Mengapa Sejumlah Ulama Besar Memilih Lajang Demi Ilmu

Di tengah anggapan umum bahwa pernikahan adalah sunah yang sangat dianjurkan, sejarah Islam mencatat fenomena langka: puluhan ulama besar yang secara sadar memilih hidup melajang sepanjang hayat. Pili...

Di tengah anggapan umum bahwa pernikahan adalah sunah yang sangat dianjurkan, sejarah Islam mencatat fenomena langka: puluhan ulama besar yang secara sadar memilih hidup melajang sepanjang hayat. Pilihan ini bukan karena menolak ajaran agama, melainkan wujud dedikasi total terhadap pengembangan ilmu pengetahuan. Fenomena ini kerap dianggap kontroversial, namun bila ditelisik lebih dalam, ada logika pengorbanan luar biasa di baliknya.

Dedikasi Tanpa Batas: Saat Ilmu Menjadi 'Pasangan' Sejati

Ibarat seorang ilmuwan modern yang menghabiskan puluhan tahun di laboratorium tanpa sempat membangun rumah tangga, para ulama ini memandang waktu, tenaga, dan pikiran mereka sepenuhnya adalah milik pengetahuan. Mereka hidup di era ketika akses terhadap kitab dan guru sangat terbatas, sehingga perjalanan menuntut ilmu bisa memakan waktu puluhan tahun dan melintasi ribuan kilometer. Dalam kondisi seperti itu, pernikahan dianggap bisa menjadi 'gangguan' yang membatasi mobilitas dan fokus.

Beberapa catatan menyebutkan bahwa mereka mengkhawatirkan tanggung jawab keluarga akan mengurangi waktu untuk membaca, menulis, mengajar, dan merenung. Alih-alih membangun keluarga biologis, mereka membangun warisan intelektual yang 'anak-anaknya' adalah ribuan murid dan karya tulis yang terus hidup hingga kini. Tidak sedikit dari mereka yang menghasilkan ensiklopedia hukum, tafsir, atau hadis yang tebalnya puluhan jilid—sesuatu yang hampir mustahil diselesaikan bila harus membagi fokus dengan urusan domestik.

Mekanisme Pertahanan dari Godaan Duniawi

Analisis lebih jauh menunjukkan bahwa pilihan melajang juga merupakan strategi spiritual. Mereka sadar bahwa status sebagai tokoh publik membuat mereka rentan terhadap godaan duniawi, termasuk fitnah dari lawan jenis. Dengan tidak menikah, mereka menutup satu celah potensial yang bisa merusak integritas moral dan ilmiah. Beberapa ulama secara eksplisit menulis bahwa mereka takut tidak bisa berlaku adil kepada istri dan anak karena totalitas mereka sudah 'dipersunting' oleh lembara-lembar naskah yang menanti untuk diselesaikan.

Ini bukan berarti mereka membenci perempuan atau melawan sunah. Banyak di antara mereka yang tetap menghormati institusi pernikahan dan menganjurkan umat untuk menikah. Namun, mereka menilai ada panggilan yang lebih tinggi: menjaga orisinalitas dan kemurnian tradisi ilmiah Islam dari generasi ke generasi. Bagi mereka, mencetak ribuan ahli fikih dan ahli hadis lebih berdampak luas daripada memiliki keturunan biologis yang mungkin tidak meneruskan misi keilmuan mereka.

Potret Sang Pengembara Ilmu yang Melajang

Fenomena ini tidak terbatas pada satu mazhab atau periode tertentu. Di kalangan Syafi'iyah, nama besar seperti Imam Nawawi kerap disebut. Beliau meninggal di usia relatif muda, 45 tahun, namun meninggalkan puluhan karya standar yang masih dikaji di seluruh dunia, dari Riyadhus Shalihin hingga al-Majmu'. Konon, beliau tidak pernah menikah karena seluruh waktunya dialokasikan untuk belajar, mengajar di Damaskus, dan menulis kitab. Ada kisah bahwa beliau bahkan sering lupa makan karena keasyikan menelaah naskah.

Dari mazhab Hanbali, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga dikenal melajang. Meski banyak fatwanya yang tegas tentang pentingnya pernikahan, beliau sendiri memilih untuk tidak berumah tangga. Alasannya bukan sekadar sibuk, melainkan kondisi hidupnya yang penuh tekanan: penjara, interogasi penguasa, dan medan intelektual yang penuh pertarungan pemikiran. Beliau merasa tidak mungkin memberi ketenangan lahir batin kepada seorang istri saat dirinya sendiri terus berpindah dari satu penjara ke penjara lain demi mempertahankan prinsip.

Di dunia hadis, Imam al-Bukhari, penyusun kitab paling sahih setelah Al-Qur'an, juga termasuk yang tidak menikah. Beliau menghabiskan puluhan tahun berkelana dari Bukhara ke Baghdad, Hijaz, Mesir, hingga Naisabur untuk mengumpulkan dan memverifikasi ratusan ribu hadis. Fokus super ketat ini menuntut perjalanan yang nyaris tak kenal henti, menyisakan sedikit ruang untuk kehidupan personal. Hasilnya adalah Shahih al-Bukhari, sebuah monumen intelektual yang proses penyusunannya saja memakan waktu 16 tahun, belum termasuk masa-masa pengumpulan sebelumnya.

Ada pula nama seperti Ibnu Jarir ath-Thabari, sejarawan dan mufasir raksasa. Beliau menulis tafsir monumental yang mencapai 30 jilid dan sejarah dunia yang lengkap. Beliau dikabarkan tidak menikah, meski sebagian riwayat berbeda pendapat. Namun yang pasti, produktivitasnya yang mencengangkan—kabarnya beliau menulis 40 halaman setiap hari—menunjukkan ritme kerja yang hampir tak menyisakan celah untuk kehidupan berkeluarga.

Lebih dari Sekadar Kisah Romantis

Kumpulan kisah ini—yang sering dihimpun dalam karya-karya klasik—bukan sekadar anekdot heroik. Di dalamnya terkandung refleksi tentang bagaimana peradaban Islam menempatkan ilmu pada hierarki tertinggi, bahkan di atas pemenuhan biologis dan sosial yang paling dasar sekalipun. Ini menunjukkan bahwa tradisi keilmuan Islam memiliki mekanisme 'pengorbanan total' yang mirip dengan ordo-ordo religius atau akademisi asketik di peradaban lain, meski Islam tidak mengenal sistem kerahiban resmi.

Namun penting dicatat, fenomena ini tetaplah pengecualian, bukan aturan. Para ulama ini hidup dalam keadaan sangat khusus dengan ambisi ilmiah yang luar biasa besar. Syariat tetap memandang pernikahan sebagai jalan utama yang penuh berkah. Kisah mereka justru menjadi pelajaran bahwa setiap orang memiliki panggilan dan jalannya masing-masing. Bila seseorang merasa mampu mengendalikan syahwat dan ingin mengabdikan seluruh atom hidupnya untuk ilmu, maka sejarah mencatat bahwa jalan itu sah dan bisa menghasilkan karya-karya yang menerangi peradaban.

Hingga kini, jejak mereka tetap terasa di ruang-ruang kelas pesantren dan universitas. Kitab-kitab mereka masih menjadi menu wajib. Sebuah pengingat bahwa di balik lembaran ilmu yang kita baca, ada manusia-manusia yang rela mengorbankan ranjang hangat, pelukan anak, dan kehangatan keluarga—demi satu kata: pengetahuan.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
toni-kurniadi

Reporter E-Sports. Meliput Mobile Legends, Valorant, dan industri gaming.

Comments (0)

User