UMKM Indonesia Tembus Pasar Ekspor, Capai Pendapatan Miliaran Rupiah
Sejumlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Tanah Air berhasil menembus pasar ekspor sepanjang 2025, menandai pergeseran signifikan dalam kontribusi sektor informal terhadap devisa negara. Dat
Sejumlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Tanah Air berhasil menembus pasar ekspor sepanjang 2025, menandai pergeseran signifikan dalam kontribusi sektor informal terhadap devisa negara. Data Kementerian Koperasi dan UKM mencatat, jumlah UMKM yang mengekspor produk naik 18 persen year-on-year menjadi lebih dari 12.000 unit usaha.
Kenaikan Volume dan Nilai Ekspor
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor produk UMKM pada kuartal III-2025 mencapai Rp48,7 triliun, meningkat dari Rp41,2 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya. Sektor yang paling banyak menembus pasar luar negeri meliputi makanan olahan, produk fashion, hingga furniture berbahan baku lokal.
Peningkatan ini didorong oleh dua faktor utama: penetrasi platform e-commerce lintas batas yang mempermudah akses UMKM ke pembeli internasional, serta program pendampingan dari pemerintah melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) yang menyalurkan fasilitas pembiayaan senilai Rp2,3 triliun kepada ribuan pelaku UMKM sepanjang tahun ini.
Cerita di Balik Angka
Salah satu contoh konkret adalah PT Sentra Keramik Majapahit asal Porong, Jawa Timur. UMKM keramik ini berhasil mengirimkan produk senilai Rp6,8 miliar ke tiga negara Eropa, yakni Belanda, Jerman, dan Prancis. Pendiri Bambang Suryanto menjelaskan, ekspor perdana dimulai pada awal 2024 setelah mengikuti kurikulum kurasi produk ekspor selama enam bulan.
Sementara itu, sentra batik di Pekalongan, Jawa Tengah, mencatat peningkatan volume ekspor sebesar 35 persen pada semester II-2025. Sekitar 40 pelaku UMKM batik di kota tersebut kini mengekspor langsung ke Amerika Serikat, Jepang, dan Australia melalui skema business-to-consumer di marketplace global.
Tantangan dan Target Pemerintah
Meskipun tren positif, Kepala Deputi Bidang Pembiayaan LPEI Indarto menegaskan bahwa tantangan masih ada. Biaya logistik, sertifikasi produk internasional, dan pemahaman regulasi negara tujuan menjadi hambatan utama bagi UMKM pemula.
Pemerintah menargetkan kontribusi ekspor UMKM terhadap total ekspor nasional naik dari 14,3 persen pada 2024 menjadi 17 persen pada 2026. Target ini sejalan dengan aspirasi dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) untuk memperkuat posisi UMKM dalam rantai pasok global.
Capaian ini memperkuat narasi bahwa UMKM bukan sekadar tulang punggung ekonomi domestik, tetapi juga aktor yang semakin berperan dalam hubungan perdagangan internasional Indonesia.
Berdasarkan data dan analisis terkini, tren kisah sukses umkm tembus pasar ekspor menunjukkan dinamika yang signifikan di pasar Indonesia. Para pelaku industri dan pemangku kepentingan terus mencermati perkembangan ini untuk mengambil langkah strategis yang tepat.
Comments (0)