Kemendukbangga Luncurkan GAMAS, Perkuat Peran Ayah di Indonesia

Data terbaru menunjukkan sekitar satu dari empat anak di Indonesia tumbuh tanpa kehadiran aktif figur ayah dalam keseharian mereka. Kondisi ini bukan sekadar ketiadaan fisik, melainkan absennya keterl...

Data terbaru menunjukkan sekitar satu dari empat anak di Indonesia tumbuh tanpa kehadiran aktif figur ayah dalam keseharian mereka. Kondisi ini bukan sekadar ketiadaan fisik, melainkan absennya keterlibatan emosional dan partisipasi dalam pengasuhan yang dikenal sebagai fatherless. Menyikapi realitas itu, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemendukbangga) menginisiasi sebuah gerakan nasional bernama GAMAS yang secara khusus memperkuat peran ayah dalam pembentukan karakter anak.

Fenomena Fatherless yang Mengkhawatirkan

Angka 25 persen yang diungkap oleh Menteri Wihaji menggambarkan betapa masifnya persoalan ini. Fatherless tidak selalu berarti anak yatim piatu atau ditinggalkan secara hukum; lebih sering, ayah hadir secara biologis namun tidak membangun ikatan pengasuhan. Kesibukan kerja, tekanan ekonomi, atau minimnya pemahaman tentang peran ayah yang modern menjadi pemicu utama. Dampaknya, anak-anak kehilangan model kepemimpinan, ketegasan, dan kehangatan maskulin yang penting untuk tumbuh seimbang.

Studi di berbagai negara mengaitkan fatherless dengan peningkatan risiko kenakalan remaja, masalah kesehatan mental, hingga rendahnya prestasi akademik. Di Indonesia, fenomena ini semakin mendapat sorotan setelah pandemi memaksa banyak keluarga menjalani dinamika baru di dalam rumah, sekaligus membuka mata bahwa keterlibatan ayah masih jauh dari ideal.

GAMAS: Bukan Sekadar Kampanye, tapi Gerakan Nyata

GAMAS, akronim dari Gerakan Ayah Hebat Masa Kini, dirancang sebagai program intervensi menyeluruh. Tidak hanya berupa slogan atau seminar satu arah, gerakan ini menyentuh tiga ranah utama: edukasi, pendampingan komunitas, dan kebijakan ramah ayah. Kemendukbangga menyadari bahwa memperkuat peran ayah harus dimulai dari pemahaman bahwa mengasuh adalah tanggung jawab bersama, bukan beban ibu semata.

Program ini akan menjangkau pusat-pusat kegiatan masyarakat, tempat kerja, dan sekolah melalui modul praktis. Ayah-ayah diajak terlibat dalam aktivitas sederhana seperti mendongeng, membantu pekerjaan rumah bersama anak, hingga sesi konseling yang membahas komunikasi efektif. Pendekatan ini sengaja praktis agar mudah direplikasi di berbagai latar belakang sosial dan ekonomi.

Mengapa Ayah Menjadi Titik Kunci?

Penelitian psikologi perkembangan menegaskan bahwa ayah membawa warna unik dalam pengasuhan. Interaksi ayah yang penuh spontanitas merangsang kemampuan kognitif dan keberanian anak untuk mengeksplorasi lingkungan. Sementara itu, kedisiplinan dan ketegasan yang dibangun ayah menanamkan struktur nilai yang jelas. Ketika dua kutub kasih sayang ibu dan tantangan ayah berpadu, anak memperoleh fondasi resiliensi yang kokoh.

Namun di banyak keluarga Indonesia, ayah masih diposisikan sebagai pencari nafkah utama yang "turun tangan" hanya pada momen tertentu. GAMAS ingin mengubah paradigma tersebut dengan mendorong ayah untuk hadir lebih awal bahkan sejak masa kehamilan istri, membangun apa yang disebut sebagai "pengasuhan responsif" sejak hari pertama. Data awal yang dikumpulkan Kemendukbangga menunjukkan bahwa perusahaan yang menerapkan cuti ayah berbayar melaporkan peningkatan produktivitas karena karyawan merasa lebih dihargai dan memiliki keseimbangan emosi yang lebih baik.

Strategi Implementasi dan Target Dampak

Pada tahap pertama, GAMAS akan diluncurkan di 50 kota dan kabupaten dengan prevalensi fatherless tertinggi. Pelaksanaannya melibatkan fasilitator terlatih, psikolog, dan kader-kader posyandu yang sudah diperkuat kapasitasnya. Setiap lokasi akan membentuk "Komunitas Ayah Tangguh" sebagai ruang berbagi pengalaman dan saling menguatkan. Target jangka pendeknya adalah menurunkan persentase fatherless hingga 5 poin dalam tiga tahun, sambil membangun basis data partisipasi ayah di tingkat desa.

Pemerintah juga tengah menyiapkan regulasi pendukung, seperti perluasan akses cuti ayah dan insentif bagi perusahaan yang menyediakan fasilitas ramah keluarga. "Kami ingin menggeser ukuran sukses seorang ayah dari semata-mata penghasilan menjadi kehadiran yang bermakna," demikian pesan yang disampaikan dalam peresmian program. Seluruh materi edukasi GAMAS tersedia gratis secara daring, lengkap dengan panduan aktivitas harian yang dapat diakses melalui aplikasi parenting resmi Kemendukbangga.

Harapan untuk Generasi Mendatang

Gerakan ini menjadi titik balik penting dalam kebijakan keluarga di Indonesia. Dengan menggarisbawahi peran ayah, GAMAS tidak hanya melindungi anak dari dampak fatherless, tetapi juga membangun struktur keluarga yang lebih setara. Ketika ayah dan ibu berbagi peran pengasuhan, beban domestik yang selama ini bertumpu pada perempuan dapat terdistribusi lebih adil, membuka peluang lebih besar bagi ibu untuk berkembang di ruang publik.

Langkah Kemendukbangga ini menyadarkan bahwa modernisasi pengasuhan adalah keniscayaan. Di tengah dunia yang serba cepat, perlindungan terbaik bagi anak justru datang dari hal paling sederhana: kehadiran ayah yang bukan hanya memberi nafkah, tetapi juga hadir, mendengar, dan bermain bersama. Jika gerakan ini berjalan konsisten, bukan tidak mungkin dalam satu dekade mendatang istilah fatherless akan menjadi catatan masa lalu, digantikan oleh gambaran ayah-ayah Indonesia yang bangga menjalani peran pengasuhan sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas mereka.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
suwandi-tan

Editor Olahraga. Mantan jurnalis olahraga cetak. Meliput Piala Dunia 3 edisi.

Comments (0)

User