Aktor Drama China Banting Setir Jualan Sayur Akibat Serbuan Teknologi AI

Kisah seorang aktor drama China yang memutuskan meninggalkan gemerlap industri hiburan untuk berjualan sayur di kampung halaman menyita perhatian publik. Keputusan ini bukan didorong oleh kegagalan ak...

Aktor Drama China Banting Setir Jualan Sayur Akibat Serbuan Teknologi AI

Kisah seorang aktor drama China yang memutuskan meninggalkan gemerlap industri hiburan untuk berjualan sayur di kampung halaman menyita perhatian publik. Keputusan ini bukan didorong oleh kegagalan akting atau skandal pribadi, melainkan sebuah realitas pahit yang kini menghantui para pekerja kreatif: dominasi AI (Artificial Intelligence/kecerdasan buatan) yang kian menggantikan peran manusia di depan dan di belakang kamera.

Xu Peng, nama yang belakangan viral, adalah salah satu dari sekian banyak aktor drama televisi Tiongkok—populer disebut “dracin”—yang merasakan langsung dampak disrupsi ini. Dalam beberapa tahun terakhir, ia melihat peluang akting menyusut drastis. Bukan karena kurangnya produksi drama, melainkan karena kehadiran AI generatif yang mampu menciptakan karakter digital dengan biaya produksi jauh lebih rendah, tanpa lelah, dan tanpa tuntutan kontrak eksklusif.

Bagaimana AI Mengubah Wajah Industri Drama China

Industri drama China dikenal dengan volume produksi yang sangat tinggi. Setiap tahunnya, ratusan judul tayang di berbagai platform streaming. Tekanan untuk menekan biaya dan mempersingkat waktu produksi mendorong rumah produksi beralih ke solusi teknologi deep learning. Model AI kini digunakan untuk menulis naskah, menyusun storyboard, mengisi suara (voice cloning), hingga menciptakan aktor virtual yang tampil realistis di layar.

Teknik deepfake dan computer-generated imagery (CGI) berbasis AI memungkinkan karakter manusia sepenuhnya diciptakan tanpa perlu syuting fisik. Wajah, ekspresi, dan gerakan tubuh bisa dihasilkan melalui algoritma dari data latih berupa rekaman aktor asli. Dalam banyak kasus, aktor figuran atau bahkan tokoh pendukung tidak lagi dibutuhkan. Cukup gunakan model AI berlisensi, dan adegan yang melibatkan puluhan orang bisa dibuat dalam hitungan jam oleh komputer.

Hal ini mempersempit lapangan kerja bagi aktor junior dan menengah seperti Xu Peng. Mendapatkan peran kecil saja kini menjadi tantangan besar karena posisi-posisi tersebut menjadi yang pertama diotomatisasi. Kalaupun ada tawaran, bayarannya anjlok karena produsen bisa membandingkan dengan biaya pembuatan karakter AI yang nyaris nol pada penggunaan berikutnya.

Dari Set ke Gerobak Sayur: Transformasi yang Mencengangkan

Xu Peng, yang telah membintangi beberapa drama kolosal dan roman modern sebagai aktor pendukung, tiba-tiba menghadapi kekosongan jadwal selama berbulan-bulan. Setelah berulang kali mengikuti audisi tanpa hasil, ia mengambil langkah radikal: pulang ke provinsi asalnya di pedalaman Tiongkok dan membantu usaha keluarga menjual sayur-mayur di pasar tradisional.

“Saya berakting sejak usia 20 tahun. Kini di usia 32, saya berdiri di belakang meja kayu, menawarkan kol dan sawi kepada tetangga. Aneh rasanya, tapi ini lebih jujur daripada terus menunggu panggilan yang tak kunjung datang,” ungkap Xu dalam sebuah wawancara di media lokal. Keputusan itu diambil bukan tanpa pergulatan batin. Keluarganya semula menentang karena dianggap menyia-nyiakan pelatihan dan jejaring yang susah payah dibangun. Namun, Xu menyadari bahwa algoritma lebih memilih data daripada kenangan.

Fenomena ini bukan sekadar cerita isolasi satu orang. Menurut laporan internal beberapa talent agency di Shanghai dan Beijing, permintaan terhadap aktor manusia untuk peran non-utama turun hingga 40 persen pada dua tahun terakhir. Studio-studio besar kini memiliki divisi AI production yang khusus menangani synthetic media, membuat ketergantungan pada tenaga manusia semakin menipis.

Respons Publik dan Masa Depan Pekerja Kreatif

Kisah Xu Peng ramai diperbincangkan di platform media sosial Tiongkok. Tagar #AktorJadiPenjualSayur sempat menduduki trending, memunculkan simpati sekaligus debat sengit tentang etika penerapan AI. Banyak warganet mengungkapkan kekhawatiran bahwa profesi kreatif akan menjadi korban pertama dari efisiensi yang digadang-gadang.

Di sisi lain, pendukung teknologi berargumen bahwa ini adalah evolusi industri yang wajar. Mereka menyebut revolusi industri pernah menghilangkan pekerjaan tukang tenun manual, tetapi melahirkan lapangan kerja baru di bidang rekayasa mesin. Begitu pula dengan AI, profesi seperti prompt engineer, desainer karakter virtual, dan editor algoritma justru sedang naik daun.

Namun, bagi individu seperti Xu yang tidak memiliki latar belakang teknis, peralihan itu tidak mudah. Program pelatihan ulang dari pemerintah memang ada, tetapi serapan dan kesesuaian dengan bakat alami seringkali tidak sejalan. Tidak semua aktor bisa serta-merta menjadi programmer atau spesialis machine learning.

Xu sendiri memilih jalur yang paling membumi. Di pasar pagi yang ramai, ia mulai menemukan ritme baru. Pendapatannya memang jauh dari standar honor syuting, tetapi cukup untuk hidup tanpa utang. Ia juga sesekali diminta pelanggan untuk berfoto bersama, mengenang masa-masa kejayaannya di televisi. “Mungkin ini peran terakhir saya yang tidak akan diambil alih AI: menjadi manusia biasa yang menjual sayuran segar,” ujarnya lirih.

Kisah ini menjadi potret nyata bagaimana disrupsi teknologi tidak hanya menyentuh sektor manufaktur atau jasa, tetapi kini merangsek ke jantung industri hiburan—ranah yang selama ini lekat dengan sisi manusiawi dan emosi. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah AI akan mengambil alih peran, melainkan seberapa cepat masyarakat bisa beradaptasi sambil menjaga martabat para pekerja yang terdampak.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User