El Nino 2026 Lebih Kuat dari 2015: Ancaman Karhutla dan Kekeringan

Musim kemarau tahun ini diprediksi menjadi salah satu yang paling berat dalam satu dekade terakhir. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengingatkan bahwa kekuatan El Nino pada 2026 diperkirakan menemb...

El Nino 2026 Lebih Kuat dari 2015: Ancaman Karhutla dan Kekeringan

Musim kemarau tahun ini diprediksi menjadi salah satu yang paling berat dalam satu dekade terakhir. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengingatkan bahwa kekuatan El Nino pada 2026 diperkirakan menembus level yang lebih ekstrem dibandingkan rekor fenomena serupa pada 2015, yang selama ini dikenal sebagai salah satu periode kering terburuk di Indonesia modern. Bagi warga biasa, kabar ini bukan sekadar istilah dari ruang rapat: artinya risiko kekeringan, kebakaran hutan, kabut asap, hingga gejolak harga pangan akan semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Ibarat seperti kompor raksasa yang memanaskan permukaan laut Pasifik bagian tengah dan timur, El Nino menggeser pusat pertumbuhan awan hujan menjauh dari wilayah Indonesia. Dampaknya, musim kemarau berlangsung lebih lama dan lebih kering dari kondisi normal, sementara beberapa wilayah justru diguyur hujan di luar musimnya. Ketika anomali ini berlangsung kuat, ekosistem menjadi sangat rentan: tanah mengering, gambut kehilangan kelembapan, dan api mudah menyala.

Apa Itu El Nino dan Seberapa Kuat Prediksinya?

El Nino adalah bagian dari siklus alam bernama ENSO (El Nino-Southern Oscillation, atau Osilasi Selatan El Nino), yaitu interaksi antara lautan dan atmosfer di Samudra Pasifik tropis. Ketika suhu permukaan laut di kawasan tersebut memanas di atas ambang normal, tekanan udara berubah, angin pasat melemah, dan jalur awan hujan berpindah. BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) mengukur kekuatan fenomena ini lewat anomali suhu di wilayah Nino 3.4: anomali di atas 2,0 derajat Celsius biasanya dikategorikan sebagai El Nino sangat kuat.

Pada 2015, anomali suhu sempat menyentuh kisaran 2,4–2,6 derajat Celsius, menjadikannya salah satu El Nino terkuat sejak peristiwa besar 1997–1998. Jika pernyataan pemerintah benar bahwa 2026 bakal lebih kuat, maka tekanan terhadap hutan, pertanian, dan pasokan air akan melampaui pengalaman yang pernah dirasakan satu dekade lalu. Ini bukan soal angka semata; ini soal seberapa siap ekosistem dan masyarakat menahan dampaknya.

Bayang-Bayang 2015: Pelajaran dari Bencana Asap

Tahun 2015 meninggalkan jejak yang sulit dilupakan. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat itu membakar lebih dari 2,6 juta hektare, dengan puncak titik panas (hotspot) yang menyentuh ribuan lokasi dalam sepekan. Kabut asap menyelimuti sejumlah provinsi di Sumatera dan Kalimantan, memaksa sekolah diliburkan, penerbangan dialihkan, dan ribuan orang mengalami gangguan pernapasan. Bank Dunia memperkirakan kerugian ekonomi mencapai sekitar 16 miliar dolar AS atau setara lebih dari Rp 200 triliun.

Perbandingan historis menunjukkan bahwa El Nino super pada 1997–1998 bahkan membakar hingga hampir 10 juta hektare lahan, melintasi beberapa negara Asia Tenggara. Artinya, ketika kekuatan El Nino naik satu level, skala kerusakan bisa berlipat ganda. Karena itu, prediksi 2026 yang disebut melebihi 2015 bukan kabar yang bisa dianggap remeh, melainkan peringatan untuk mempercepat seluruh langkah pencegahan.

Dampak Nyata bagi Kehidupan Sehari-hari

Kekeringan panjang adalah masalah yang paling cepat dirasakan masyarakat. Sumur dan bendungan mengering, pasokan air bersih menyusut, dan petani di lahan tadah hujan terancam gagal panen. Pada musim El Nino 2015, produksi beras nasional turun dan harga komoditas seperti cabai serta bawang merah meroket di pasar. Pola yang sama berisiko terulang, ditambah ancaman gangguan kesehatan berupa ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) akibat paparan asap bagi anak-anak dan lansia.

Dari sisi ekonomi, kebakaran lahan tidak hanya merugikan petani, tetapi juga mengganggu logistik, pariwisata, dan aktivitas penerbangan. Kabut asap lintas batas bahkan sempat menjadi sengketa diplomatik di kawasan Asia Tenggara. Inilah alasan mengapa penanganan El Nino tidak bisa diserahkan hanya kepada pemerintah pusat; semua pihak, dari dinas daerah, perusahaan perkebunan, hingga warga, memegang peran dalam mencegah api menyala sejak awal.

Antisipasi: Teknologi, Data, dan Kerja Bersama

Kabar baiknya, kesiapan menghadapi El Nino kini jauh lebih baik dibanding satu dekade lalu. BMKG telah mengeluarkan peringatan dini lebih awal, sementara teknologi modifikasi cuaca (TMC), yaitu penyemaian awan dengan garam untuk memicu hujan, dapat dioptimalkan untuk menjaga kelembapan lahan gambut. Patroli terpadu, pemantauan titik panas melalui satelit, pembasahan kanal di area gambut, serta penegakan hukum terhadap pembakar lahan menjadi lini pertahanan utama.

Penting untuk diingat bahwa sebagian besar karhutla dipicu oleh aktivitas manusia, bukan murni oleh alam. Saat El Nino memperparah kekeringan, api kecil yang dibiarkan bisa berubah menjadi bencana besar. Kesadaran untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, ditambah pengawasan ketat dan sanksi yang konsisten, adalah kunci menekan risiko. Pemerintah juga perlu memastikan anggaran penanggulangan bencana siap digelontorkan sebelum puncak kemarau tiba, bukan setelah api menyebar.

Musim kering 2026 akan menjadi ujian nyata bagi kesiapan bangsa. Dengan data yang transparan, teknologi yang tepat, dan partisipasi semua lapisan masyarakat, dampak El Nino yang lebih kuat dari 2015 masih bisa diredam. Yang tidak boleh terjadi adalah lengah, karena sejarah 1997 dan 2015 telah menunjukkan betapa mahalnya harga sebuah keterlambatan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lidia-susanto

Reporter Olahraga Wanita. Fokus pada atlet perempuan dan kesetaraan gender dalam olahraga.

Comments (0)

User