Teknologi

Data Center Batam Disorot, Warga Sambau Krisis Air Berbulan-bulan

Kemudahan mengakses internet dan layanan digital ternyata menyimpan sisi gelap yang jarang dibicarakan. Di Batam, Kepulauan Riau, ratusan keluarga di Kavling Sambau harus hidup tanpa pasokan air bersi...

Data Center Batam Disorot, Warga Sambau Krisis Air Berbulan-bulan

Kemudahan mengakses internet dan layanan digital ternyata menyimpan sisi gelap yang jarang dibicarakan. Di Batam, Kepulauan Riau, ratusan keluarga di Kavling Sambau harus hidup tanpa pasokan air bersih selama berbulan-bulan. Penyebabnya diduga kuat berkaitan dengan keberadaan pusat data alias data center yang beroperasi di kawasan tersebut. Bagi warga, ini bukan sekadar keluhan teknis, melainkan persoalan hidup sehari-hari: mandi, mencuci, memasak, dan sanitasi keluarga terancam.

Fenomena ini penting karena menyangkut satu pertanyaan besar: seberapa besar harga yang harus dibayar masyarakat biasa ketika negara berlomba menarik investasi ekonomi digital? Data center adalah tulang punggung era digital, tetapi jika pengelolaannya tidak memperhitungkan daya dukung lingkungan dan hak dasar warga, inovasi bisa berubah menjadi disrupsi yang merugikan.

Apa Itu Data Center dan Mengapa Menyedot Air?

Data center adalah fasilitas yang menampung ribuan server komputer untuk menyimpan dan memproses data digital. Ibarat seperti jantung bagi tubuh internet, tempat ini harus bekerja 24 jam tanpa henti. Masalahnya, server yang bekerja nonstop menghasilkan panas luar biasa. Untuk mendinginkannya, operator biasanya memakai sistem pendingin besar berbasis air alias water cooling, sebuah teknologi efisiensi termal yang efektif namun rakus sumber daya air.

Teknologi pendingin ini memang jauh lebih hemat energi dibanding kipas udara konvensional, tetapi konsumsi airnya bisa sangat besar, apalagi di kawasan industri yang tumbuh cepat. Kalau pengambilan air tanah atau air permukaan tidak dikendalikan dengan algoritma pemantauan yang baik, sumber air warga bisa tersedot habis. Inilah yang diduga dialami warga Kavling Sambau.

Menurut laporan yang beredar, keluhan warga sudah berlangsung berbulan-bulan. Mereka menduga sumur dan aliran air di sekitar permukiman mengering sejak pembangunan dan operasional fasilitas tersebut berjalan. Pemerintah daerah melalui BP Batam menyatakan akan memeriksa sumber aliran air untuk memastikan penyebabnya.

"Kami akan mengecek langsung sumber aliran airnya, apakah benar terganggu oleh operasional data center atau ada faktor lain," ujar perwakilan otoritas kawasan, seperti dikutip dari pemberitaan lokal.

Dampak Nyata bagi Warga dan Ekosistem

Krisis air bukan persoalan sepele. Ketika keran mati, warga terpaksa membeli air tangki dengan biaya tambahan yang membebani ekonomi rumah tangga. Anak-anak rentan terkena penyakit kulit dan pencernaan, sementara ibu rumah tangga kehilangan waktu produktif hanya untuk mencari air. Dalam jangka panjang, ketegangan sosial antara warga dan pelaku industri bisa meningkat.

Dari sisi ekosistem, pengambilan air bawah tanah berlebihan dapat memicu penurunan muka tanah alias land subsidence. Fenomena ini pernah menghantui kota-kota besar seperti Jakarta. Jika tidak diantisipasi lewat implementasi kebijakan tata ruang yang ketat, Batam berpotensi menempuh jalur serupa, terutama karena wilayahnya merupakan daerah pesisir kepulauan yang rentan.

Di sisi lain, kehadiran data center jelas membawa manfaat ekonomi: lapangan kerja, transfer teknologi, dan pengembangan platform digital nasional. Namun, prinsip pembangunan berkelanjutan menuntut keseimbangan. Inovasi deep tech tidak boleh dibangun di atas penderitaan komunitas sekitar.

Perbandingan: Konsumsi Air Data Center vs Kebutuhan Warga

AspekData Center Skala MenengahKebutuhan 100 KK
Konsumsi air harianRatusan ribu liter untuk pendinginanSekitar 15.000–20.000 liter
SumberAir tanah/PDAM/sungaiSumur & PDAM
Durasi operasiNonstop 24/7Harian terbatas
Dampak jika tak dikelolaPenurunan debit air lokalKrisis air rumah tangga

Data pada tabel di atas menunjukkan ketimpangan skala. Satu fasilitas data center bisa menyerap air jauh melampaui kebutuhan ratusan keluarga sekaligus. Karena itu, penelitian mengenai rekayasa ulang sistem pendingin, misalnya memakai pendingin cair non-air atau pemanfaatan air daur ulang, menjadi krusial.

Beberapa operator global sudah mulai mengadopsi teknologi pendinginan imersi alias immersion cooling, yang tidak membutuhkan air sama sekali. Penerapan solusi semacam ini di Indonesia bisa menjadi terobosan, sekaligus menjaga ekosistem digital tetap tumbuh tanpa mengorbankan hak warga atas air bersih. Yang dibutuhkan kini bukan sekadar klarifikasi, melainkan audit menyeluruh atas sumber daya air di sekitar kawasan industri digital.

Pada akhirnya, kisah warga Kavling Sambau adalah pengingat bahwa teknologi sehebat apa pun harus diukur dari dampaknya pada manusia. Inovasi yang baik adalah inovasi yang tidak membuat tetangganya kehausan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lidia-susanto

Reporter Olahraga Wanita. Fokus pada atlet perempuan dan kesetaraan gender dalam olahraga.

Comments (0)

User