Banjir Akibat Topan Maysak Tewaskan Tiga Singa di Kebun Binatang China

Bencana banjir bandang yang menerjang sejumlah daerah di China akibat terjangan Topan Maysak pekan lalu telah merenggut korban tak biasa. Tiga ekor singa dewasa di sebuah kebun binatang di pesisir tim...

Banjir Akibat Topan Maysak Tewaskan Tiga Singa di Kebun Binatang China

Bencana banjir bandang yang menerjang sejumlah daerah di China akibat terjangan Topan Maysak pekan lalu telah merenggut korban tak biasa. Tiga ekor singa dewasa di sebuah kebun binatang di pesisir timur China dilaporkan tewas tenggelam setelah air bah merendam kandang mereka. Kejadian ini menambah daftar panjang dampak destruktif topan yang juga merenggut puluhan nyawa manusia dan menyebabkan ribuan warga mengungsi.

Menurut otoritas setempat, ketiga singa tersebut terdiri dari satu jantan dan dua betina. Mereka merupakan koleksi berharga Kebun Binatang Longhai di Provinsi Fujian, yang selama ini menjadi daya tarik utama bagi pengunjung lokal maupun wisatawan. "Ini pukulan berat bagi kami. Kami tidak pernah menyangka banjir bisa secepat ini merendam kandang karnivora besar," ujar seorang perawat satwa yang enggan disebut namanya.

Kronologi Luapan Air dan Kegagalan Evakuasi

Berdasarkan keterangan pengelola, insiden terjadi pada dini hari saat curah hujan mencapai puncaknya. Air dari Sungai Jiulong yang melintas di dekat kompleks kebun binatang meluap dengan cepat dan merobohkan sebagian pagar pembatas. Karyawan yang berjaga segera berupaya menyelamatkan satwa-satwa, namun banjir yang datang tanpa peringatan dini membuat akses ke kandang karnivora besar terendam lebih dulu. Ketinggian air di dalam kandang singa dilaporkan naik hingga 1,5 meter dalam hitungan menit.

Berbeda dengan beberapa satwa lain yang bisa memanjat atau berenang, ketiga singa itu tidak memiliki tempat cukup tinggi untuk menyelamatkan diri. Bobot tubuh singa dewasa yang mencapai lebih dari 150 kilogram membuat mereka sulit bergerak cepat di air yang terus naik. Tim penyelamat yang tiba setelah air surut mendapati ketiga singa sudah tak bernyawa, tergeletak di sudut kandang yang sempit. Seorang petugas kebersihan yang menyaksikan detik-detik air mulai naik menuturkan, "Saya melihat air masuk dengan cepat dari pintu belakang. Kami langsung lari ke kandang-kandang kecil, tapi kandang singa sudah di ujung dan air sudah terlalu tinggi. Kami hanya bisa pasrah."

Detail Topan Maysak dan Rekor Curah Hujan

Topan Maysak terbentuk di Samudra Pasifik barat dan mencapai daratan China pada 10 Juni lalu, setelah melewati Filipina dan Taiwan dengan membawa angin kencang hingga 130 km/jam. Di China, provinsi Fujian, Zhejiang, dan Jiangxi menjadi wilayah paling parah. Badan Meteorologi setempat mencatat curah hujan di Longhai mencapai 220 milimeter dalam enam jam, memecahkan rekor harian selama 30 tahun terakhir. Hingga kini, korban jiwa manusia akibat topan tercatat 27 orang, dan lebih dari 12.000 rumah terendam.

Di kebun binatang tersebut, selain tiga singa, banjir juga mengakibatkan kerusakan pada kandang rusa dan unggas. Tiga ekor rusa tutul dilaporkan luka-luka setelah menabrak jeruji saat panik, sementara puluhan ayam hias mati terseret arus. Namun, pihak kebun binatang memastikan sebagian besar koleksi satwa berhasil dievakuasi ke dataran tinggi di dalam kompleks, termasuk harimau Sumatera dan beruang madu yang kandangnya lebih dulu mendapat prioritas penyelamatan.

Respons Pihak Kebun Binatang dan Otoritas

Pihak manajemen Kebun Binatang Longhai menyatakan duka mendalam dan mengumumkan penutupan sementara selama masa pemulihan. Dalam pernyataan resmi, Direktur Kebun Binatang, Zhang Wei, berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase dan protokol tanggap bencana. "Kami sangat terpukul. Ini kehilangan besar bagi keluarga kebun binatang kami. Tidak hanya aset berharga, tapi mereka adalah makhluk hidup yang telah menjadi bagian dari keseharian kami. Kami akan memastikan kejadian ini tidak terulang," tegasnya.

Pemerintah Provinsi Fujian melalui Dinas Konservasi dan Satwa Liar turut turun tangan. Investigasi awal menemukan bahwa kebun binatang sebenarnya memiliki sistem peringatan banjir sederhana, namun tidak cukup responsif untuk banjir secepat itu. Tim insinyur kini merekomendasikan pemasangan sensor ketinggian air otomatis yang terhubung ke alarm di seluruh area, serta pembangunan tanggul darurat di sisi sungai. Selain itu, setiap fasilitas penangkaran diwajibkan memiliki rencana evakuasi satwa berbasis peringatan dini cuaca yang lebih ketat.

Isu Keselamatan Satwa di Tengah Krisis Iklim

Insiden ini memicu diskusi publik luas tentang standar keselamatan satwa di kebun binatang, terutama di era perubahan iklim yang meningkatkan frekuensi cuaca ekstrem. Aktivis hak hewan dari kelompok Fauna Justice China menuntut agar kandang hewan besar dirancang dengan area evakuasi vertikal atau pintu darurat otomatis yang bisa dioperasikan dari jarak jauh. "Kita tidak bisa lagi mengandalkan desain kandang tradisional. Topan, banjir bandang, dan gelombang panas akan semakin sering terjadi, dan satwa koleksi adalah tanggung jawab penuh pengelola," kata Lin Hua, juru bicara kelompok tersebut.

Di sisi lain, ahli meteorologi memperingatkan bahwa topan seperti Maysak berpotensi meningkat intensitasnya akibat pemanasan suhu muka laut. Dalam lima tahun terakhir, setidaknya ada tiga kejadian serupa di Asia di mana kebun binatang terdampak banjir dan menyebabkan kematian hewan koleksi, termasuk kematian dua ekor gajah di Thailand tahun lalu. Data ini menjadi peringatan bagi pengelola kebun binatang untuk tidak mengabaikan aspek mitigasi bencana dalam perencanaan tata ruang.

Kematian tiga singa ini juga membawa dampak emosional mendalam bagi para perawat satwa. Seekor singa betina yang mati diketahui sedang hamil muda berdasarkan hasil pemeriksaan awal. Hal ini menambah duka dan rasa kehilangan. Sementara itu, jasad ketiga singa telah dibawa ke laboratorium untuk proses nekropsi guna memastikan penyebab pasti kematian sekaligus meneliti kemungkinan penyakit bawaan. Kebun binatang berencana membangun tugu peringatan kecil di lokasi sebagai penghormatan terakhir bagi satwa yang menjadi korban keganasan alam tersebut.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fahmi-reza

Reporter MotoGP/Formula 1. Meliput balapan motor dan mobil internasional.

Comments (0)

User