Surabaya — Pemerintah Intensifkan Vaksinasi Campak-Rubella Anak

Pagi itu, tangan seorang petugas kesehatan di Surabaya bergerak cekatan membuka kotak pendingin berisi deretan vial kecil. Seulas senyum ia berikan kepada

Surabaya — Pemerintah Intensifkan Vaksinasi Campak-Rubella Anak

Pagi itu, tangan seorang petugas kesehatan di Surabaya bergerak cekatan membuka kotak pendingin berisi deretan vial kecil. Seulas senyum ia berikan kepada ibu muda yang menggendong balitanya. Pemandangan ini bukan sekadar prosedur medis—ini adalah garda terdepan perlindungan anak Indonesia dari ancaman campak dan rubella, dua penyakit yang dapat menyebabkan cacat permanen hingga kematian.

Mengapa Campak dan Rubella Perlu Diwaspadai?

Campak bukan sekadar demam dan ruam merah biasa. Virus ini sangat menular dan dapat memicu komplikasi serius seperti pneumonia, diare berat, hingga radang otak (ensefalitis) yang berujung kematian. Sementara rubella, meski sering dianggap ringan pada anak, menjadi sangat berbahaya jika menyerang ibu hamil karena dapat menyebabkan Congenital Rubella Syndrome (CRS), yaitu kelainan bawaan pada janin seperti kebutaan, tuli, dan penyakit jantung bawaan.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan beban campak tertinggi di Asia Tenggara. Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di beberapa daerah dalam satu dekade terakhir membuktikan bahwa cakupan imunisasi yang rendah akan selalu menyisakan celah bagi virus untuk menyebar. Setiap anak yang tidak divaksinasi adalah risiko bagi satu generasi.

Strategi dan Target Cakupan Imunisasi

Melalui program Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) fase lanjutan, Kemenkes menargetkan cakupan imunisasi campak-rubella mencapai minimal 95 persen di seluruh wilayah, termasuk Surabaya sebagai salah satu kota prioritas. Vaksin MR (Measles-Rubella) diberikan gratis di posyandu, puskesmas, dan sekolah-sekolah untuk anak usia 9 bulan hingga kurang dari 15 tahun.

Petugas kesehatan tidak hanya menunggu di fasilitas kesehatan. Mereka bergerak ke permukiman padat, pasar, bahkan area kumuh tempat akses layanan kesehatan masih terbatas. "Kami melakukan sweeping door-to-door. Jika ada anak yang belum imunisasi, kami langsung vaksin di tempat atas izin orang tua," ungkap salah satu koordinator lapangan di Surabaya.

"Kami melakukan sweeping door-to-door. Jika ada anak yang belum imunisasi, kami langsung vaksin di tempat atas izin orang tua,"
Koordinator Tim Imunisasi Lapangan

Tahun ini, Kemenkes memperluas sasaran menyusul laporan adanya peningkatan kasus campak di awal 2026. Sebanyak 2,3 juta anak di Jawa Timur menjadi sasaran utama vaksinasi, dengan alokasi 1.800 pos pelayanan yang tersebar di 38 kabupaten/kota. Pemerintah juga memperkuat rantai dingin vaksin hingga ke pelosok untuk menjamin mutu dan khasiat vaksin tetap optimal.

Respons Masyarakat dan Tantangan di Lapangan

Dukungan dari para orang tua sangat penting. Namun, belum semua masyarakat memahami urgensi imunisasi ini. Masih ada kekhawatiran efek samping, hoaks tentang vaksin mengandung bahan haram, hingga ketakutan akan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang berlebihan. Pemerintah bersama tokoh agama dan komunitas terus melakukan edukasi untuk meluruskan informasi.

"Vaksin yang kami gunakan sudah bersertifikat halal dan telah diuji keamanannya oleh Badan POM. KIPI serius sangat jarang terjadi, biasanya hanya demam ringan atau bengkak bekas suntikan yang hilang dalam satu-dua hari," tegas Kepala Dinas Kesehatan Surabaya.

"Vaksin yang kami gunakan sudah bersertifikat halal dan telah diuji keamanannya oleh Badan POM. KIPI serius sangat jarang terjadi,"
Kepala Dinas Kesehatan Surabaya

Petugas di lapangan juga harus berjibaku dengan kondisi geografis di daerah kepulauan dan akses yang terbatas. Di wilayah seperti Kecamatan Bulak, pendekatan personal dengan kader posyandu menjadi kunci keberhasilan. "Saya percaya bidan desa dan kader lebih didengar oleh warga sekitar," ujar seorang ibu setelah anaknya divaksin, seraya menggendong putra kembarnya yang baru berusia 11 bulan.

Program intensifikasi ini diharapkan tidak hanya menekan angka kesakitan dan kematian akibat campak dan rubella, tetapi juga mewujudkan target eliminasi campak-rubella pada tahun 2030 sesuai komitmen global. Setiap suntikan kecil hari ini adalah investasi besar untuk menyelamatkan masa depan generasi mendatang.

[SOCIAL_TWEET]: Petugas kesehatan di Surabaya bergerak door-to-door gencarkan vaksinasi campak-rubella bagi anak 9 bulan-15 tahun. Kemenkes targetkan cakupan 95% untuk eliminasi penyakit pada 2030. Vaksin aman, halal, dan gratis. #VaksinasiMR #SehatNegeriku #LindungiAnakKita[SOCIAL_TG]: 💉 Petugas kesehatan di Surabaya makin gencarkan vaksinasi campak-rubella door-to-door. Target 2,3 juta anak Jawa Timur, termasuk di sini. Vaksin aman, halal, gratis. Demi 2030 bebas campak-rubella!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User