IoT Dorong Transformasi Smart City Indonesia, Investasi Capai Rp5 Triliun

Pemanfaatan Internet of Things (IoT) dalam pengembangan kota pintar atau smart city di Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan yang pesat. Berdasarkan laporan terbaru Asosiasi IoT Indonesia (AII), nila

IoT Dorong Transformasi Smart City Indonesia, Investasi Capai Rp5 Triliun

Pemanfaatan Internet of Things (IoT) dalam pengembangan kota pintar atau smart city di Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan yang pesat. Berdasarkan laporan terbaru Asosiasi IoT Indonesia (AII), nilai pasar IoT untuk sektor perkotaan nasional diproyeksikan mencapai Rp5 triliun pada 2026, melonjak 35% dari tahun sebelumnya yang hanya sekitar Rp3,7 triliun.

Peningkatan ini didorong oleh percepatan digitalisasi layanan publik di sejumlah daerah. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mencatat, per 2025 tercatat lebih dari 37 kabupaten/kota telah mengintegrasikan sistem IoT dalam manajemen lalu lintas, pengelolaan sampah, serta pemantauan kualitas udara. Kota-kota seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Makassar menjadi pelopor dengan menyebarkan ribuan sensor dan perangkat terhubung. Pemerintah pusat juga memasukkan pengembangan smart city dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. Melalui Gerakan Menuju 100 Smart City, Kominfo mendorong integrasi IoT untuk optimalisasi transportasi publik, pengelolaan banjir, dan keamanan siber perkotaan. Hingga 2026, setidaknya 50 kota ditargetkan memiliki smart city blueprint berbasis sensor dan big data analytics.

Investasi dan Proyek Percontohan

Beberapa proyek percontohan menunjukkan hasil konkret. Di Bandung, pemasangan 2.000 sensor parkir cerdas dan lampu jalan adaptif berhasil menekan kemacetan hingga 15% serta menghemat konsumsi energi listrik sebesar 20%, menurut data Dinas Perhubungan setempat. Sementara itu, DKI Jakarta mengalokasikan anggaran Rp1,2 triliun dalam APBD 2026 untuk memperluas jaringan smart water management berbasis IoT guna menekan tingkat kebocoran air.

Swasta pun aktif berperan. Telkomsel meluncurkan platform IoT Smart City Control Center yang kini digunakan di 14 kota, sedangkan startup seperti Qlue dan Nodeflux mengembangkan solusi analitik video untuk keamanan publik dan pengelolaan perkotaan.

Tantangan Infrastruktur dan Regulasi

Meski potensinya besar, pengembangan IoT smart city di Indonesia masih menghadapi sejumlah kendala. Keterbatasan infrastruktur jaringan di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) serta belum adanya standar interoperabilitas antar sistem menjadi sorotan utama. “Kita butuh regulasi yang jelas tentang tata kelola data lintas sektor agar investasi ini tidak tumpang tindih,” ujar Ketua Umum AII dalam forum diskusi pekan lalu.

Optimisme tetap tinggi. Riset McKinsey Global Institute memperkirakan penerapan IoT di kota-kota Indonesia berpotensi menambah nilai ekonomi hingga Rp350 triliun pada 2030, terutama dari efisiensi transportasi, energi, dan pelayanan kesehatan. Dengan dukungan kebijakan pemerintah dan kolaborasi multipihak, sektor IoT smart city diyakini menjadi kunci utama menjawab tantangan urbanisasi yang kian kompleks.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User