Pasar AR-VR Global Diprediksi Capai Rp580 Triliun pada 2026
Jakarta, Terdepan.id — Penggunaan teknologi Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR) dalam operasional bisnis terus meningkat signifikan di tengah percepatan transformasi digital global. Berbag
Jakarta, Terdepan.id — Penggunaan teknologi Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR) dalam operasional bisnis terus meningkat signifikan di tengah percepatan transformasi digital global. Berbagai sektor industri mulai mengadopsi kedua teknologi ini untuk meningkatkan efisiensi dan pengalaman pelanggan.
Pertumbuhan Pasar yang Agresif
Research and Markets memproyeksikan pasar AR-VR global akan mencapai USD 38,8 miliar atau sekitar Rp580 triliun pada 2026, tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) mencapai 30,2 persen sejak 2021. Lonjakan ini didorong oleh kebutuhan bisnis terhadap solusi visualisasi data dan simulasi operasional.
Di Indonesia sendiri, Asosiasi Real Estat Indonesia (ARESI) mencatat adopsi AR dalam pemasaran properti naik 47 persen sepanjang 2025. Developer properti besar seperti Ciputra Group dan PP Properti telah mengintegrasikan tur virtual 360 derajat dalam strategi penjualan mereka.
Sektor Manufaktur dan Kesehatan Terdepan
Deloitte dalam laporan 2025 Technology Trends melaporkan bahwa 65 persen perusahaan manufaktur di Asia Tenggara sudah menerapkan AR untuk keperluan maintenance dan quality control. Teknologi ini memungkinkan teknisi melihat panduan perbaikan langsung pada mesin melalui headset AR.
Sektor kesehatan juga menjadi penyerap utama. International Data Corporation (IDC) mencatat penggunaan VR dalam pelatihan medis meningkat 52 persen year-on-year pada 2025. Rumah Sakit Mitra Keluarga dan Siloam Group menjadi pelopor penerapan simulasi operasi berbasis VR untuk pelatihan dokter.
Tantangan dan Prospek
Meski pertumbuhan pesat, McKinsey & Company mengidentifikasi tiga hambatan utama adopsi AR-VR di Indonesia: biaya perangkat yang masih tinggi, keterbatasan infrastruktur jaringan 5G, serta kurangnya talenta digital yang mampu mengembangkan konten immersive.
Industri game dan hiburan digital juga berkontribusi signifikan. Statista memproyeksikan pendapatan dari konten VR di Asia Tenggara akan mencapai USD 1,2 miliar pada akhir 2026, dengan Indonesia menyumbang sekitar 22 persen dari total regional.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Digital telah mengalokasikan anggaran Rp2,3 triliun untuk pengembangan ekosistem extended reality (XR) dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. Langkah ini diharapkan mampu mempercepat penetrasi AR-VR di berbagai sektor strategis nasional.
Berdasarkan data dan analisis terkini, tren augmented reality dan virtual reality dalam bisnis menunjukkan dinamika yang signifikan di pasar Indonesia. Para pelaku industri dan pemangku kepentingan terus mencermati perkembangan ini untuk mengambil langkah strategis yang tepat.
Ke depan, para analis memperkirakan pertumbuhan yang berkelanjutan di sektor ini seiring dengan meningkatnya adopsi teknologi dan kesadaran masyarakat. Pemerintah juga terus mendorong regulasi yang mendukung iklim bisnis yang kondusif.
Comments (0)