Cap Tangan 67.800 Tahun di Muna Jadi Lukisan Tertua Dunia

Jika ingatan manusia modern tersimpan dalam foto, video, dan dokumen digital, maka ingatan manusia purba tersimpan di dinding-dinding gua yang gelap dan lembap. Kini, salah satu lembaran paling awal d...

Cap Tangan 67.800 Tahun di Muna Jadi Lukisan Tertua Dunia

Jika ingatan manusia modern tersimpan dalam foto, video, dan dokumen digital, maka ingatan manusia purba tersimpan di dinding-dinding gua yang gelap dan lembap. Kini, salah satu lembaran paling awal dari album kenangan itu akhirnya terbaca: sebuah lukisan cap tangan yang digoreskan di gua batu gamping di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, dikukuhkan sebagai lukisan tertua di dunia dengan usia 67.800 tahun. Ini bukan sekadar rekor baru yang meramaikan pemberitaan. Temuan ini menggeser pemahaman ilmu pengetahuan tentang kapan manusia mulai berpikir simbolik, yaitu kemampuan menuangkan gagasan abstrak ke dalam bentuk visual yang bisa dilihat orang lain.

Ibarat menemukan paragraf pertama dari bab paling awal sejarah peradaban, cap tangan ini menjadi bukti bahwa jauh sebelum tulisan ditemukan, sebelum piramida berdiri, dan sebelum kota pertama lahir, nenek moyang kita sudah menandai dunianya dengan cara yang sangat manusiawi: meninggalkan jejak diri. Maka, memahami lukisan ini sama dengan memahami siapa kita sebenarnya dan dari titik mana kisah kita dimulai.

Cap Tangan: Tanda Tangan Pertama Umat Manusia

Secara bentuk, temuan di Muna tampak sederhana. Siluet tangan dihasilkan dengan menempelkan telapak tangan ke permukaan dinding gua, lalu menyemburkan pigmen (zat pewarna alami) di sekelilingnya sehingga terbentuk pola negatif tangan. Teknik yang dikenal sebagai stensil ini membutuhkan koordinasi, perencanaan, dan alat sederhana berbasis semburan mulut atau tabung bambu—keterampilan yang tidak dimiliki sembarang makhluk. Di gua karst (bentang alam dari batuan gamping yang larut oleh air) Pulau Muna, jejak itu bertahan puluhan ribu tahun di atas permukaan batu yang terbentuk dari endapan kalsium karbonat.

Yang membuat dunia arkeologi terhenyak adalah angka usianya. Cap tangan berumur 67.800 tahun itu menempati posisi teratas daftar karya seni manusia tertua yang diketahui saat ini, melampaui catatan lukisan gua yang sebelumnya dipegang situs-situs prasejarah lain. Artinya, dorongan untuk berkesenian ternyata lahir jauh lebih awal dari dugaan para ilmuwan, pada masa ketika kelompok Homo sapiens (manusia modern secara anatomis) tengah menyebar keluar dari Afrika dan menjelajahi kepulauan Nusantara.

Bagaimana Peneliti Menghitung Usia Lukisan Gua?

Menentukan usia lukisan gua bukanlah pekerjaan menebak. Para peneliti menggunakan metode penanggalan radiometrik, yaitu penghitungan umur berdasarkan laju peluruhan unsur radioaktif yang terjadi secara alami dan konstan. Kuncinya ada pada lapisan kalsit, mineral kapur yang perlahan tumbuh menutupi pigmen lukisan seperti kerak yang mengendap di dasar gua. Semakin tebal timbunan kalsit di atas lukisan, semakin tua usia lapisan pigmen di bawahnya.

Lapisan tersebut dianalisis dengan teknik seri uranium, yang bekerja seperti jam pasir alami. Sebagian kecil unsur uranium terperangkap dalam mineral saat mengendap, lalu meluruh menjadi torium dengan kecepatan yang sudah diketahui pasti. Dengan membandingkan perbandingan uranium dan torium di lapisan tertua yang menutupi pigmen, peneliti bisa menyimpulkan kapan lukisan itu terakhir terpapar udara terbuka—artinya, kapan lukisan itu selesai dibuat. Proses ini mirip membaca cincin pertumbuhan pohon, hanya saja skalanya puluhan ribu tahun, bukan puluhan musim.

Menggeser Peta Sejarah Seni dan Migrasi Manusia

Temuan di Muna tidak berdiri sendiri. Sulawesi dan kawasan timur Indonesia selama ini dikenal sebagai gudang lukisan gua prasejarah, mulai dari gambar babi hutan, sosok manusia, hingga pola geometris yang tersebar di jaringan gua karst yang luas. Kehadiran cap tangan berusia 67.800 tahun memperkuat tesis bahwa kepulauan Nusantara bukan sekadar jalur persinggahan migrasi, melainkan salah satu panggung awal lahirnya kreativitas manusia di muka bumi.

Lebih jauh, temuan ini ikut menegaskan pentingnya kawasan Wallacea, wilayah biogeografis di antara paparan Sunda dan Sahul, dalam sejarah evolusi. Untuk sampai ke Sulawesi pada masa itu, manusia purba harus menyeberangi lautan, yang berarti mereka telah menguasai semacam teknologi maritim sederhana dan kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Dengan kata lain, melukis di dinding gua adalah puncak dari rantai kemampuan: berpikir, merencanakan, menyeberang laut, dan merekam kisahnya.

Pekerjaan Rumah: Menjaga Warisan di Dalam Gua

Usia 67.800 tahun menjadikan lukisan ini istimewa, tetapi juga membuatnya rentan. Lapisan pigmen yang tipis bisa rusak oleh perubahan kelembapan, suhu ekstrem akibat perubahan iklim, aktivitas wisata yang tidak terkendali, hingga vandalisme yang kerap merusak situs gua prasejarah di berbagai belahan dunia. Tanpa perlindungan, warisan yang bertahan lebih dari enam puluh ribu tahun bisa hilang hanya dalam beberapa generasi.

Oleh karena itu, pelestarian menjadi agenda yang tidak bisa ditunda. Diperlukan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, peneliti, serta masyarakat lokal yang sehari-hari tinggal di sekitar kawasan gua. Dokumentasi digital beresolusi tinggi, pemetaan situs, dan edukasi kepada warga menjadi langkah konkret yang bisa menjaga jejak ini tetap utuh. Masyarakat sekitar juga perlu dilibatkan bukan hanya sebagai penjaga, tetapi sebagai pemilik sah narasi sejarah yang tinggal di halaman rumah mereka sendiri.

Penemuan di Pulau Muna mengingatkan kita bahwa Indonesia adalah salah satu museum prasejarah terbesar di dunia, dan sebagian isinya baru saja mulai terbaca. Setiap goresan di dinding gua adalah pesan yang dikirim puluhan ribu tahun lalu. Tugas kita hari ini sederhana namun berat: memastikan pesan itu sampai ke generasi berikutnya dalam keadaan utuh, seperti yang telah dirawat oleh batu, waktu, dan keheningan gua selama ribuan tahun.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lidia-susanto

Reporter Olahraga Wanita. Fokus pada atlet perempuan dan kesetaraan gender dalam olahraga.

Comments (0)

User