Inggris Cetak 13 Gol, Argentina 17 Gol, Siapa Juara?
DOHA — Dua raksasa sepak bola dunia, Inggris dan Argentina, kini hanya berjarak satu langkah dari partai puncak Piala Dunia 2026. Keduanya sukses menaklukk
DOHA — Dua raksasa sepak bola dunia, Inggris dan Argentina, kini hanya berjarak satu langkah dari partai puncak Piala Dunia 2026. Keduanya sukses menaklukkan setiap rintangan yang menghadang, meninggalkan lawan-lawan tangguh di fase gugur, dan kini saling menatap tajam dengan rekor gol yang kontras: 13 gol untuk The Three Lions, 17 gol untuk La Albiceleste.
Jalan Terjal Inggris: 13 Gol dan Tembok Kokoh
Perjalanan Inggris menuju semifinal bukan sekadar pesta gol, melainkan perpaduan antara efisiensi menyerang dan pertahanan yang nyaris tanpa cela. Dari fase grup hingga perempat final, pasukan Gareth Southgate membukukan 13 gol — angka yang mungkin terlihat "sedikit" dibanding Argentina, tetapi setiap gol lahir dari skema terukur.
Fase grup menjadi panggung bagi Harry Kane yang kembali membuktikan naluri predatornya. Tiga gol ia lesakkan, dua di antaranya melalui eksekusi penalti dingin yang membuat kiper lawan hanya bisa terpaku. Di lini sayap, Bukayo Saka dan Phil Foden bergantian merobek pertahanan lawan dengan kecepatan dan dribel mematikan, menyumbang masing-masing dua gol.
Namun, kekuatan sesungguhnya Inggris terletak di jantung pertahanan. John Stones dan Marc Guéhi membentuk duet yang hanya kebobolan dua gol sepanjang turnamen — statistik terbaik di antara semua kontestan semifinal. Saat menghadapi Brasil di perempat final yang berakhir 2-0, lini belakang Inggris tampil seperti tembok beton, meredam setiap ancaman Vinícius Jr. dan Rodrygo.
“Kami tidak perlu mencetak lima gol setiap laga. Yang penting kami menang dan terus melaju. Pertahanan solid adalah fondasi gelar juara,”
tegas Southgate dalam konferensi pers usai laga.
Argentina Menggila: 17 Gol, Messi Masih Jadi Jantung
Di sisi lain, Argentina tampil bak badai yang tak terbendung. Tujuh belas gol dalam lima pertandingan — rata-rata 3,4 gol per laga — menjadikan tim asuhan Lionel Scaloni sebagai mesin gol paling produktif sepanjang turnamen. Jika Inggris membangun kekuatan dari pertahanan, Argentina justru merayakan sepak bola ofensif yang menghibur.
Lionel Messi, di usianya yang ke-39, masih menjadi otak dan jantung permainan. Lima gol dan tujuh assist ia bukukan — kontribusi langsung pada 12 dari 17 gol Argentina. Statistik yang nyaris tak masuk akal bagi pemain yang sudah melewati puncak karier fisiknya. Dalam duel babak 16 besar melawan Uruguay yang berakhir 4-2, Messi mencetak dua gol sekaligus menyajikan assist brilian untuk Julián Álvarez.
Álvarez sendiri telah mengoleksi empat gol, sementara Alejandro Garnacho — bintang muda Manchester United — menjadi kejutan dengan tiga gol dan kecepatan yang kerap merepotkan bek lawan di babak kedua. Serangan Argentina tidak hanya bertumpu pada satu nama; mereka adalah orkestra mematikan yang bisa mencetak gol dari berbagai sudut.
- Fase grup: 9 gol (vs Arab Saudi 3-1, vs Denmark 4-2, vs Korea Selatan 2-0)
- Babak 16 besar: 4 gol (vs Uruguay 4-2)
- Perempat final: 4 gol (vs Prancis 4-3 adu penalti setelah 2-2)
Duel perempat final melawan Prancis menjadi epik tersendiri. Argentina unggul 2-0 lebih dulu sebelum Kylian Mbappé memaksa laga berlanjut ke perpanjangan waktu dan adu penalti. Di sanalah Emiliano Martínez kembali menjadi pahlawan dengan dua penyelamatan krusial.
Dua Filosofi, Satu Tujuan
Perbedaan mencolok antara kedua tim menciptakan narasi klasik: pertahanan baja melawan serangan badai. Inggris hanya kebobolan dua gol, sementara Argentina sudah kemasukan tujuh gol. Namun, Argentina mencetak 17 gol — lebih banyak empat gol dari Inggris — yang menunjukkan bahwa mereka bersedia mengambil risiko lebih besar demi memenangkan pertandingan.
Menariknya, kedua tim memiliki rekor pertemuan yang nyaris seimbang dalam dua dekade terakhir. Dari enam pertemuan sejak 2005, Argentina menang tiga kali, Inggris dua kali, dan satu laga berakhir imbang. Pertemuan terakhir di Piala Dunia terjadi pada perempat final 1998 yang dimenangkan Argentina lewat adu penalti — kenangan pahit yang tentu ingin dibalas oleh generasi Inggris saat ini.
“Inggris sekarang berbeda. Mereka lebih dewasa, lebih sabar. Tapi Argentina punya Messi, dan di turnamen sebesar ini, satu momen darinya bisa mengubah segalanya,”
ujar Alan Shearer, legenda Inggris yang kini menjadi analis BBC Sport.
Siapa Melaju ke Final?
Pertanyaan besarnya kini: akankah 13 gol Inggris cukup untuk menghentikan laju Argentina yang sudah mencetak 17 gol? Atau justru pertahanan rapat The Three Lions yang akan menjadi kunci meredam Messi dan kolega?
Laga semifinal ini dijadwalkan berlangsung di AT&T Stadium, Dallas, dengan kapasitas lebih dari 90 ribu penonton. Kedua kubu membawa kepercayaan diri penuh — Inggris dengan rekor clean sheet terbanyak, Argentina dengan status sebagai juara bertahan dari edisi 2022.
Pemenang akan menghadapi salah satu dari Belanda atau Maroko di final. Dan bagi Messi, ini bisa menjadi Piala Dunia terakhirnya — motivasi emosional yang tak bisa diukur dengan statistik.
Comments (0)