sudah mulai melandai dalam beberapa bulan terakhir. Indeks Harga Konsumen (CPI) Juni 2026 tercatat di 2,8% year-on-year, belum menyentuh target 2% yang diinginkan Federal Reserve. Analis memperkirakan bahwa kenaikan harga BBM akibat ketegangan Hormuz bisa menambah tekanan inflasi sebesar 0,3-0,5% selama kuartal ketiga, mempersempit ruang gerak the Fed untuk melanjutkan pemangkasan suku bunga.
Geopolitik dan Panik Pasar: Pola Berulang
Bagi investor kawakan, ancaman Trump ini bukanlah sesuatu yang benar-benar baru. Pada 2018-2019 lalu, retorika serupa berhasil membuat harga minyak global naik 12% dalam sepekan dan menekan indeks S&P 500 hingga 3% sebelum akhirnya mereda tanpa konfrontasi militer langsung. Namun kali ini, konteksnya berbeda. Saat itu, AS memiliki stok minyak strategis (Strategic Petroleum Reserve) yang lebih tebal dan Tiongkok mau menyerap sebagian ekspor Iran tanpa eskalasi. Kini, dengan hubungan AS-Tiongkok yang semakin beku dan SPR AS yang hanya tersisa 368 juta barel—terendah sejak 1984—opsi mitigasi jauh lebih terbatas.
Panglima Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Hossein Salami, melalui televisi nasional Iran langsung merespons ancaman Trump dengan pernyataan tegas: "Jika Iran tidak bisa mengirimkan minyak dari Hormuz, maka tidak akan ada satu barel pun minyak dari kawasan Teluk yang bisa melintas." Ini menggemakan ancaman serupa yang pernah dilontarkan Iran pada 2012 dan 2019, namun kali ini diikuti dengan pengerahan sejumlah kapal cepat IRGC di sekitar Selat Hormuz yang terdeteksi intelijen satelit AS sejak akhir pekan lalu.
Sektor Teknologi Ikut Tertekan
Di luar sektor energi, saham-saham teknologi menjadi korban terbesar aksi jual hari Senin. Microsoft kehilangan 2,6%, sementara Nvidia terpangkas tajam hingga 4,8% di tengah kekhawatiran bahwa gangguan rantai pasok global akibat ketegangan di Timur Tengah akan memperlambat ekspansi pusat data dan pasokan semikonduktor. Para investor rupanya mengantisipasi bahwa eskalasi di Hormuz dapat berimbas ke Selat Malaka—jalur vital pengiriman komponen elektronik Asia ke AS—mengingat aliansi strategis yang semakin erat antara Iran, Rusia, dan Tiongkok.
Wall Street kini menantikan langkah konkret pemerintahan Trump dalam 48 jam ke depan. Apakah blokade benar-benar diimplementasikan atau sekadar gertakan negosiasi untuk memaksa Iran kembali ke meja perundingan nuklir? Yang pasti, volatilitas pasar saham yang direpresentasikan oleh indeks CBOE VIX melonjak 28% ke level 24,7, menandakan kecemasan investor yang belum akan mereda dalam waktu dekat. Futures pasar saham AS pada Selasa dini hari menunjukkan potensi lanjutan penurunan di kisaran 0,5-0,7%.
Comments (0)