Kabut Asap Karhutla Kembali Kepung Sarawak, Tujuh Wilayah Terdampak

Pernahkah Anda membayangkan udara yang Anda hirup setiap hari tiba-tiba berubah pekat, berbau hangus, dan membuat mata perih? Itulah kenyataan yang kini dialami warga di tujuh wilayah di negara bagian...

Kabut Asap Karhutla Kembali Kepung Sarawak, Tujuh Wilayah Terdampak

Pernahkah Anda membayangkan udara yang Anda hirup setiap hari tiba-tiba berubah pekat, berbau hangus, dan membuat mata perih? Itulah kenyataan yang kini dialami warga di tujuh wilayah di negara bagian Sarawak, Malaysia Timur. Berdasarkan pantauan indeks kualitas udara setempat, ketujuh wilayah tersebut tercatat berada dalam kategori buruk karena langitnya diselimuti kabut asap tebal. Sumbernya tidak jauh dari negeri tetangga: kebakaran hutan dan lahan, atau yang lazim disebut karhutla, di Indonesia yang terbawa angin lintas batas. Peristiwa ini bukan sekadar berita lingkungan biasa. Ini soal kesehatan publik, produktivitas ekonomi, dan hubungan dua negara yang nasibnya saling terhubung oleh satu hal sederhana: arah angin.

Apa Itu Kabut Asap Lintas Batas?

Kabut asap lintas batas terjadi ketika partikel halus hasil pembakaran bergerak mengikuti pola angin melintasi perbatasan negara. Dalam kasus ini, asap dari titik-titik kebakaran di wilayah Indonesia terbawa ke Sarawak, yang hanya dipisahkan oleh selat dan daratan Kalimantan yang sebenarnya satu pulau. Yang paling berbahaya dari kabut asap bukanlah asap yang terlihat mata, melainkan partikel mikroskopis bernama PM2.5, yaitu partikel udara berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil, seperdua puluh tebal rambut manusia. Ukurannya yang sangat kecil membuat partikel ini bisa menembus paru-paru hingga masuk ke aliran darah.

Untuk mengukur tingkat keparahannya, otoritas setempat menggunakan indeks standar yang disebut API (Air Pollutant Index, atau Indeks Polutan Udara). Semakin tinggi angka indeksnya, semakin pekat polusi dan semakin besar risiko kesehatannya. Pada angka di atas 100, udara mulai masuk kategori tidak sehat dan kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta penderita asma disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan. Ketika angka menembus 200 atau lebih, statusnya naik menjadi sangat tidak sehat dan aktivitas masyarakat bisa lumpuh total.

Mengapa Kebakaran Terjadi Setiap Tahun?

Pertanyaan yang sama muncul hampir setiap musim kemarau: mengapa karhutla selalu berulang? Jawabannya berlapis. Pertama, sebagian besar titik api berada di lahan gambut, yaitu tanah yang terbentuk dari tumpukan sisa tanaman selama ribuan tahun dan menyimpan karbon dalam jumlah raksasa. Gambut yang kering di musim kemarau berubah menjadi bahan bakar alami yang sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan, bahkan api bisa bertahan di bawah permukaan tanah selama berminggu-minggu. Ibarat seperti bara di dalam panggangan, permukaannya mungkin terlihat padam, tetapi di dalamnya masih menyala.

Kedua, praktik membuka lahan dengan cara membakar masih menjadi kebiasaan sebagian petani dan perusahaan perkebunan karena dinilai cepat dan murah dibandingkan metode mekanis. Ketiga, fenomena iklim bernama El Niño, yaitu pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang memicu musim kemarau lebih panjang dan lebih kering dari biasanya, memperparah kondisi. Kombinasi ketiganya membuat skala kebakaran meledak, dan dalam sepekan titik api bisa menyebar hingga ratusan di sepanjang Pulau Kalimantan dan Sumatra.

Dampak Kesehatan dan Ekonomi yang Ikut Terbakar

Dampak paling langsung dari kabut asap adalah kesehatan. Data sejumlah rumah sakit di kawasan terdampak menunjukkan lonjakan pasien penyakit saluran pernapasan akut atau ISPA (infeksi saluran pernapasan atas) setiap kali asap pekat melanda. Sekolah-sekolah di daerah dengan kualitas udara buruk biasanya diliburkan, masker menjadi barang paling laris, dan aktivitas penerbangan sering terganggu karena jarak pandang menyusut drastis. Ibarat seperti hujan yang membatalkan semua rencana, kabut asap membatalkan rutinitas jutaan orang dalam hitungan hari.

Dari sisi ekonomi, kerugiannya tidak main-main. Gangguan transportasi, penurunan produktivitas pekerja, biaya pengobatan, hingga potensi penurunan kunjungan wisatawan adalah kerugian yang ditanggung kedua negara. Belum lagi dampak lingkungan jangka panjang: kabut asap mengganggu fotosintesis tanaman, dan kebakaran gambut melepaskan karbon dioksida dalam jumlah besar yang mempercepat pemanasan global. Dengan kata lain, api di satu titik bisa menciptakan beban yang dirasakan hingga lintas benua.

Teknologi dan Diplomasi di Tengah Asap

Di tengah persoalan yang tampak berulang ini, teknologi sebenarnya sudah banyak dilibatkan untuk menekan risiko. Satelit pemantau bumi dengan sensor inframerah digunakan untuk mendeteksi titik panas atau hotspot secara real-time, sehingga tim pemadam bisa dikerahkan sebelum api membesar. Kini pengembangan analisis berbasis machine learning, cabang kecerdasan buatan yang membuat komputer belajar dari data, mulai dipakai untuk memprediksi wilayah mana yang paling rawan terbakar berdasarkan data cuaca, kelembapan, dan sejarah kebakaran. Langkah pencegahan seperti pembasahan kembali lahan gambut dan pembangunan sekat kanal juga terbukti efektif menahan api agar tidak merambat.

Namun teknologi saja tidak cukup tanpa kerja sama politik. Indonesia dan Malaysia, bersama sembilan negara ASEAN (Association of Southeast Asian Nations, atau Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara), telah lama memiliki kesepakatan penanganan kabut asap lintas batas, meski implementasinya kerap tersendat. Setiap musim kabut asap datang, tuntutan agar penegakan hukum terhadap pembakar lahan diperketat kembali menguat. Pada akhirnya, peristiwa di Sarawak ini adalah pengingat bahwa masalah lingkungan tidak mengenal batas negara, dan solusinya pun harus datang dari kerja sama yang lintas batas pula.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
suwandi-tan

Editor Olahraga. Mantan jurnalis olahraga cetak. Meliput Piala Dunia 3 edisi.

Comments (0)

User