Freeport Siap Gelontorkan Rp72 Triliun untuk Tambang Bawah Tanah Kucing Liar

Ketika sebagian besar orang membayangkan tambang sebagai lubang raksasa terbuka yang tampak dari angkasa, Freeport justru mengarahkan masa depannya ke arah sebaliknya: ke bawah tanah. Perusahaan itu b...

Freeport Siap Gelontorkan Rp72 Triliun untuk Tambang Bawah Tanah Kucing Liar

Ketika sebagian besar orang membayangkan tambang sebagai lubang raksasa terbuka yang tampak dari angkasa, Freeport justru mengarahkan masa depannya ke arah sebaliknya: ke bawah tanah. Perusahaan itu berencana mengucurkan dana minimal Rp72 triliun, atau setara sekitar US$4,5 miliar, untuk membangun dan mengoperasikan tambang bawah tanah Kucing Liar di Papua. Keputusan ini penting bukan hanya bagi korporasi, tetapi juga bagi ekonomi Indonesia, karena proyek ini menjadi salah satu investasi pertambangan bawah tanah terbesar yang pernah ada di dunia.

Pergeseran strategi ini bukan tanpa alasan. Tambang terbuka Grasberg yang selama puluhan tahun menjadi ikon pertambangan nasional kini cadangannya semakin menipis, sehingga roda produksi harus dipindahkan ke kedalaman bumi. Ibarat seperti menimba sumur, begitu permukaan mulai kering, satu-satunya cara adalah menggali lebih dalam. Di titik inilah Kucing Liar, salah satu tubuh bijih tembaga dan emas terbesar yang pernah ditemukan, mengambil peran sebagai penopang produksi masa depan.

Apa Sebenarnya Tambang Bawah Tanah Kucing Liar?

Kucing Liar ditemukan pada tahun 1988 dan sejak awal dianggap sebagai salah satu penemuan geologi paling spektakuler abad ke-20. Berbeda dengan tambang terbuka yang menggali dari atas, Kucing Liar dibangun dengan metode block caving, yaitu teknik menambang yang mengandalkan berat jenis batuan itu sendiri. Dalam metode ini, batuan di bawah permukaan digerus dari bawah hingga runtuh secara alami, kemudian bijihnya diangkut keluar melalui jaringan terowongan. Teknik ini mirip dengan cara rayap melubangi kayu dari dalam, hanya saja dalam skala yang jauh lebih besar dan melibatkan teknologi yang sangat canggih.

Skala operasinya memang tidak main-main. Tambang ini dirancang untuk menghasilkan sekitar 160.000 ton bijih per hari, cukup untuk memenuhi ribuan alat pengangkut dalam waktu sehari. Seluruh proses — dari penghancuran batuan di kedalaman lebih dari 400 meter, pengangkutan lewat ban berjalan (conveyor) bawah tanah sepanjang beberapa kilometer, hingga pengolahan — dikendalikan dari pusat kendali dengan bantuan sensor, otomasi, dan machine learning untuk memantau kondisi batuan serta memprediksi risiko runtuhan.

Dana Rp72 Triliun Dipakai untuk Apa Saja?

Lantas, ke mana saja dana sebesar Rp72 triliun itu dialirkan? Angka tersebut setara dengan nilai beberapa proyek infrastruktur kelas dunia sekaligus. Porsi terbesar biasanya terserap untuk pembangunan infrastruktur bawah tanah: terowongan pengangkut, lubang vertikal (shaft) untuk ventilasi dan akses pekerja, sistem pembangkit listrik sendiri, serta fasilitas pengolahan bijih yang berdiri di permukaan.

Selain itu, investasi ini mencakup sistem keselamatan kelas tinggi. Bekerja di kedalaman ratusan meter membutuhkan standar keselamatan berbeda: sensor gas, pemantauan getaran tanah secara real-time, hingga jalur evakuasi darurat. Jangan lupa, biaya operasional harian juga ikut diperhitungkan, karena sebuah tambang bawah tanah bukan hanya dibangun, tetapi juga dirawat selama puluhan tahun ke depan.

Dampaknya bagi Ekonomi dan Energi Indonesia

Bagi Indonesia, proyek ini memiliki makna ganda. Pertama, dari sisi penerimaan negara: tambang Grasberg selama ini dikenal sebagai salah satu penyumbang pajak terbesar, dan kelangsungan produksi dari Kucing Liar diharapkan menjaga aliran pendapatan tersebut tetap stabil. Kedua, dari sisi hilirisasi, pemerintah kini memegang mayoritas saham Freeport Indonesia — sekitar 51 persen — sehingga keuntungan proyek ini sebagian besar akan kembali ke kas negara.

Tembaga yang dihasilkan juga semakin strategis di era transisi energi. Logam ini merupakan bahan baku utama kabel listrik, motor kendaraan listrik (EV), hingga infrastruktur pembangkit energi terbarukan. Dengan kata lain, hasil tambang Kucing Liar akan ikut menopang ekosistem industri baterai dan kendaraan listrik yang tengah digenjot pemerintah, termasuk melalui pembangunan smelter — pabrik pemurnian — di Gresik, Jawa Timur.

Kendati demikian, tantangan tetap ada. Membangun tambang di kawasan pegunungan Papua dengan medan sulit dan cuaca ekstrem menuntut efisiensi tinggi di setiap tahap. Risiko teknis, fluktuasi harga komoditas dunia, hingga tekanan untuk menjaga kelestarian lingkungan menjadi ujian yang harus dijawab. Namun bila berjalan sesuai rencana, Kucing Liar tidak hanya menjadi simbol kebanggaan pertambangan Indonesia, tetapi juga contoh bagaimana teknologi, penelitian, dan inovasi bisa mengubah keterbatasan alam menjadi peluang ekonomi jangka panjang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User