Teknologi

Mengenal Benjamin Netanyahu dan Akar Kelompok Yahudi di Baliknya

Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa seorang pemimpin negara bisa begitu sering mengambil kebijakan yang berbau konfrontasi? Jawabannya sering kali bukan sekadar soal politik praktis, melainkan juga...

Mengenal Benjamin Netanyahu dan Akar Kelompok Yahudi di Baliknya

Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa seorang pemimpin negara bisa begitu sering mengambil kebijakan yang berbau konfrontasi? Jawabannya sering kali bukan sekadar soal politik praktis, melainkan juga soal latar belakang ideologi dan komunitas tempat ia tumbuh besar. Itulah mengapa penting untuk membedah sosok Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri (PM) Israel yang kembali mencalonkan diri dalam pemilu Oktober mendatang. Pemahaman tentang akar kelompok Yahudi yang membesarkannya membantu kita melihat logika di balik setiap keputusan strategisnya, terutama yang berkaitan dengan konflik dan pertahanan.

Netanyahu bukanlah figur yang muncul dari ruang hampa. Ia lahir dalam sebuah keluarga yang sangat terikat dengan gerakan Zionisme revisionis, sebuah aliran pemikiran yang menekankan keamanan mutlak dan klaim historis atas tanah Israel. Ibarat seperti seorang anak yang dibesarkan di lingkungan militer, nilai-nilai ketegasan, kewaspadaan, dan kekuatan militer sudah tertanam sejak dini. Kelompok Yahudi yang dimaksud di sini bukanlah sekte keagamaan biasa, melainkan sebuah subkultur politik yang memiliki pengaruh besar dalam pembentukan negara Israel modern.

Dari Zionisme Revisionis ke Kursi Perdana Menteri

Untuk memahami Netanyahu, kita perlu menelusuri jejak keluarganya. Ayahnya, Benzion Netanyahu, adalah seorang sejarawan sekaligus aktivis yang menjadi sekretaris pribadi Ze'ev Jabotinsky, pendiri Zionisme revisionis. Aliran ini berbeda dengan Zionisme sosialis yang mendominasi awal pendirian Israel. Jika Zionisme sosialis menekankan kerja sama kolektif dan pembangunan lembaga, maka Zionisme revisionis menekankan keamanan nasional yang kuat, integritas tanah air yang tidak bisa ditawar, dan penolakan terhadap kompromi teritorial. Pemikiran inilah yang kemudian menjadi fondasi ideologis Partai Likud, partai yang mengusung Netanyahu selama bertahun-tahun.

Latar belakang ini menjelaskan mengapa Netanyahu kerap dijuluki sebagai "hawk" atau elang dalam dunia politik. Setiap kali ia berbicara soal perbatasan, pemukiman, atau operasi militer, ia berbicara dari kerangka berpikir yang sudah terbentuk sejak masa mudanya. Ia pernah bertugas di unit komando elite Sayeret Matkal, pengalaman yang semakin memperkuat pandangannya bahwa keamanan adalah prioritas tertinggi di atas segalanya.

"Netanyahu adalah produk dari tradisi politik yang melihat dunia sebagai arena konflik abadi, di mana hanya yang kuat yang bertahan," ujar seorang pengamat politik Timur Tengah dalam sebuah diskusi akademik.

Mengapa Ini Penting bagi Kawasan dan Dunia

Bagi pembaca awam, pertanyaan "kelompok Yahudi apa" mungkin terdengar sepele. Namun, implikasinya sangat besar. Kebijakan luar negeri Israel di bawah Netanyahu telah berkali-kali mengubah peta geopolitik Timur Tengah. Mulai dari penolakan terhadap solusi dua negara, perluasan pemukiman di Tepi Barat, hingga normalisasi hubungan dengan negara-negara Arab melalui Abraham Accords. Semua ini adalah manifestasi dari ideologi revisionis yang menekankan kekuatan militer, aliansi strategis dengan Amerika Serikat, dan penolakan terhadap tekanan internasional.

Dalam konteks pemilu Oktober nanti, latar belakang ini menjadi kartu politik yang ambigu. Di satu sisi, basis pendukung Likud melihatnya sebagai jaminan stabilitas dan keamanan. Di sisi lain, lawan politiknya menuduh pendekatan ini sebagai penyebab isolasi diplomatik dan eskalasi konflik berkepanjangan. Pemilih Israel akan dihadapkan pada pilihan: melanjutkan jalan revisionis atau mencari arah baru yang lebih akomodatif.

Ekosistem Politik yang Lebih Luas

Yang perlu dicatat, kelompok Yahudi revisionis bukanlah monolit. Di dalamnya ada sayap moderat, sayap religius, dan sayap ultra-nasionalis. Netanyahu sendiri sering dilihat sebagai penyeimbang di antara faksi-faksi tersebut. Kemampuannya bertahan di kursi PM selama belasan tahun menunjukkan bahwa ia mampu mengelola koalisi yang rapuh sekaligus memanfaatkan ketegangan eksternal untuk memperkuat posisi domestik.

Analogi sederhananya: bayangkan sebuah perusahaan teknologi yang memiliki visi "mendisrupsi pasar dengan cara apa pun". Visi itu bisa menghasilkan inovasi besar, tetapi juga bisa memicu konflik dengan regulator dan kompetitor. Netanyahu dan Zionisme revisionis adalah visi semacam itu dalam bentuk politik. Ia menawarkan efisiensi dan ketegasan, tetapi dengan biaya konflik yang tidak kecil.

Bagi Indonesia dan negara-negara lain, memahami akar ideologis ini penting untuk membaca arah kebijakan Israel ke depan. Tanpa memahami bahwa Netanyahu bukan sekadar politikus pragmatis, kita akan terus salah membaca setiap manuver diplomatinya. Pemilu Oktober akan menjadi ujian apakah masyarakat Israel masih menginginkan arah revisionis ini, atau mulai mencari alternatif yang lebih mengedepankan dialog dan rekonsiliasi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User