Rudal Israel Hantam Pabrik di Sabra, Empat Warga Palestina Tewas
Kota Gaza, Jalur Gaza — Suasana mencekam menyelimuti kawasan Sabra, Gaza City, setelah rudal Israel menghantam sebuah pabrik pengecoran logam pada Minggu s
Kota Gaza, Jalur Gaza — Suasana mencekam menyelimuti kawasan Sabra, Gaza City, setelah rudal Israel menghantam sebuah pabrik pengecoran logam pada Minggu sore (12/7/2026). Serangan udara yang berlangsung sekitar pukul 15.30 waktu setempat itu menimbulkan kepulan asap tebal, menghancurkan bangunan pabrik, serta menewaskan sedikitnya empat warga sipil Palestina. Saksi mata melaporkan ledakan dahsyat diikuti runtuhan bangunan yang memerangkap sejumlah pekerja di dalam reruntuhan.
Kronologi Serangan Udara
Menurut keterangan sejumlah saksi yang berada di sekitar Sabra, rangkaian serangan terjadi secara bertubi-tubi. Berikut kronologi yang berhasil dihimpun dari wawancara langsung dengan warga setempat:
- Pukul 15.25: Suara dengkuran pesawat tempur terdengar di atas langit Gaza City bagian barat. Beberapa warga yang tengah beraktivitas di sekitar pabrik pengecoran logam milik keluarga Ahmad Al-Mabhouh mulai merasakan kepanikan.
- Pukul 15.28: Peringatan dini dari sirene terdengar, namun durasinya sangat singkat sebelum rudal pertama meluncur. Pekerja dan warga sekitar berusaha menyelamatkan diri, namun banyak yang tidak sempat karena jarak yang terlalu dekat.
- Pukul 15.30: Dua rudal permukaan-ke-permukaan menghantam area pabrik secara bersamaan. Ledakan pertama memicu runtuhan struktur utama, sementara ledakan kedua menimbulkan gelombang kejut yang merusak bangunan di sekitarnya. Kepulan asap hitam langsung membumbung tinggi, terlihat dari berbagai penjuru kota.
- Pukul 15.40: Tim penyelamat darurat dan ambulans tiba di lokasi. Proses evakuasi berlangsung dramatis karena potongan logam panas dan beton berserakan. Warga berinisiatif membantu menggali reruntuhan dengan tangan kosong untuk mencari korban selamat.
- Pukul 16.15: Empat jenazah berhasil dievakuasi dari reruntuhan. Tiga di antaranya diketahui sebagai pekerja pabrik, sementara satu korban lainnya merupakan warga yang kebetulan melintas. Enam orang lainnya mengalami luka-luka serius dan segera dilarikan ke Rumah Sakit Al-Shifa.
Korban dan Kerusakan
Berdasarkan konfirmasi dari Kementerian Kesehatan Gaza yang dikuasai Hamas, serangan tersebut menelan empat korban jiwa dan enam korban luka berat, termasuk seorang anak laki-laki berusia 12 tahun yang terkena pecahan peluru. Pihak rumah sakit menyatakan sebagian besar korban mengalami luka bakar serius dan trauma tumpul akibat terjangan material bangunan.
"Kami baru saja menyelesaikan shift siang dan berencana pulang ketika tiba-tiba benda itu menghantam kami. Saya tidak tahu lagi bagaimana cara menyelamatkan teman-teman saya, semuanya gelap dan berasap," ujar Ibrahim Qasim (34), salah satu pekerja pabrik yang selamat namun mengalami luka bakar di lengan dan punggung.
Tidak hanya menewaskan warga sipil, serangan ini juga meluluhlantakkan fasilitas pengecoran logam yang menjadi sumber mata pencaharian bagi sekitar 25 keluarga. Bangunan pabrik seluas 800 meter persegi itu rata dengan tanah, dan peralatan berat seperti mesin pres dan tungku pembakaran rusak total. Kerugian materi diperkirakan mencapai 1,2 juta dolar AS, menurut pernyataan lisan pemilik pabrik.
Respons Militer Israel
Pihak militer Israel (IDF) belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait insiden ini. Namun, sejumlah sumber militer yang dikutip oleh media Israel menyebutkan bahwa target serangan adalah fasilitas produksi senjata yang diduga digunakan oleh sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam. Klaim ini, sebagaimana kebanyakan operasi militer Israel di Gaza, sulit diverifikasi secara independen.
Pabrik pengecoran logam yang menjadi sasaran terletak di kawasan permukiman padat penduduk, sehingga potensi korban sipil sangat tinggi. Organisasi hak asasi manusia telah berulang kali memperingatkan tentang risiko melakukan serangan di zona residensial tanpa pemberitahuan evakuasi yang memadai.
Kecaman dan Desakan Investigasi
Serangan ini segera menuai kecaman dari berbagai pihak, termasuk otoritas Palestina di Tepi Barat, negara-negara Arab, dan sejumlah LSM internasional. Juru bicara Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyebut serangan itu sebagai “kejahatan perang yang disengaja terhadap rakyat tak berdaya” dan mendesak komunitas internasional untuk turun tangan. Sementara itu, Malaysia dan Indonesia—sebagai negara pendukung kemerdekaan Palestina—ikut mengecam keras tindakan Israel dan mendesak PBB untuk menggelar sidang darurat.
"Serangan terhadap infrastruktur sipil, terutama yang berlokasi di kawasan padat penduduk, adalah pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional. Kami meminta ada investigasi independen yang transparan," kata perwakilan Amnesty International untuk kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara dalam keterangan resminya.
Eskalasi Memanas di Gaza
Insiden ini bukan yang pertama sepanjang tahun 2026. Sejak awal Januari, eskalasi kekerasan antara Israel dan Hamas kembali mencuat dengan frekuensi serangan udara dan peluncuran roket yang meningkat signifikan. Menurut data dari OCHA (Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB), periode Januari hingga Juli 2026 telah terjadi setidaknya 87 serangan udara Israel ke Jalur Gaza yang mengakibatkan korban jiwa di pihak Palestina, sementara kelompok perlawanan Palestina meluncurkan sekitar 230 roket ke arah permukiman Israel.
Meningkatnya intensitas pertempuran dikhawatirkan akan memicu perang terbuka yang lebih besar, seperti yang terjadi pada tahun 2021 dan 2023. Di sisi lain, upaya mediasi oleh Mesir dan Qatar menemui jalan buntu karena kedua belah pihak masih bersikukuh pada tuntutan masing-masing: Israel menuntut pelucutan senjata Hamas, sedangkan Hamas menuntut pencabutan blokade total yang telah berlangsung 18 tahun.
Kawasan Sabra kini berangsur sepi, menyisakan puing-puing pabrik dan duka mendalam bagi keluarga korban. Bagi warga Gaza, setiap dentuman rudal menjadi pengingat pahit bahwa konflik berkepanjangan ini belum akan berakhir dalam waktu dekat.
Comments (0)