Tim SAR Sisir Habitat Buaya Cari Remaja Hilang di Tanah Bumbu
Operasi pencarian terhadap seorang remaja laki-laki berusia 15 tahun yang dilaporkan hilang setelah diduga menjadi korban terkaman buaya di wilayah Desa Karang Bintang, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimant...
Operasi pencarian terhadap seorang remaja laki-laki berusia 15 tahun yang dilaporkan hilang setelah diduga menjadi korban terkaman buaya di wilayah Desa Karang Bintang, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, terus diperluas. Tim SAR gabungan yang terdiri dari personel Basarnas, TNI, Polri, serta relawan masyarakat setempat dikerahkan menyusuri kawasan perairan yang dikenal sebagai habitat alami reptil predator tersebut.
Peristiwa nahas ini terjadi pada Minggu sore saat korban bersama beberapa rekannya diduga tengah beraktivitas di tepi sungai. Berdasarkan keterangan saksi, remaja itu tiba-tiba diseret ke dalam air oleh seekor buaya berukuran besar. Upaya pertolongan yang dilakukan warga sekitar tidak membuahkan hasil, sehingga laporan segera disampaikan ke pihak berwenang untuk meminta bantuan pencarian.
Operasi SAR Dikerahkan Kurang dari Satu Jam
Komandan Tim SAR gabungan, melalui keterangan resmi yang diterima awak media, menyatakan bahwa begitu menerima laporan, tim langsung bergerak menuju titik lokasi kejadian. Waktu tempuh yang singkat itu dimanfaatkan untuk mendirikan posko sementara dan melakukan asesmen awal terhadap medan. Kawasan perairan di Desa Karang Bintang memiliki karakteristik berupa sungai dengan arus tenang namun dikelilingi vegetasi rawa dan nipah yang menjadi tempat persembunyian ideal bagi buaya muara.
Pencarian pada hari pertama difokuskan pada radius 500 meter dari lokasi korban terakhir terlihat. Tim menggunakan perahu karet dan melakukan penyisiran di permukaan air, sementara penyelam dari unit SAR diterjunkan untuk memeriksa bagian dasar sungai yang memiliki kedalaman bervariasi antara 3 hingga 7 meter. Selain itu, drone thermal juga dikerahkan untuk mendeteksi tanda-tanda keberadaan korban dari udara, terutama saat malam hari ketika suhu tubuh masih mungkin tertangkap sensor.
Konflik Buaya dan Manusia di Tanah Bumbu
Wilayah pesisir dan aliran sungai di Kabupaten Tanah Bumbu memang telah lama menjadi zona rawan interaksi negatif antara manusia dan buaya. Data dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan mencatat, setidaknya terjadi empat insiden serupa dalam kurun dua tahun terakhir di daerah ini. Pertambahan jumlah penduduk yang memanfaatkan sungai untuk mandi, mencuci, hingga mencari ikan, ditambah dengan penyempitan habitat buaya akibat alih fungsi lahan, meningkatkan probabilitas pertemuan yang berujung fatal.
Kepala BKSDA setempat, dalam kesempatan terpisah, mengimbau warga untuk tidak beraktivitas sendirian di perairan yang diketahui menjadi lintasan buaya, terutama pada waktu-waktu tertentu seperti pagi dan senja hari ketika hewan tersebut cenderung lebih aktif berburu. Ia juga menekankan bahwa buaya muara yang mendiami sungai-sungai di Kalimantan Selatan merupakan spesies dilindungi, sehingga upaya mitigasi konflik harus mengedepankan pendekatan non-letal, seperti pemasangan papan peringatan, patroli pengusiran, serta relokasi buaya bermasalah ke pusat rehabilitasi.
Tantangan Medan dan Cuaca
Operasi SAR menghadapi sejumlah kendala di lapangan. Curah hujan dengan intensitas sedang yang turun pada sore hari menyebabkan debit air sungai meningkat dan jarak pandang penyelam berkurang drastis. Tim harus ekstra hati-hati karena arus bawah air bisa bergeser secara tiba-tiba. Tidak hanya itu, keberadaan buaya lain di sekitar lokasi pencarian membuat personel harus selalu berada dalam pengawalan ketat saat menyelam atau menyisir rawa.
Masyarakat desa turut dilibatkan dalam pencarian dengan menyisir tepian sungai menggunakan peralatan tradisional. Beberapa warga yang telah bertahun-tahun mengenal perilaku buaya di sungai tersebut memberikan informasi titik-titik yang sering dijadikan tempat berjemur atau bersarang, yang kemudian dijadikan prioritas oleh tim SAR. Hingga berita ini diturunkan, operasi masih terus berlangsung dan belum ada tanda-tanda keberadaan korban ditemukan.
Pihak keluarga korban yang menunggu di posko dengan cemas berharap keajaiban. Tim SAR menyatakan akan melanjutkan pencarian sesuai prosedur standar operasi yang berlaku, dengan kemungkinan memperluas area pencarian ke arah hilir jika dalam tiga hari korban belum juga ditemukan. Segala perkembangan akan disampaikan secara berkala kepada publik melalui pusat informasi yang dibuka di kantor desa setempat.
Baca juga:
Comments (0)