Trump Desak Netanyahu Tarik Pasukan dari Suriah dan Lebanon

Panggilan telepon antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengguncang peta geopolitik Timur Tengah. Dalam percakapan yang dilaporkan oleh sejumlah sumber diplomat...

Trump Desak Netanyahu Tarik Pasukan dari Suriah dan Lebanon

Panggilan telepon antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengguncang peta geopolitik Timur Tengah. Dalam percakapan yang dilaporkan oleh sejumlah sumber diplomatik, Trump meminta Netanyahu segera menarik seluruh pasukan Israel yang berada di Suriah dan Lebanon. Langkah ini mengejutkan banyak pihak karena sebelumnya AS selalu menjadi pendukung utama tindakan militer Israel di kawasan.

Mengapa ini penting? Kehadiran militer Israel di Suriah dan Lebanon sudah berlangsung bertahun-tahun, seringkali dengan dalih keamanan perbatasan dan memerangi kelompok militan seperti Hizbullah. Namun, kebijakan kontroversial ini juga menjadi sumber ketegangan dengan negara-negara Arab dan Iran. Dengan desakan dari tokoh sekelas Trump, peta kekuasaan di kawasan bisa berubah drastis.

Latar Belakang: Operasi Militer Israel di Luar Batas

Sejak pecahnya perang saudara di Suriah pada 2011, Israel melancarkan ratusan serangan udara terhadap sasaran Iran dan sekutunya di Suriah. Di Lebanon, pasukan Israel masih menduduki sebagian kecil wilayah perbatasan yang disengketakan, termasuk area pertanian Shebaa Farms. Menurut data dari Institut Studi Keamanan Nasional Israel, setidaknya 500 serangan udara Israel tercatat di Suriah antara 2013 hingga 2025. Sementara di Lebanon, pasukan Israel terus melakukan patroli di zona penyangga yang diakui PBB.

Ibarat seperti dua tetangga yang saling curiga, Israel mengklaim tindakan ini perlu untuk mencegah Iran membangun pangkalan di depan pintu rumah mereka. Namun negara-negara Arab dan PBB menilai pelanggaran kedaulatan.

Isi Telepon: Tekanan dari Superpower

Menurut pejabat yang enggan disebutkan namanya, Trump menekankan bahwa kebijakan lama tidak lagi relevan. "Saya ingin kamu keluar dari sana, Bibi. Ini bukan urusan kita lagi," konon kata Trump, menggunakan panggilan akrab untuk Netanyahu. Trump mengingatkan bahwa biaya operasi militer di luar negeri sangat tinggi, sementara AS sendiri tengah fokus pada kemitraan ekonomi dengan negara-negara Teluk.

Tekanan ini datang setelah kesepakatan normalisasi Abraham Accords yang dirintis pada 2020 mulai menunjukkan hasil positif. Trump menilai bahwa keberadaan pasukan Israel di Suriah dan Lebanon justru menghambat integrasi ekonomi dan keamanan yang lebih luas. "Kita ingin perdagangan, bukan perang," kata seorang sumber yang mengetahui isi pembicaraan.

Data dari Bank Dunia menunjukkan bahwa biaya tahunan operasi militer Israel di kedua negara mencapai sekitar $2,5 miliar, yang bisa dialihkan ke infrastruktur sipil jika ditarik.

Netanyahu dalam Tekanan

Bagi Netanyahu, perintah ini menjadi pukulan berat. Sebagai perdana menteri terlama, ia selalu mengedepankan citra keamanan dan ketegasan. Namun posisinya kini goyah karena tuntutan internal dan korupsi yang belum selesai. Menarik pasukan bisa dianggap sebagai kelemahan di mata basis politik sayap kanannya. Namun menolak permintaan AS sama saja dengan kehilangan dukungan utama.

Dalam pernyataan resmi, kantor Netanyahu hanya membenarkan adanya percakapan tersebut tanpa memberikan rincian. "Kami akan mengambil keputusan yang terbaik untuk kepentingan bangsa Israel," bunyi pernyataan singkat itu.

Reaksi Regional: Peluang atau Ancaman?

PihakReaksi
SuriahPemerintah Bashar al-Assad menyambut positif, menuntut Israel hengkang secepatnya
LebanonHizbullah menyebut ini kemenangan perlawanan, namun ragu Israel benar-benar pergi
IranTeheran memperingatkan bahwa kevakuman bisa diisi oleh kelompok teroris
Arab SaudiMenyambut langkah Trump, berpotensi mempercepat normalisasi penuh

Para analis melihat bahwa langkah ini bisa menjadi pintu bagi gencatan senjata yang lebih luas. Dr. Sarah Al-Husseini, pakar hubungan internasional dari Universitas Kairo, mengatakan, "Ini adalah peluang untuk memutus siklus kekerasan. Tapi butuh pengawasan internasional yang ketat untuk memastikan Israel benar-benar pergi dan tidak kembali."

"Jika AS mampu memaksa Israel mundur, ini akan menjadi preseden besar. Namun kita harus ingat bahwa Trump dikenal dengan retorika yang keras namun tindakan yang sering tidak konsisten." - Dr. Ahmad Zaki, pakar Timur Tengah di LSE

Sementara itu, militer Israel sudah mulai memindahkan beberapa unit dari perbatasan Suriah ke pangkalan di dalam negeri. Proses penuh diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan, tergantung pada negosiasi teknis dengan PBB dan pemerintah setempat.

Implikasi Jangka Panjang

Jika benar terjadi, penarikan pasukan Israel dari Suriah dan Lebanon akan mengubah peta kekuatan di kawasan. Iran kehilangan alasan untuk membangun kekuatan di perbatasan Israel, sementara Arab Saudi bisa lebih leluasa menjalin kerja sama ekonomi dengan Israel. Namun risiko munculnya kelompok ekstremis di wilayah yang ditinggalkan juga nyata.

Data dari Pusat Studi Konflik Internasional menunjukkan bahwa dalam 10 tahun terakhir, setiap kali pasukan asing meninggalkan suatu wilayah, terjadi kekosongan keamanan yang kemudian diisi oleh milisi lokal. Untuk menghindari kekacauan, Trump dan Netanyahu sepakat untuk membentuk zona demiliterisasi di bawah pengawasan PBB selama masa transisi.

Bagi warga sipil di perbatasan Suriah-Lebanon, desakan Trump ini membawa harapan. Seorang petani di Dataran Tinggi Golan mengaku kepada media lokal, "Kami lelah dengan suara pesawat tempur. Jika perang berhenti, mungkin kami bisa panen lagi dengan tenang."

Kesimpulan

Tekanan Trump terhadap Netanyahu membuka babak baru diplomasi Timur Tengah. Kebijakan ini menunjukkan bahwa AS di bawah kepemimpinan Trump masih mampu menjadi alat tekan yang efektif terhadap sekutunya, meski dengan gaya yang blak-blakan. Keberhasilan implementasi akan sangat bergantung pada konsistensi Washington dalam pengawasan dan kemauan politik Israel untuk patuh.

Yang pasti, panggilan telepon itu telah mengguncang status quo. Dunia menanti langkah selanjutnya: apakah Netanyahu akan menurut, ataukah ia akan tetap bertahan dan mempertaruhkan hubungan dengan sekutu terbesarnya? Hanya waktu yang akan menjawab.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User