El Nino Bukan Penyebab Utama Karhutla, Pencegahan Korporasi Kunci

Setiap musim kemarau tiba, kekhawatiran terhadap kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantui warga di sejumlah provinsi di Indonesia. Dampaknya tidak main-main: gangguan pernapa...

El Nino Bukan Penyebab Utama Karhutla, Pencegahan Korporasi Kunci

Setiap musim kemarau tiba, kekhawatiran terhadap kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantui warga di sejumlah provinsi di Indonesia. Dampaknya tidak main-main: gangguan pernapasan, sekolah diliburkan, penerbangan tertunda, hingga kerugian ekonomi yang mencapai triliunan rupiah. Di tengah kekhawatiran itu, fenomena iklim El Nino kerap disebut-sebut sebagai biang keladi. Padahal, para pakar menegaskan bahwa El Nino hanyalah akselerator, bukan akar masalahnya.

Memahami El Nino: Pemicu Bukan Penyebab

El Nino adalah bagian dari fenomena ENSO (El Nino-Southern Oscillation), yakni fluktuasi suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Ketika El Nino terjadi, suhu air laut memanas di atas rata-rata, yang kemudian mengubah pola sirkulasi atmosfer. Bagi Indonesia, dampaknya berupa musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering dari normal, seperti yang pernah terjadi pada 2015, 2019, dan 2023.

Ibarat seperti kipas angin yang meniup bara api: El Nino mempercepat dan memperbesar kobaran, tetapi ia tidak menyalakan api itu sendiri. Tanpa bahan bakar dan tanpa titik api, kipas sekuat apa pun tidak akan menghasilkan kebakaran. Logika inilah yang menjadi dasar penegasan para pakar bahwa El Nino bukan penyebab utama karhutla, melainkan faktor yang memperparah kondisi.

Data mendukung argumen tersebut. Sebagian besar kebakaran hutan dan lahan di Indonesia tidak dipicu oleh faktor alam seperti petir, melainkan oleh aktivitas manusia, mulai dari pembukaan lahan dengan cara membakar, kelalaian membuang puntung rokok, hingga pembakaran liar yang tidak terkendali. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bahkan pernah mencatat bahwa lebih dari 99 persen titik api berasal dari aktivitas manusia, bukan dari sebab-sebab alami.

Mengapa Lahan Gambut Menjadi Titik Rawan

Kerentanan terbesar justru berada di lahan gambut. Gambut adalah tanah yang terbentuk dari timbunan sisa-sisa tanaman yang membusuk sebagian dalam kondisi basah, sehingga menyimpan banyak karbon dan air. Ketika kanal-kanal drainase dibangun dan lahan dikeringkan, gambut kehilangan kelembapan alaminya. Pada musim kemarau yang diperparah El Nino, lapisan gambut mengering hingga ke kedalaman tertentu dan menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar.

Yang lebih berbahaya, api di gambut dapat membara di bawah permukaan tanah dalam waktu lama, sulit dipadamkan, dan menghasilkan asap tebal dalam jumlah besar. Inilah sebabnya kebakaran gambut menjadi kontributor utama kabut asap lintas batas yang pernah menyelimuti Singapura dan Malaysia pada 2015, ketika El Nino kuat memicu kemarau ekstrem di Indonesia.

Artinya, ada rantai peristiwa yang saling terhubung: pengeringan gambut oleh manusia, ditambah musim kemarau panjang akibat El Nino, menghasilkan kondisi yang sempurna untuk kebakaran besar. Memutus salah satu mata rantai tersebut, terutama sisi penyebab manusianya, adalah kunci pengendalian karhutla.

Pencegahan dan Kesiapan Korporasi Menjadi Penentu

Karena akar masalahnya terletak pada pengelolaan lahan, maka peran korporasi menjadi sangat krusial. Para pakar menilai bahwa pencegahan dan kesiapan korporasi adalah faktor terpenting untuk mengendalikan karhutla, bukan sekadar pemadaman setelah api membesar. Perusahaan perkebunan dan pemegang konsesi hutan dituntut membangun sistem deteksi dini, seperti pemantauan titik panas melalui citra satelit secara real-time, patroli lapangan rutin, serta pembangunan sekat kanal untuk menjaga lahan gambut tetap basah.

Kesiapan juga mencakup pengadaan sarana pemadam, pembentukan regu pengendali kebakaran di tingkat lapangan, dan kerja sama dengan masyarakat sekitar melalui program desa bebas api. Korporasi yang abai terhadap aspek ini tidak hanya menghadapi sanksi administratif dan pidana, tetapi juga risiko reputasi besar di pasar global, mengingat banyak produk kelapa sawit kini dituntut memenuhi standar keberlanjutan tanpa deforestasi.

Di sisi lain, upaya pencegahan harus berjalan paralel dengan penegakan hukum yang tegas. Pelaku pembakaran lahan perlu diproses secara hukum, dan insentif ekonomi perlu diberikan kepada mereka yang menerapkan praktik pengelolaan lahan tanpa bakar. Kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, dan kesadaran masyarakat inilah yang akan menentukan apakah Indonesia mampu keluar dari siklus kabut asap yang berulang setiap beberapa tahun sekali.

El Nino akan terus datang sebagai bagian dari siklus iklim alami. Yang bisa dikendalikan manusia bukanlah iklimnya, melainkan cara kita mengelola lahan, kesiapan institusi, dan disiplin dalam pencegahan. Sebab pada akhirnya, karhutla bukanlah bencana alam murni, melainkan persoalan tata kelola yang solusinya ada di tangan manusia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fahmi-reza

Reporter MotoGP/Formula 1. Meliput balapan motor dan mobil internasional.

Comments (0)

User