Sony WH-1000XM4 2020 Kembali Rilis, Warna Baru dengan Harga Lebih Murah

Kabar menarik datang dari dunia audio: Sony, raksasa teknologi asal Jepang, dikabarkan akan menghidupkan kembali headphone over-ear legendarisnya, WH-1000XM4, yang pertama kali meluncur pada tahun 202...

Sony WH-1000XM4 2020 Kembali Rilis, Warna Baru dengan Harga Lebih Murah

Kabar menarik datang dari dunia audio: Sony, raksasa teknologi asal Jepang, dikabarkan akan menghidupkan kembali headphone over-ear legendarisnya, WH-1000XM4, yang pertama kali meluncur pada tahun 2020. Bocoran terbaru dari kalangan industri menyebut perangkat ini bakal dijual kembali dengan harga sekitar US$250 atau setara lebih kurang Rp3,8 juta, lengkap dengan pilihan warna baru yang belum pernah hadir sebelumnya. Bandingkan dengan banderol aslinya yang menembus US$349 saat diluncurkan Agustus 2020 — artinya, konsumen kini bisa memboyong kualitas flagship dengan penghematan hampir 30 persen.

Kabar ini penting bukan sekadar nostalgia. Ibarat seperti produsen otomotif yang menghidupkan kembali model klasik dengan warna baru, langkah Sony ini membuka akses teknologi premium ke kantong kelas menengah. Di tengah derasnya inovasi headphone dengan harga selangit, keputusan ini berpotensi menjadi disrupsi kecil yang mengubah cara konsumen memilih perangkat audio.

Strategi Menghidupkan Kembali Produk Lawas

Keputusan merilis ulang produk lama bukan hal asing di industri teknologi, tetapi tetap menarik untuk dicermati. Setelah meluncurkan generasi penerus, WH-1000XM6, pada 2025 dengan harga sekitar US$499, Sony seolah menyadari ada celah pasar yang terlewat: konsumen yang mendambakan kualitas flagship, tetapi belum sanggup membayar harga generasi terbaru. Dengan menghadirkan kembali XM4, Sony sekaligus memperpanjang siklus hidup produk dan memperkuat ekosistemnya — dari perangkat, aplikasi pendamping, hingga layanan purna jual — di segmen harga menengah.

Implementasi strategi serupa pernah terbukti manis di industri lain, misalnya ponsel pintar yang merilis ulang model lawas dengan harga diskon, dan kini Sony tampaknya menerapkan resep yang sama. Efisiensi produksi juga menjadi alasan logis: komponen dan lini perakitan yang sudah ada bisa dipakai kembali tanpa biaya pengembangan besar.

Mengulik Teknologi di Balik WH-1000XM4

WH-1000XM4 bukan sekadar headphone biasa. Perangkat ini membawa teknologi peredam bising aktif yang dikenal dengan istilah ANC (Active Noise Cancellation), sebuah sistem yang menganalisis suara di sekitar lalu menghasilkan gelombang pembalik untuk meredamnya — ibarat menciptakan kebisingan negatif. Otaknya adalah chip pemroses QN1 rancangan khusus Sony, dipadukan dengan kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence) melalui algoritma machine learning (pembelajaran mesin) pada fitur DSEE Extreme untuk mengangkat kualitas audio terkompresi agar mendekati suara aslinya.

Dari sisi spesifikasi, headphone ini menawarkan baterai hingga 30 jam pemakaian dengan ANC aktif, dan pengisian cepat 10 menit cukup untuk memutar musik selama lima jam. Konektivitasnya memakai Bluetooth 5.0 dengan dukungan kodek audio LDAC, teknologi transmisi nirkabel resolusi tinggi pengembangan Sony, plus fitur multipoint yang memungkinkan perangkat terhubung ke dua gawai sekaligus. Ada pula Speak-to-Chat yang otomatis menjeda musik begitu pengguna berbicara. Bobotnya hanya sekitar 254 gram, sehingga nyaman digunakan berjam-jam.

Perbandingan Harga Antar Generasi

Untuk memahami posisi tawar XM4 yang akan dirilis ulang, mari bandingkan banderol peluncuran tiap generasi. WH-1000XM3 (2018) dijual US$349, WH-1000XM4 (2020) US$349, WH-1000XM5 (2022) naik ke US$399, sementara WH-1000XM6 (2025) melonjak ke sekitar US$499. Dengan bocoran harga US$250, versi rilisan ulang ini menjadi yang termurah di keluarga XM tanpa mengorbankan fitur unggulan seperti peredam bising dan pemrosesan audio cerdas.

Bagi pembeli di Indonesia, selisihnya cukup terasa. Saat pertama hadir di Tanah Air, XM4 dibanderol sekitar Rp5 jutaan. Jika prediksi harga itu benar, konsumen lokal berpotensi mendapatkannya di kisaran Rp3,8–4 juta — banderol yang selama ini menjadi milik headphone kelas menengah seperti seri JBL Tune atau Soundcore oleh Anker.

Apa Artinya bagi Pasar Audio

Langkah ini berpotensi mengubah peta persaingan. Para pesaing di segmen menengah harus bersiap menghadapi lawan bertaji: merek premium, reputasi penelitian audio selama puluhan tahun, dan fitur deep tech yang biasanya hanya ditemukan di produk mahal. Risikonya, penjualan unit XM4 baru bisa menggerus permintaan terhadap model lama yang masih beredar di pasaran.

Yang jelas, konsumenlah yang paling diuntungkan. Kehadiran kembali WH-1000XM4 memberi lebih banyak pilihan di titik harga yang rasional tanpa harus mengorbankan kualitas suara. Tentu kita tetap menunggu pengumuman resmi dari Sony — sejauh ini kabar tersebut masih berupa bocoran — tetapi jika terwujud, ini menjadi salah satu keputusan paling menarik dari Sony dalam beberapa tahun terakhir. Pantau terus perkembangannya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User