Gunung Kawi Saksi Dua Pengusaha RI Menjadi Konglomerat

Kabupaten Malang, Jawa Timur, menyimpan satu destinasi yang selama puluhan tahun menjadi magnet bagi para pemburu kekayaan dan kesuksesan. Bukan pantai ber

Gunung Kawi Saksi Dua Pengusaha RI Menjadi Konglomerat

Kabupaten Malang, Jawa Timur, menyimpan satu destinasi yang selama puluhan tahun menjadi magnet bagi para pemburu kekayaan dan kesuksesan. Bukan pantai berpasir putih atau pusat perbelanjaan mewah, melainkan sebuah kompleks pemakaman di kaki Gunung Kawi yang diyakini memiliki daya spiritual luar biasa. Dua sosok paling fenomenal yang namanya tak pernah lepas dari ritual ziarah di tempat ini adalah mendiang Sudono Salim (Liem Sioe Liong), pendiri imperium Salim Group, dan Mochtar Riady, arsitek keuangan di balik Grup Lippo.

Di tengah dinginnya udara pegunungan yang menusuk tulang, kedua maestro ekonomi ini konon bolak-balik menapaki ratusan anak tangga menuju petilasan Eyang Jugo dan Eyang Sujo. Mereka datang bukan sebagai wisatawan, melainkan sebagai peziarah yang haus akan kebijaksanaan, memohon restu agar langkah bisnisnya senantiasa mulus dan dijauhkan dari marabahaya yang mengintai di panggung politik-ekonomi Orde Baru.

Tirakat Para Taipan di Antara Kabut Gunung

Gunung Kawi bukan sekadar destinasi wisata religi biasa. Tempat ini menyimpan magnet mistis yang dipercaya mampu mengubah nasib seseorang dari bukan siapa-siapa menjadi penguasa pasar. Bagi kalangan elite Tionghoa-Indonesia, khususnya generasi pertama perantauan, ziarah ke Gunung Kawi adalah bentuk tirakat—laku spiritual yang menggabungkan kepercayaan leluhur Tiongkok, Islam Kejawen, dan filosofi Jawa kuno.

Mochtar Riady, dalam berbagai kesempatan, tak sungkan menceritakan pengalaman spiritualnya. Ia mengaku kerap menyepi di pesarean Gunung Kawi saat bisnisnya dilanda ketidakpastian. Salah satu momen paling krusial terjadi ketika ia harus mengambil keputusan besar mengakuisisi Bank Perniagaan Indonesia yang kelak menjadi cikal bakal Bank Lippo. Riady menghabiskan tiga hari dua malam di pendopo dekat makam, berpuasa dan berdoa, sebelum akhirnya menandatangani dokumen akuisisi yang mengubah sejarah perbankan nasional.

“Di tempat ini saya merasa dekat dengan para leluhur dan mendapatkan kejernihan pikiran. Keputusan-keputusan terbesar dalam hidup saya seringkali lahir setelah berziarah ke sini,” kenang Mochtar Riady dalam sebuah wawancara yang dikutip dari dokumentasi perjalanan spiritualnya.

Warisan Spiritual Sudono Salim

Sementara itu, kekerapan Sudono Salim menapaki tangga Gunung Kawi sudah menjadi legenda di kalangan pelaku bisnis senior. Konon, setiap kali hendak meluncurkan proyek besar—entah itu pabrik semen Indocement atau ekspansi Bogasari—ia akan menyempatkan diri terbang dari Jakarta ke Malang, lalu menyusuri jalan berliku menuju puncak gunung. Bagi Salim, Gunung Kawi adalah ‘kantor spiritual’ tempat ia ‘berkonsultasi’ sebelum memutuskan langkah strategis yang memengaruhi hajat hidup jutaan orang.

Menariknya, ritual keduanya tak selalu dilakukan secara tertutup. Beberapa saksi mata menuturkan bahwa Salim, yang dikenal irit bicara dan sangat tertutup soal kehidupan pribadinya, justru berbaur dengan peziarah biasa. Ia duduk bersila di serambi Masjid Kramat, membaurkan doa Konfusian dengan lantunan tahlil yang dipandu juru kunci setempat. Sinkretisme inilah yang menjadi ciri khas spiritualitas pengusaha besar Tionghoa-Indonesia di masa lampau—menghormati semua tradisi demi meraih harmoni kosmis.

Mengapa Gunung Kawi Begitu Istimewa?

