FIKP Unhas Latih Nelayan Bulukumba Perkaya Bibit Rumput Laut
Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar program pendampingan dan edukasi kepada kelompok nelayan pembudidaya r
Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar program pendampingan dan edukasi kepada kelompok nelayan pembudidaya rumput laut di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Kegiatan yang berlangsung intensif selama tiga hari ini menyasar teknik pengayaan bibit rumput laut unggul untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing komoditas andalan daerah tersebut.
Melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), tim dosen dan mahasiswa FIKP Unhas turun langsung ke sentra budi daya di pesisir Kecamatan Bonto Bahari. Mereka membawa serta bibit hasil kultur jaringan yang telah lolos seleksi di laboratorium Fakultas. Inisiatif ini menjawab keluhan nelayan setempat yang dalam dua tahun terakhir menghadapi penurunan kualitas bibit akibat serangan hama ice-ice dan perubahan suhu perairan.
Latar Belakang dan Urgensi Pengayaan Bibit
Bulukumba dikenal sebagai salah satu lumbung rumput laut jenis Eucheuma cottonii dan Gracilaria di Sulawesi Selatan. Namun, praktik budi daya yang masih mengandalkan bibit dari hasil panen sebelumnya—tanpa seleksi ketat—menyebab terjadinya penurunan mutu genetik secara bertahap. Bibit menjadi rentan penyakit, laju pertumbuhan melambat, dan kandungan karaginan—senyawa bernilai ekonomi tinggi—tidak lagi optimal.
Ketua tim PKM FIKP Unhas, Dr. Ir. Syafiuddin, M.Si., menjelaskan bahwa pengayaan bibit merupakan langkah strategis untuk memutus rantai penurunan kualitas tersebut.
“Kami mengajarkan nelayan cara memilih indukan unggul, melakukan pemurnian melalui kultur jaringan sederhana, serta teknik aklimatisasi bibit hasil laboratorium sebelum ditebar di laut. Metode ini terbukti meningkatkan pertumbuhan hingga 30 persen dan menekan tingkat kematian bibit,” ujar Syafiuddin.
Metode Pengayaan Bibit yang Diajarkan
Ada tiga komponen utama yang ditransfer dalam pelatihan ini. Pertama, seleksi indukan: nelayan diajak mengenali ciri fisik thallus yang sehat, bebas bercak, dan memiliki percabangan rimbun. Kedua, kultur jaringan skala lapang: dengan peralatan sederhana seperti sterilisasi menggunakan larutan iodin dan media tanam air laut yang diperkaya pupuk organik cair. Ketiga, penumbuhan bibit di laboratorium rakit apung agar adaptasi terhadap kondisi laut berlangsung bertahap.
Peserta juga dibekali modul bergambar dan video tutorial berbahasa daerah untuk memudahkan pemahaman. Mahasiswa KKN Tematik Unhas yang ditempatkan di wilayah tersebut turut mendampingi, memastikan praktik dapat diulang secara mandiri oleh nelayan. Salah satu peserta, Daeng Mappuji (47), mengaku baru pertama kali mendapatkan pengetahuan tentang teknik seleksi indukan secara ilmiah.
“Selama ini kami hanya ambil bibit asal-asalan. Setelah ikut pelatihan, ternyata banyak kesalahan yang kami lakukan. Sekarang saya tahu harus pilih yang mana, dan cara menyimpannya agar tidak stres,” ungkapnya.
Antusiasme Nelayan dan Dukungan Pemerintah Desa
Kegiatan yang dipusatkan di Balai Pelatihan Nelayan Desa Bira ini diikuti 40 pembudidaya dari tiga kelompok tani. Kepala Desa Bira, Andi Candra, menyambut positif kolaborasi tersebut. Ia menilai, selama ini program serupa jarang menyentuh aspek hulu—yaitu perbenihan—padahal bibit adalah fondasi utama keberhasilan panen. Pemerintah desa berencana mengalokasikan dana untuk membangun rumah bibit sederhana yang dikelola bersama.
Dekan FIKP Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., yang hadir secara virtual menegaskan bahwa kampus memiliki tanggung jawab moral memajukan ekonomi biru berbasis komunitas.
“Rumput laut adalah masa depan pangan dan bioindustri Indonesia. Masyarakat pesisir harus menjadi aktor utama, bukan sekadar penerima manfaat. Maka, transfer iptek yang aplikatif seperti ini harus terus digulirkan,” tegasnya.
Prospek Ekonomi dan Keberlanjutan
Dengan bibit unggul, masa panen rumput laut dapat dipangkas dari 45 hari menjadi 35 hari, sekaligus meningkatkan kandungan karaginan hingga 65 persen. Harga jual di tingkat pengumpul pun naik sekitar Rp2.000–Rp3.000 per kilogram kering. Tim PKM memproyeksikan, jika seluruh kelompok mengadopsi metode ini, produksi rumput laut Bulukumba bisa meningkat 25 persen dalam setahun ke depan.
FIKP Unhas berencana menjadikan Desa Bira sebagai kampung percontohan (model village) pengayaan bibit rumput laut. Monitoring berkala akan dilakukan melalui kunjungan dua bulan sekali serta konsultasi daring. Program ini juga didorong agar selaras dengan agenda pemerintah daerah yang tengah menyiapkan Bulukumba sebagai kawasan sentra logistik rumput laut nasional.
Ke depan, nelayan yang telah mahir akan dilibatkan sebagai trainer bagi desa tetangga. Pendekatan learning by doing dan partisipatif ini diharapkan menciptakan kemandirian dan hilirisasi sederhana, sehingga nilai tambah tidak lari ke luar daerah. “Kami tidak hanya ingin panen melimpah, tapi juga ada pabrik pengolahan karaginan milik koperasi nelayan. Itu mimpi besar kami,” pungkas Syafiuddin.
[SOCIAL_TWEET]: Bibir rumput laut nelayan Bulukumba kini lebih bernas. FIKP Unhas latih teknik pengayaan bibit unggul agar panen lebih cepat dan harga karaginan terdongkrak. Ekonomi biru dimulai dari kampung! #RumputLaut #Bulukumba #UnhasHebat[SOCIAL_TG]: 🌊 FIKP Unhas dampingi nelayan Bulukumba perbanyak bibit rumput laut unggul. Panen lebih cepat, mutu naik, harga ikut terbang. Ekonomi biru berjalan nyata. 🚀
Comments (0)