Sastra Jatim Telusuri Relasi Kota dan Puisi melalui Arsip Dewan Kesenian

SURABAYA — Ruang arsip Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJ) siang itu berubah menjadi laboratorium kata. Tim penelusur sejarah kesusastraan dari program Praktik

Sastra Jatim Telusuri Relasi Kota dan Puisi melalui Arsip Dewan Kesenian

SURABAYA — Ruang arsip Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJ) siang itu berubah menjadi laboratorium kata. Tim penelusur sejarah kesusastraan dari program Praktik Kerja Lapangan (PKL) bersama Bapak Luhur Kayungga, sastrawan dan pegiat dokumentasi sastra, menyelami tumpukan kliping, manuskrip, dan lembaran lawas yang merekam denyut kepenyairan Jawa Timur. Fokus mereka: membaca kembali bagaimana kota—sebagai ruang urban yang terus berubah—telah menjadi “tubuh” dari puisi-puisi para penyair Jatim selama lima dekade terakhir.

Penelusuran ini merupakan bagian dari upaya DKJ mendigitalisasi dan mengontekstualisasi ulang arsip sastra daerah. Namun, lebih dari sekadar pemindaian, Luhur Kayungga menekankan pentingnya melihat kota tidak semata-mata sebagai latar geografis, melainkan sebagai subjek liris yang hidup. “Kota tidak hanya dibangun oleh beton, tetapi juga oleh metafora,” ujarnya di sela penelusuran. Ia mencontohkan bagaimana Surabaya, Malang, Jember, hingga Banyuwangi hadir dalam puisi bukan sebagai nama, melainkan sebagai struktur rasa—dari aroma asap pabrik di Rungkut hingga bunyi langkah kaki di trotoar Kayutangan.

Dari hasil inventarisasi sementara, tim mencatat lebih dari 320 judul puisi yang secara eksplisit atau implisit berdialog dengan ruang urban dalam korpus puisi Jatim periode 1970–2024. Angka ini diyakini baru permukaan, mengingat banyak karya tersebar di buletin kampus, majalah komunitas, dan media sosial yang belum tercakup dalam katalog resmi.

Kota sebagai Ruang Hidup dan Luka Puisi

Analisis awal menunjukkan bahwa representasi kota dalam puisi Jatim bergeser seiring transformasi sosial. Pada era 1970-an hingga 1980-an, puisi bertema urban cenderung merekam ketegangan antara tradisi dan modernitas—sawah yang tergusur, lorong kampung yang menyempit. Memasuki 1990-an, wajah kota tampil lebih industri: kontras gedung kaca dan permukiman padat, suara mesin jahit dan deru kereta. Pasca-reformasi hingga kini, puisi urban Jatim kian intim, mengeksplorasi relasi personal dengan ruang—kafe, jalan tol, stasiun, bahkan layar gawai sebagai “kota baru”.

“Kota adalah metafora yang hidup, setiap trotoar adalah baris puisi yang menunggu dibaca,” ujar Luhur Kayungga. Ia menambahkan, penyair Jatim seperti Zawawi Imron, W.H. Arifin, hingga generasi milenial seperti Raka Ibrahim dan Diah Hadaning banyak menjadikan elemen urban sebagai cara untuk merespons isu-isu seperti ketimpangan, ekologi, dan keterasingan.

Data yang dihimpun dari katalog DKJ dan inventarisasi komunitas menunjukkan distribusi tematik yang menarik:

Kota Tema Dominan dalam Puisi Jumlah Puisi Tercatat (1970–2024)
Surabaya Industrialisasi, perlawanan, sejarah 142
Malang Kenangan kolonial, romansa, kampus 89
Jember Urbanisasi kecil, kebun, migrasi 51
Banyuwangi Perbatasan, mitos, laut 38
Total 320

Sumber: Inventarisasi awal tim PKL Sejarah Kesusastraan – DKJ (data belum final).

Dari tabel di atas, Surabaya jelas mendominasi sebagai ruang paling gelisah dalam puisi. Namun, menurut Luhur, karakter setiap kota melahirkan diksi yang unik: Malang dengan embun dan tremnya, Jember dengan tanah dan pasar malamnya, Banyuwangi dengan mitos laut dan gandrung. Ini menunjukkan bahwa lanskap urban bukan sekadar inspirasi, melainkan bagian dari kosakata estetik penyair Jatim.

Arsip Digital untuk Masa Depan Sastra Urban

DKJ berencana merilis arsip digital tematik “Puisi dan Kota” pada akhir tahun ini, lengkap dengan metadata, konteks sejarah, dan wawancara penyair. Proyek ini melibatkan mahasiswa dari berbagai universitas di Jatim, termasuk peserta PKL yang saat ini melakukan penelusuran. Harapannya, arsip ini bisa menjadi bahan baku penelitian, kurikulum, hingga pameran interaktif yang menghubungkan sastra dengan tata kota.

Luhur menegaskan bahwa memahami kota melalui puisi adalah cara lain untuk membaca kebijakan dan ruang publik. “Ketika seorang penyair menulis tentang trotoar yang hilang, ia sedang merekam hak pejalan kaki yang tergerus. Puisi bisa menjadi arsip alternatif untuk kritik kota,” katanya.

Proyek ini sekaligus merespons fenomena menurunnya minat baca puisi cetak, dengan menghadirkan antologi digital yang bisa diakses publik secara gratis. Lebih dari 60% karya yang ditemukan dalam penelusuran ini belum pernah diterbitkan dalam bentuk buku, melainkan tersimpan di rilisan komunitas, blog lama, atau arsip pribadi yang kini mulai didigitalkan.

Dalam sesi diskusi singkat usai penelusuran, peserta PKL mengungkapkan bagaimana kota tempat mereka tinggal tiba-tiba terasa berbeda setelah membaca puisi yang menamainya. “Saya melewati Jalan Tunjungan setiap hari, tapi setelah baca sajak ‘Tunjungan 1998’, saya melihatnya sebagai saksi sejarah, bukan sekadar pusat perbelanjaan,” kata salah satu peserta dari Unesa.

Dengan langkah ini, Dewan Kesenian Jawa Timur berharap bisa membangun jembatan antara masa lalu literal Jatim dan masa depan urban yang tetap memiliki ruh. Sebab, kata Luhur Kayungga menutup, “Kota yang tidak lagi melahirkan puisi adalah kota yang kehilangan kesadarannya.”

[SOCIAL_TWEET]: Menelusuri arsip DKJ, tim peneliti membaca kembali bagaimana kota-kota Jatim menjadi tubuh puisi. Surabaya, Malang, Jember—setiap sudut trotoar adalah baris sajak. Sebuah proyek digitalisasi sastra urban dimulai. #puisiJatim #sastraurban https://terdepan.id/ketika-kota-menjadi-tubuh-puisi [SOCIAL_TG]: 📜 Laporan dari Ruang Arsip DKJ: Sebuah tim penelusuran sejarah sastra menemukan lebih dari 320 puisi berdialog dengan wajah urban Jawa Timur. Dari aroma Rungkut hingga langkah kaki di Kayutangan, kota menjadi tubuh puisi. Proyek arsip digital segera dirilis akhir tahun. Selengkapnya: https://terdepan.id/ketika-kota-menjadi-tubuh-puisi

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User