Secara historis, Gunung Kawi adalah tempat peristirahatan terakhir dua tokoh penting penyebar Islam di Jawa: Eyang Jugo (Kyai Zakaria II) dan Eyang Sujo (Raden Mas Sujo). Keduanya adalah keturunan keraton yang memilih jalan tasawuf dan dihormati karena kesaktian serta kearifannya. Bagi masyarakat Tionghoa perantauan, figur eyang ini disetarakan dengan dewa-dewa bumi atau Tu Di Gong yang dipercaya menjaga rezeki suatu wilayah.

Ritual utama yang dijalani para taipan biasanya meliputi empat tahapan: pertama, membersihkan diri secara fisik dan batin sebelum naik ke pesarean; kedua, membakar dupa dan menyajikan sesaji hasil bumi sebagai simbol penghormatan kepada penjaga gunung; ketiga, berdoa dalam diam di depan nisan eyang sambil memvisualisasikan tujuan bisnis yang hendak dicapai; dan keempat, membagikan sedekah kepada warga sekitar sebagai bentuk keseimbangan antara mengambil dan memberi kepada alam semesta.

Yang tak kalah menarik adalah pantangan-pantangan yang harus dipatuhi. Salah satunya, peziarah tidak boleh datang dengan niat serakah atau menyakiti orang lain. Jika pantangan ini dilanggar, konon justru kehancuran bisnis yang akan didapat. Prinsip ini sejalan dengan ajaran inti bahwa Gunung Kawi bukanlah tempat meminta kekayaan instan, melainkan tempat menempa ketajaman intuisi dan integritas dalam berbisnis.

Dampak pada Generasi Penerus

Tradisi ziarah ke Gunung Kawi tidak berhenti di generasi pendiri saja. Para penerus imperium bisnis seperti Anthoni Salim (putra Sudono Salim) dan James Riady (putra Mochtar Riady) juga tercatat melanjutkan tradisi spiritual ini, meski dengan intensitas yang berbeda. Generasi kedua ini lebih memadukan kearifan tradisional dengan pendekatan manajemen modern. Namun, mereka tetap percaya bahwa ‘restu leluhur’ adalah fondasi penting yang tidak bisa digantikan oleh teknologi atau algoritma bisnis sekalipun.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: apakah benar Gunung Kawi memiliki kekuatan supranatural yang mampu mengorbitkan seseorang menjadi konglomerat, ataukah ini sekadar sugesti psikologis yang memperkuat kepercayaan diri sang pengusaha? Para antropolog ekonomi berpendapat bahwa ritual ziarah ini adalah bentuk neuro-linguistic programming tradisional—sebuah mekanisme penanaman keyakinan bahwa seseorang ‘pantas’ dan ‘diizinkan’ menjadi kaya raya. Dengan membangun narasi spiritual, para taipan ini menciptakan legitimasi internal yang membuat mereka berani mengambil risiko besar tanpa ragu.

“Ketika seorang pengusaha meyakini bahwa alam semesta mendukungnya, keberanian mengambil keputusan meningkat drastis. Gunung Kawi dalam konteks ini adalah trigger psikologis yang sangat kuat,” jelas Dr. Andrianto Kusumo, psikolog bisnis dari Universitas Indonesia.

Hingga kini, Gunung Kawi tetap ramai dikunjungi ribuan peziarah setiap malam Jumat Legi dan malam 1 Suro. Asap dupa masih mengepul di antara rimbunnya pohon-pohon tua, dan lantunan doa terus bergema di antara kabut yang menyelimuti puncak gunung. Dua pengusaha besar yang telah menjadi legenda itu telah tiada atau lanjut usia, tetapi jejak spiritual mereka membuktikan satu hal: bahwa di negeri ini, kesuksesan material dan pencarian makna spiritual kerap berjalan beriringan, saling menguatkan dalam sunyi, jauh dari hingar-bingar lantai bursa.

[SOCIAL_TWEET]: Dua raksasa ekonomi Indonesia—Sudono Salim dan Mochtar Riady—dikenal bolak-balik menapaki tangga Gunung Kawi sebelum mengambil keputusan bisnis paling berani. Ternyata di balik imperium Salim Group dan Lippo ada dimensi spiritual yang jarang diungkap. #GunungKawi #SejarahBisnisRI #SpiritualitasEntrepreneur[SOCIAL_TG]: 🌫️✨ Di balik gemerlap imperium bisnis Salim Group dan Lippo, ada tirakat sunyi di puncak Gunung Kawi. Sudono Salim & Mochtar Riady bolak-balik ke sini sebelum ambil keputusan triliunan rupiah. Apakah ini kunci sukses sejati para konglomerat? Baca selengkapnya~

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User