Warga Menolak Jalan Tol Fire Island, Tikus Invasif Dibasmi di Midway

Dua kisah konservasi dari dua pulau di Amerika Serikat menjadi bukti bahwa kekuatan masyarakat dan sains mampu mengubah arah sejarah lingkungan. Di lepas p

Warga Menolak Jalan Tol Fire Island, Tikus Invasif Dibasmi di Midway

Dua kisah konservasi dari dua pulau di Amerika Serikat menjadi bukti bahwa kekuatan masyarakat dan sains mampu mengubah arah sejarah lingkungan. Di lepas pantai New York, warga Fire Island berhasil menggagalkan rencana pembangunan jalan tol raksasa yang digagas perencana kota Robert Moses setelah badai dahsyat menghantam kawasan itu pada 1962. Di sisi lain, ribuan kilometer menuju Samudra Pasifik, Midway Atoll menjadi saksi keberhasilan operasi pembasmian tikus invasif yang nyaris memusnahkan burung laut endemik, termasuk Bonin petrel yang populasinya sempat merosot hingga di bawah 5.000 pasangan bersarang.

Badai Nor'easter 1962 Mengubah Wajah Fire Island

Pada Maret 1962, badai nor'easter yang sangat ganas menerjang pesisir timur Amerika Serikat. Gelombang besar dan angin kencang merusak parah garis pantai Fire Island, pulau penghalang sepanjang sekitar 50 kilometer di lepas pantai selatan Long Island, New York. Kehancuran akibat badai itu justru menjadi momen penting bagi Robert Moses, tokoh perencana kota paling berpengaruh di New York saat itu, untuk mewujudkan ambisinya: membangun jalan raya yang membentang di sepanjang pulau tersebut.

“Badai justru menjadi pembuka jalan bagi ambisi Moses untuk memaksakan proyek infrastruktur yang selama ini ditentang banyak pihak,” demikian catatan para sejarawan perkotaan yang menelusuri kembali peristiwa tersebut.

Namun, rencana itu langsung mendapat perlawanan keras. Warga lokal dan pemilik properti di Fire Island bersatu menolak inisiatif tersebut. Mereka khawatir pembangunan jalan tol akan merusak lingkungan pesisir yang masih alami, mengubah wajah komunitas, dan mengancam masa depan pulau yang selama ini menjadi tempat tinggal serta destinasi wisata yang tenang. Berikut kronologi peristiwa yang berujung pada lahirnya kawasan lindung tersebut:

  1. Maret 1962 — Badai nor'easter menerjang Fire Island dan meninggalkan kerusakan parah di sepanjang garis pantai pulau.
  2. Tak lama setelah badai, Robert Moses mengusulkan pembangunan jalan raya di sepanjang pulau sebagai bagian dari rencana pemulihan dan pengembangan kawasan.
  3. Warga dan pemilik properti menolak usulan itu secara terbuka, dengan kekhawatiran utama berupa kerusakan lingkungan dan perubahan gaya hidup komunitas.
  4. Gerakan perlawanan warga mendapat dukungan penting dari pemerintah federal Amerika Serikat.
  5. 1964 — Pemerintah federal menetapkan kawasan tersebut sebagai Fire Island National Seashore, yang mengamankan pulau dari pembangunan masif hingga hari ini.

Kemenangan Warga Melahirkan Kawasan Lindung

Penetapan Fire Island National Seashore pada 1964 menjadi buah manis dari perlawanan kolektif masyarakat. Keputusan itu memastikan bentang alam pulau yang masih perawan tetap terjaga, tanpa aspal jalan tol yang membelah pasir dan bukit pasirnya. Hingga kini, kawasan lindung tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana tekanan publik yang terorganisasi mampu membendung proyek infrastruktur berskala besar demi kepentingan lingkungan jangka panjang. Perlawanan warga yang semula dianggap mustahil berhasil justru menjadi preseden bagi gerakan konservasi di Amerika Serikat.

