Tragedi Pantura Indramayu: 13 Nyawa Melayang Usai Resepsi Pernikahan

Indramayu – Duka mendalam menyelimuti Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, setelah sebuah kecelakaan beruntun terjadi di jalur Pantura pada Minggu dini hari. Insiden yang melibatkan sedikitnya tiga kend...

Tragedi Pantura Indramayu: 13 Nyawa Melayang Usai Resepsi Pernikahan

Indramayu – Duka mendalam menyelimuti Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, setelah sebuah kecelakaan beruntun terjadi di jalur Pantura pada Minggu dini hari. Insiden yang melibatkan sedikitnya tiga kendaraan itu merenggut 13 nyawa, delapan di antaranya merupakan warga satu desa yang baru saja kembali dari sebuah pesta pernikahan. Peristiwa ini menjadi catatan kelam di ruas nasional yang kerap memakan korban.

Kronologi: Truk Oleng Hantam Rombongan

Berdasarkan keterangan aparat kepolisian setempat, kecelakaan bermula sekitar pukul 03.30 WIB di kilometer 123 jalur Pantura, tepatnya di wilayah hukum Polres Indramayu. Sebuah truk tronton bermuatan pupuk yang melaju dari arah Cirebon menuju Jakarta tiba-tiba oleng dan menyeberang ke jalur berlawanan. Truk tersebut diduga mengalami rem blong saat menuruni jalan yang sedikit menikung, sehingga pengemudi kehilangan kendali.

Saat bersamaan, dari arah berlawanan melaju sebuah minibus Isuzu Elf yang mengangkut 18 penumpang—rombongan warga Desa Cempeh, Kecamatan Lelea, yang baru usai menghadiri resepsi pernikahan kerabat mereka di Losari, Cirebon. Tabrakan frontal tak terhindarkan. Benturan keras itu menyebabkan minibus terguling, sementara truk tronton terus melaju dan menabrak sebuah truk tangki pengangkut BBM yang berada tepat di belakang minibus. Akibatnya, truk tangki ikut terperosok ke bahu jalan dan mengalami kebocoran, meski tidak sampai memicu kebakaran.

“Kami menduga sopir truk kelelahan dan kendaraan tidak layak jalan. Rem tidak berfungsi dengan baik, dan muatan melebihi kapasitas,” ungkap Kasatlantas Polres Indramayu, AKP Dwi Hartanto, saat dihubungi.

Duka Desa Cempeh: Delapan Warga Satu Rombongan Tewas

Rombongan dari Desa Cempeh yang menjadi korban merupakan keluarga besar dan tetangga yang menyewa minibus untuk pergi bersama ke pesta pernikahan. Kedelapan korban tewas dari desa tersebut terdiri dari tiga perempuan dewasa, tiga laki-laki dewasa, dan dua anak-anak. Sementara lima korban lainnya adalah penumpang truk tangki dan kernet truk tronton. Sopir truk tronton sendiri selamat meski mengalami luka berat dan kini dalam perawatan intensif di rumah sakit sambil menunggu pemeriksaan lebih lanjut.

Kabar duka ini langsung menyebar di Desa Cempeh. Puluhan warga berdatangan ke rumah duka, beberapa di antaranya masih tidak percaya. “Mereka bahagia tadi malam, berdansa, mengantar pengantin. Sekarang kami harus menyiapkan liang lahat untuk delapan orang sekaligus,” ujar Markum, salah satu kerabat korban, dengan suara bergetar. Desa Cempeh mendadak berubah menjadi lautan tangis. Kepala Desa Cempeh, Haryadi, mengaku akan mengkoordinasikan bantuan serta pemakaman massal yang direncanakan dalam satu hari ke depan.

Pihak kepolisian masih melakukan identifikasi mendalam terhadap seluruh korban. Jenazah sempat dibawa ke RSUD Indramayu untuk divisum sebelum diserahkan kepada keluarga. Beberapa korban luka yang selamat dirawat di RS Bhayangkara Losarang dan RS Pertamina Cirebon.

Evakuasi dan Kemacetan Panjang

Proses evakuasi berlangsung dramatis. Tim SAR gabungan dari Basarnas, PMI, dan relawan harus berjibaku menggunakan alat berat untuk mengeluarkan badan minibus yang ringsek parah dari kolong truk tronton. Bodi kendaraan yang menyatu menghambat upaya penyelamatan korban yang terjepit. Arus lalu lintas di jalur Pantura sempat lumpuh total selama hampir empat jam. Petugas memberlakukan sistem buka-tutup dan mengalihkan kendaraan kecil ke jalur alternatif.

“Kami kesulitan mengevakuasi korban karena posisi kendaraan yang saling bertumpuk. Tiga korban terakhir berhasil dikeluarkan sekitar pukul 07.00 WIB setelah kami memotong rangka minibus,” kata Danru Basarnas Indramayu, Mulyadi. Hingga siang hari, petugas masih membersihkan serpihan dan mengevakuasi truk tangki yang bermuatan premium.

Keselamatan Jalur Pantura Kembali Disorot

Kecelakaan ini menambah daftar panjang tragedi di jalur Pantura. Data Ditjen Perhubungan Darat mencatat, sepanjang tahun 2025 hingga Oktober, terjadi lebih dari 1.200 kecelakaan lalu lintas di sepanjang Pantura, menewaskan hampir 400 orang. Faktor utama: kelelahan pengemudi, kendaraan ODOL (Over Dimension Over Loading), dan infrastruktur jalan yang minim penerangan.

Menanggapi kejadian ini, Kepala Dinas Perhubungan Jawa Barat, Asep Kusuma, kembali menyerukan perlunya regulasi ketat terhadap kendaraan barang. “Ini bukan sekadar kecelakaan, ini pembunuhan massal akibat kelalaian. Kami mendesak penegakan hukum tegas terhadap pemilik kendaraan yang memaksakan operasi dengan kondisi tidak laik jalan,” tegasnya.

Polres Indramayu telah menetapkan sopir truk tronton sebagai tersangka dan mengancam dengan pasal berlapis, termasuk UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan serta pasal kelalaian yang menyebabkan kematian. Polisi juga menyelidiki pemilik truk dan perusahaan angkutan terkait dugaan pelanggaran administrasi dan teknis.

Sementara itu, warga sekitar menggelar doa bersama di lokasi kejadian. Sebuah spanduk putih bertuliskan “Hati-hati di Pantura, Nyawa Taruhannya” dibentangkan sebagai pengingat bagi setiap pengguna jalan yang melintas. Tragedi ini sekaligus menjadi pengingat pahit bahwa di balik riuhnya pesta, maut bisa mengintai di tikungan jalan.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lidia-susanto

Reporter Olahraga Wanita. Fokus pada atlet perempuan dan kesetaraan gender dalam olahraga.

Comments (0)

User