Dosen Filsafat UIN Malang Zainal Habib Soroti Krisis Moral

MALANG — Aula utama Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang bergemuruh oleh tepuk tangan ratusan mahasiswa, Selasa (15/4/2025). Di atas

Dosen Filsafat UIN Malang Zainal Habib Soroti Krisis Moral

MALANG — Aula utama Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang bergemuruh oleh tepuk tangan ratusan mahasiswa, Selasa (15/4/2025). Di atas panggung, seorang dosen berkacamata dengan sorot mata teduh menatap audiensnya. Dialah Zainal Habib, dosen filsafat yang selama dua dekade terakhir mendedikasikan hidupnya untuk merajut kembali benang-benang pemikiran Islam dan tantangan modernitas. Hari itu, ia menyampaikan kuliah umum bertajuk “Membumikan Filsafat Islam di Era Banjir Informasi”.

Dalam paparannya yang berdurasi 90 menit, Habib tidak hanya mengulas pemikiran Al-Ghazali atau Ibnu Rusyd, tetapi juga menyentuh realitas sehari-hari: kecanduan media sosial, menipisnya empati, dan krisis identitas di kalangan generasi muda. “Filsafat bukan sekadar warisan masa lalu yang berdebu. Ia adalah kompas moral yang hari ini justru kita butuhkan,” ujarnya dengan nada tenang namun tegas.

Filsafat dan Kegelisahan Zaman

Habib memaparkan bahwa derasnya arus informasi digital telah menciptakan paradoks: manusia semakin terhubung, tetapi kesepian eksistensial justru meningkat. Data Global Digital Report 2025 menunjukkan bahwa rata-rata orang Indonesia menghabiskan 4,7 jam per hari di media sosial. Namun, indeks kebahagiaan nasional stagnan di angka 5,3 dari skala 10. “Ini sinyal bahwa konektivitas teknis tak otomatis melahirkan koneksi batin,” katanya.

Dalam konteks inilah, menurut Habib, filsafat Islam memiliki peran strategis. Ia menekankan tiga pilar yang dapat ditawarkan: tawazun (keseimbangan), tafakkur (perenungan mendalam), dan tazkiyah (penyucian jiwa). Ketiganya, kata dia, merupakan antitesis dari budaya instan yang dipromosikan oleh algoritma media sosial.

“Algoritma dirancang untuk membuat kita terus menggulir layar, bukan untuk memahami diri sendiri. Di sinilah tafakkur menjadi penting. Kita perlu kembali melatih otot-otot berpikir kritis dan reflektif,” ujar Habib di hadapan peserta yang memadati aula.

Perjalanan Intelektual dari Kampung ke Panggung Akademik

Zainal Habib bukanlah sosok yang lahir dari lingkungan akademik mapan. Ia tumbuh di desa kecil di pesisir Lamongan, Jawa Timur, dari keluarga nelayan sederhana. Ketertarikannya pada filsafat bermula dari kebiasaan sang ayah membaca kitab-kitab kuning sepulang melaut. “Saya sering melihat beliau termenung setelah membaca Ihya’ Ulumuddin. Di situ saya mulai penasaran, apa yang membuat seseorang begitu tenggelam dalam bacaan?” kenangnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di madrasah setempat, Habib melanjutkan ke Pondok Pesantren Langitan, Tuban. Di sana ia mendalami nahwu-sharaf dan fikih, tetapi diam-diam melahap karya-karya sastra dan filsafat Barat yang ia dapatkan dari perpustakaan kecil pondok. “Saya sering sembunyi-sembunyi baca Albert Camus dan Jean-Paul Sartre. Untungnya, kiai saya justru mendorong, asal tetap seimbang dengan ilmu alat,” tuturnya sambil tersenyum.

Jenjang S1 ia tempuh di IAIN Sunan Ampel (sekarang UINSA) Surabaya, lalu gelar magister dan doktor diraih dari Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM) dengan disertasi tentang epistemologi Mulla Sadra. Sejak tahun 2008, ia mengabdi di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan aktif menulis di berbagai jurnal nasional dan internasional.

