Petani Tasikmalaya Andalkan Biopori untuk Atasi Ancaman Kekeringan

Memasuki puncak musim kemarau, bayang-bayang kekeringan kembali menghantui ribuan petani di Kabupaten Tasikmalaya. Luas lahan pertanian yang terancam gagal panen bisa mencapai angka yang mengkhawatirk...

Memasuki puncak musim kemarau, bayang-bayang kekeringan kembali menghantui ribuan petani di Kabupaten Tasikmalaya. Luas lahan pertanian yang terancam gagal panen bisa mencapai angka yang mengkhawatirkan jika tidak ada upaya mitigasi serius. Namun, kali ini ada harapan baru: teknologi sederhana bernama biopori. Lubang resapan yang ramah lingkungan ini digadang-gadang mampu menjadi penyelamat produktivitas lahan di tengah minimnya curah hujan.

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian setempat, dalam tiga tahun terakhir setidaknya 1.500 hektare lahan sawah tadah hujan di wilayah Tasikmalaya bagian selatan selalu bergulat dengan kekeringan ekstrem saat kemarau panjang. Tahun lalu, kerugian akibat gagal tanam dan panen ditaksir mencapai puluhan miliar rupiah. Menyadari urgensi tersebut, pemerintah daerah bersama penyuluh pertanian menggencarkan pembuatan biopori sebagai strategi memanen air hujan dan menjaga kelembaban tanah hingga ke akar tanaman.

Apa Itu Biopori dan Mekanismenya?

Secara teknis, biopori adalah lubang vertikal berdiameter sekitar 10 sentimeter yang digali hingga kedalaman 1-2 meter ke dalam tanah. Lubang ini kemudian diisi dengan sampah organik seperti daun kering, ranting, atau sisa panen. Materi organik tersebut akan membusuk dan menjadi habitat bagi cacing tanah serta mikroorganisme, menciptakan pori-pori alami di sekitarnya. Ibarat seperti spons raksasa, biopori meningkatkan kapasitas tanah menyerap air secara signifikan. Ketika hujan turun—meski hanya gerimis—air tidak langsung mengalir sebagai limpasan permukaan, melainkan meresap ke dalam tanah melalui pori-pori tersebut dan mengisi kembali cadangan air bawah tanah (akifer).

Profesor Lingkungan dari Universitas Padjadjaran menjelaskan, "Satu lubang biopori dapat menampung 15 hingga 20 liter air hujan per jam. Dalam skala lahan satu hektare dengan 100 titik biopori, akumulasi resapan airnya setara dengan ribuan meter kubik per musim." Teknologi ini disebut mampu menaikkan muka air tanah sekaligus menjaga kelembaban zona perakaran pada kedalaman 30-50 cm, area kritis tempat padi menyerap nutrisi.

Langkah Konkret di Lapangan

Di Desa Sukamaju, Kecamatan Cigalontang, para petani sudah mulai bergerak. Mereka mengikuti pelatihan intensif yang digelar oleh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) tentang cara pembuatan biopori yang tepat. Setiap petani diminta membuat minimal 30 lubang biopori di pematang sawah atau di sela-sela bedengan tanaman palawija. Bahan organik pengisi diperoleh langsung dari lingkungan sekitar: jerami sisa panen, serasah daun, dan limbah rumah tangga. "Dulu kami hanya pasrah menunggu hujan. Sekarang kami diajari untuk memegang kendali terhadap air yang ada di tanah," ujar Ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki.

Selain itu, penempatan biopori disesuaikan dengan kontur lahan. Lubang difokuskan di titik-titik aliran limpasan, seperti dekat saluran air dan sudut petakan sawah yang paling cepat mengering. Beberapa petani bahkan mengkombinasikannya dengan sumur resapan dangkal untuk mengoptimalkan tangkapan air. Kunci keberhasilannya terletak pada kedalaman yang menembus lapisan kedap air (biasanya 1,5 m) dan pasokan bahan organik yang dijaga terus menerus.

Manfaat Lebih dari Sekadar Penampung Air

Biopori tidak hanya berfungsi sebagai pengumpul air. Proses dekomposisi material organik di dalamnya menghasilkan kompos alami yang kaya hara. Ketika musim tanam tiba, cacing dan bakteri dalam biopori akan menyebarkan nutrisi ke lapisan tanah atas, mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia sintetis. Beberapa penelitian menunjukkan kandungan nitrogen dan fosfor tanah di sekitar biopori meningkat hingga 30% dibandingkan area tanpa perlakuan.

Ekosistem bawah tanah pun ikut pulih. Populasi cacing tanah—indikator utama kesuburan—melonjak drastis setelah dua musim kemarau berjalan, menandakan perbaikan struktur fisik tanah. Tanah menjadi lebih gembur, akar tanaman mampu menembus lebih dalam, dan tanaman lebih tahan terhadap stres kekeringan. Jadi, biopori sebenarnya adalah investasi multi-manfaat: konservasi air, pengomposan, dan rehabilitasi biologis tanah sekaligus.

Data dan Harapan Hasil

Proyeksi optimistis dari Dinas Pertanian Tasikmalaya menyebutkan bahwa jika 500 hektare lahan kering menerapkan biopori dengan kerapatan 100 lubang per hektare, maka potensi kehilangan hasil panen bisa ditekan hingga 40%. Angka ini diambil dari pengalaman serupa di daerah lain di Jawa Barat yang lebih dulu menerapkan teknik serupa. Meskipun bukan solusi instan, biopori diyakini sebagai komponen penting dalam sistem pertanian berkelanjutan di era perubahan iklim.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya dalam forum koordinasi menyatakan, "Kami tidak bisa mencegah musim kemarau, tetapi kami bisa mempersenjatai petani dengan teknologi tepat guna. Biopori adalah salah satu yang paling murah, mudah, dan langsung bermanfaat." Musim kemarau tahun ini akan menjadi ujian pertama adopsi massal biopori. Jika berhasil, Tasikmalaya akan menjadi percontohan bagi daerah-daerah lain yang setiap tahun terpaksa menelan pil pahit gagal panen akibat minimnya air.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fahmi-reza

Reporter MotoGP/Formula 1. Meliput balapan motor dan mobil internasional.

Comments (0)

User