Midway Atoll dan Krisis Populasi Bonin Petrel

Sementara Fire Island bertarung melawan rencana pembangunan, Midway Atoll di Samudra Pasifik menghadapi ancaman yang sama sekali berbeda: tikus invasif. Hewan pengerat yang terbawa kapal manusia ke pulau itu merusak ekosistem dengan memangsa telur dan anak burung, sekaligus merusak vegetasi asli. Dampaknya paling terasa pada Bonin petrel, burung laut kecil yang berkembang biak di sarang bawah tanah. Populasi burung ini anjlok drastis hingga berada di bawah 5.000 pasangan bersarang, angka yang memicu alarm bagi para konservasionis.

Otoritas konservasi akhirnya mengambil keputusan besar: melakukan eradikasi total terhadap tikus invasif di seluruh kawasan atol. Urutan peristiwa penting dalam upaya penyelamatan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Populasi Bonin petrel jatuh hingga kurang dari 5.000 pasangan bersarang akibat predasi tikus yang meluas.
  2. Para ahli menyimpulkan bahwa tanpa tindakan radikal, burung laut tersebut berisiko punah dari Midway Atoll.
  3. Operasi eradikasi tikus secara menyeluruh dilaksanakan di seluruh pulau dalam kepulauan atol tersebut.
  4. Setelah tikus berhasil dibasmi, populasi Bonin petrel melonjak menjadi lebih dari 135.000 pasangan bersarang, pertumbuhan luar biasa lebih dari 27 kali lipat.
  5. Vegetasi asli pulau pulih kembali dan turut menstabilkan ekosistem kepulauan yang selama ini rapuh.

Pemulihan Ekosistem dan Ancaman Baru di Midway

Keberhasilan eradikasi memberi dampak berlipat bagi seluruh ekosistem Midway Atoll. Selain menyelamatkan Bonin petrel, hilangnya tikus memungkinkan tanaman asli tumbuh kembali, mencegah erosi, dan memulihkan keseimbangan rantai makanan di pulau-pulau kecil yang rentan tersebut. Kebangkitan dari 5.000 menjadi lebih dari 135.000 pasangan bersarang kini dianggap sebagai salah satu kisah pemulihan spesies paling sukses di kawasan Pasifik.

Namun, kabar baik itu tidak membuat pengelola lengah. Tikus rumah (house mice) kemudian muncul sebagai ancaman baru, terutama bagi albatros yang bersarang di permukaan tanah dan rentan terhadap gangguan hewan pengerat tersebut. Untuk mencegah terulangnya bencana ekologis, Midway Atoll kini menerapkan protokol biosekuriti yang ketat. Setiap kapal dan pesawat yang memasuki kawasan diperiksa secara cermat guna memastikan tidak ada spesies invasif baru yang ikut masuk ke tempat perlindungan yang vital di Pasifik ini.

“Kami tidak bisa lengah sedikit pun. Satu celah kecil dalam pengawasan bisa menghancurkan kerja keras pemulihan selama bertahun-tahun,” ujar seorang pejabat pengelola kawasan konservasi Midway Atoll.

Dua kisah dari dua pulau ini menegaskan satu pelajaran besar: pelestarian alam tidak pernah terjadi dengan sendirinya. Di Fire Island, keberanian warga bersuara mengalahkan rencana raksasa seorang perencana kota. Di Midway Atoll, keputusan ilmiah yang berani mengembalikan populasi burung yang nyaris punah. Keduanya membuktikan bahwa ketika komunitas dan sains bergerak bersama, alam selalu punya kesempatan kedua.

[SOCIAL_TWEET]: Warga tolak jalan tol Robert Moses, Fire Island jadi kawasan lindung 1964. Di Midway Atoll, tikus invasif dibasmi: Bonin petrel bangkit dari 5.000 jadi 135.000 pasangan bersarang. #Konservasi #Lingkungan [SOCIAL_TG]: Dua kemenangan konservasi: warga Fire Island membatalkan proyek tol raksasa pada 1964, dan Midway Atoll berhasil membasmi tikus invasif yang membuat Bonin petrel bangkit dari 5.000 ke 135.000 pasangan bersarang. Biosekuriti ketat kini menjaga kawasan dari ancaman baru.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User