Argentina Waspadai Declan Rice Lebih dari Kane atau Bellingham

Menjelang duel panas semifinal Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Argentina dan Inggris di MetLife Stadium, New Jersey, fokus publik sepak bola global sem

Argentina Waspadai Declan Rice Lebih dari Kane atau Bellingham

Menjelang duel panas semifinal Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Argentina dan Inggris di MetLife Stadium, New Jersey, fokus publik sepak bola global semula tertuju pada dua nama besar The Three Lions: Harry Kane sang kapten dan pencetak gol terbanyak sepanjang masa timnas Inggris, serta Jude Bellingham, gelandang serang Real Madrid yang tengah berada di puncak performa. Namun, media Argentina justru mengambil sudut pandang berbeda yang mengejutkan banyak pengamat. Mereka menyoroti satu figur yang dianggap sebagai jantung yang sesungguhnya dari permainan Inggris — Declan Rice.

Sosok yang Paling Dikhawatirkan La Albiceleste

Harian olahraga ternama Argentina, Olé, dalam analisis pra-pertandingannya secara eksplisit menyebut Rice sebagai "pemain paling krusial yang harus dimatikan". Bukan Kane dengan naluri predatornya di kotak penalti, bukan pula Bellingham dengan dribel eksplosif dan visi menyerangnya. Pilihan itu jatuh pada gelandang bertahan Arsenal berusia 27 tahun yang menjelma menjadi poros vital dalam skema Gareth Southgate sekaligus jembatan antara lini belakang dan depan.

"Declan Rice adalah pemain yang memberi keseimbangan. Tanpanya, transisi Inggris dari bertahan ke menyerang akan kacau. Ia yang memutus serangan lawan dan langsung menginisiasi serangan balik dalam satu gerakan," tulis analis sepak bola Argentina, Juan Pablo Varsky, dalam kolomnya. "Kane dan Bellingham memang brilian, tetapi Rice adalah fondasi yang memungkinkan mereka bersinar."

Pernyataan ini didukung oleh data statistik sepanjang turnamen. Rice mencatat rata-rata 4,3 tekel sukses dan 2,7 intersepsi per pertandingan — tertinggi di skuad Inggris. Ia juga mencatat akurasi operan mencapai 91,2 persen dengan rata-rata 78 sentuhan per laga, menjadikannya pemain paling sering terlibat dalam build-up permainan Inggris. Angka-angka ini mengonfirmasi bahwa Rice adalah mesin yang menggerakkan seluruh sistem.

Membaca Cetak Biru Permainan Inggris

Di bawah asuhan Southgate, Inggris tampil dengan formasi dasar 4-3-3 yang fleksibel bertransformasi menjadi 3-2-5 saat menyerang. Dalam skema ini, Rice berperan sebagai single pivot yang bertanggung jawab melindungi dua bek tengah — kemungkinan John Stones dan Marc Guéhi — sekaligus menjadi outlet pertama saat tim memulai serangan dari area pertahanan sendiri. Peran ganda inilah yang membuatnya tak tergantikan.

Tim pelatih Argentina yang dipimpin Lionel Scaloni kabarnya telah menghabiskan waktu berjam-jam menganalisis rekaman pertandingan Inggris, dan nama Rice muncul sebagai trigger point yang paling sering dilingkari. Misi menghentikan Rice bukan sekadar menutup satu pemain, melainkan memutus rantai suplai bola ke area kreatif yang dihuni Bellingham, Phil Foden, dan Bukayo Saka.

Bukan Remehkan Kane atau Bellingham

Pilihan menyoroti Rice bukan berarti Argentina menganggap remeh dua bintang lainnya. Harry Kane memasuki semifinal dengan torehan lima gol dan memimpin daftar pencetak gol terbanyak turnamen. Sementara Bellingham sudah mengoleksi tiga gol dan empat assist, menunjukkan produktivitas luar biasa dari lini kedua. Namun filosofi Scaloni sejak Piala Dunia 2022 adalah mematikan sumber, bukan gejala.

Pola yang sama diterapkan Argentina saat menghadapi Brasil di final Copa America 2024, di mana Enzo Fernández dan Rodrigo De Paul diberi instruksi khusus untuk mengisolasi Bruno Guimarães — gelandang jangkar Brasil — dan hasilnya terbukti efektif dengan kemenangan 2-0. Kini, strategi serupa tampaknya akan diterapkan untuk menjinakkan Rice.

Duel Taktis di Lini Tengah

Pertempuran sesungguhnya di semifinal nanti diprediksi akan terjadi di sepertiga tengah lapangan. Argentina kemungkinan akan menurunkan trio Enzo Fernández, Alexis Mac Allister, dan Rodrigo De Paul — kombinasi yang sudah teruji mampu mengontrol ritme permainan di level tertinggi. Ketiganya akan berbagi tugas: De Paul dengan energi dan pressing agresifnya, Mac Allister dengan kecerdasan posisional, dan Fernández sebagai pengatur tempo dari area lebih dalam.

Pertanyaan besarnya: dapatkah Rice mengatasi tekanan kolektif yang akan datang dari tiga gelandang kelas dunia sekaligus? Atau justru Argentina yang akan kewalahan menghadapi kapasitas fisik dan disiplin taktik Rice yang nyaris tanpa cela?

Piala Dunia 2026 tinggal menghitung jam. Duel Argentina versus Inggris bukan sekadar ulangan rivalitas klasik, melainkan juga pertarungan dua filosofi yang akan diwakili oleh pertempuran di lini tengah. Dan di pusat pusaran itu, berdiri satu nama yang oleh media Argentina disebut sebagai "kunci yang harus dipatahkan": Declan Rice.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User