Filsafat Islam Bukan Barang Antik

Salah satu poin paling menyentak dalam kuliah umum itu adalah ketika Habib membantah anggapan bahwa filsafat Islam adalah disiplin kuno yang hanya membahas metafisika langit. “Filsafat Islam itu hidup. Ia bisa berdialog dengan isu lingkungan, keadilan sosial, bahkan kecerdasan buatan,” tegasnya.

Ia mencontohkan konsep al-‘aql al-fa‘al (akal aktif) dalam tradisi Ibn Sina yang bisa dibaca ulang sebagai kerangka untuk memahami kecerdasan mesin. “Jika akal manusia adalah emanasi dari akal aktif, bagaimana kita menempatkan AI yang juga ‘berpikir’? Di sinilah filsafat Islam bisa memberi perspektif etis yang dalam,” jelasnya. Bagi Habib, Islam tidak pernah alergi terhadap akal. Justru, tradisi keilmuan Islam klasik lahir dari pernikahan harmonis antara wahyu dan rasio.

Untuk mendekatkan filsafat ke generasi muda, Habib dan timnya di Pusat Studi Filsafat dan Etika UIN Malang menginisiasi program “Ngaji Filsafat Digital” — diskusi rutin yang disiarkan lewat YouTube dan Instagram dengan gaya santai namun berbobot. Program ini telah menjangkau lebih dari 50.000 pengikut dan menjadi ruang aman bagi anak muda untuk bertanya soal makna hidup, kematian, hingga pencarian Tuhan.

“Saya ingin menunjukkan bahwa filsafat itu tidak menakutkan. Ia bisa dipelajari sambil ngopi di warkop. Dan Islam sendiri kaya akan warisan filsafat yang belum banyak digali,” kata Habib.

Tantangan dan Harapan

Meski optimis, Habib juga realistis. Ia mengakui bahwa ruang bagi filsafat di kampus Islam masih terbatas, seringkali dipandang sebelah mata karena dianggap terlalu liberal atau meniru Barat. “Padahal, justru dengan filsafat, mahasiswa diajak untuk berpikir sistematis, tidak mudah menyalahkan, dan mampu melihat persoalan dari banyak sisi. Ini yang dibutuhkan bangsa kita,” ucapnya.

Ia berharap ke depan, kurikulum perguruan tinggi Islam memberi porsi lebih besar pada pengajaran logika, etika, dan sejarah pemikiran Islam. Ia juga mendorong lahirnya lebih banyak peneliti muda yang berani mengawinkan filsafat dengan sains dan teknologi. “Kita tidak boleh hanya jadi konsumen teknologi. Kita harus mampu memproduksi etika untuk teknologi itu sendiri,” tandasnya.

Kuliah umum diakhiri dengan diskusi interaktif yang hangat. Seorang mahasiswi bertanya tentang bagaimana memulai belajar filsafat tanpa merasa inferior. Habib menjawab sederhana: “Mulailah dari bertanya. Dan jangan takut pada jawaban yang belum selesai.”

Pesannya yang paling membekas adalah ajakan untuk berani menghadapi ketidakpastian. Di era yang serba pasti secara informasi, justru kebingungan akan makna kian menjadi-jadi. Di situlah, kata Habib, filsafat bukan lagi sekadar pelajaran, melainkan penyelamat kewarasan.

[SOCIAL_TWEET]: Dosen Filsafat UIN Malang, Zainal Habib, ingatkan pentingnya tafakkur di tengah banjir informasi. “Filsafat bukan barang antik, ia kompas moral kita.” #FilsafatIslam #KrisisMoral #ZainalHabib [SOCIAL_TG]: 🕌 Dosen Filsafat UIN Malang, Zainal Habib, ajak generasi muda tidak hanya jadi konsumen teknologi, tapi produsen etika. “Mulailah dari bertanya. Jangan takut pada jawaban yang belum selesai.”

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User