Ribuan Buku Diborong lalu Dimusnahkan demi Melatih Kecerdasan Buatan
Dunia literasi diguncang praktik yang beberapa tahun lalu terdengar mustahil: ribuan buku fisik dibeli secara borongan setiap hari, bukan untuk dibaca, melainkan untuk dipindai lalu dimusnahkan. Pelak...
Dunia literasi diguncang praktik yang beberapa tahun lalu terdengar mustahil: ribuan buku fisik dibeli secara borongan setiap hari, bukan untuk dibaca, melainkan untuk dipindai lalu dimusnahkan. Pelakunya bukan kolektor aneh, melainkan perusahaan pengembang AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) yang haus akan data latihan. Fenomena ini penting dipahami karena menyentuh kehidupan sehari-hari kita—dari cara chatbot merespons pertanyaan, rekomendasi bacaan di platform digital, hingga nasib penghidupan jutaan penulis di seluruh dunia. Ketika teknologi bertumbuh lebih cepat daripada aturan mainnya, yang dipertaruhkan bukan sekadar buku, melainkan ekosistem pengetahuan itu sendiri.
Haus Data: Mesin di Balik Layar
Model kecerdasan buatan modern lahir dari proses yang disebut machine learning (pembelajaran mesin), yaitu teknik melatih algoritma agar mengenali pola dari jutaan contoh teks. Semakin luas dan berkualitas bahan bacanya, semakin tajam kemampuan model dalam memahami serta menghasilkan bahasa manusia. Buku terbitan menjadi incaran utama karena isinya telah melalui penyuntingan ketat, strukturnya rapi, dan kedalamannya jauh melampaui unggahan media sosial.
Kendalanya, hak cipta membuat teks lengkap sebuah buku sulit diperoleh secara legal dalam format digital. Sejumlah pelaku industri kemudian mengambil jalan pintas: membeli salinan cetak dalam jumlah besar, memindai seluruh halaman menjadi berkas digital, lalu membuang buku fisiknya. Laporan industri menyebut volume pembelian bisa mencapai ribuan eksemplar per hari untuk satu proyek pelatihan berskala besar.
Ibarat seperti membeli satu rak perpustakaan utuh, memotret setiap halamannya, kemudian membongkar rak itu begitu selesai. Isi pengetahuannya berpindah ke pusat data, tetapi objek fisik yang dirawat penerbit selama puluhan tahun lenyap tanpa jejak.
Mengapa Memilih Buku Cetak, Bukan E-book?
Logika di balik strategi ini soal efisiensi dan legalitas. Versi digital umumnya dijual dengan sistem DRM (Digital Rights Management), yaitu teknologi pengunci yang membatasi penyalinan isi. Membeli buku cetak bekas justru lebih murah dan bebas kendala teknis: sekali dibeli, isinya bisa dipindai tanpa perlu izin tambahan dari pemegang hak.
Implementasi skala raksasa semacam ini menandai babak baru disrupsi teknologi. Perusahaan raksasa tak lagi hanya mengandalkan data dari internet terbuka; mereka membangun korpus privat yang tidak dimiliki pesaing mana pun. Dalam perlombaan deep tech saat ini, kepemilikan data eksklusif menjadi senjata kompetitif yang nilainya bisa melebihi infrastruktur komputasinya sendiri.
Sisi hukumnya pun mulai bergeser. Putusan pengadilan di Amerika Serikat pada pertengahan 2025 menyatakan bahwa pelatihan model atas buku yang dibeli secara sah dapat dikategorikan fair use (penggunaan wajar). Namun putusan yang sama menegaskan penyimpanan jutaan berkas bajakan tetap melanggar hukum. Artinya, jalur pembelian fisik dianggap lebih aman secara legal—dan itulah yang mendorong lonjakan pembelian borongan.
Dampak bagi Penulis dan Penerbit
Bagi ekosistem kreatif, kabar ini terasa pahit. Penulis tidak menerima royalti tambahan ketika karyanya diborong untuk pelatihan mesin. Penerbit kehilangan potensi pendapatan lisensi yang seharusnya bisa dinegosiasikan. Organisasi penulis di berbagai negara kini menuntut transparansi: data apa yang dipakai, berapa volumenya, dan dengan kompensasi apa.
Ada pula kekhawatiran jangka panjang. Jika model kecerdasan buatan mampu menghasilkan teks sekelas buku secara instan dan gratis, insentif ekonomi untuk menulis karya baru bisa tergerus perlahan. Padahal, mesin-mesin itu justru belajar dari karya generasi sebelumnya. Ibarat seperti anak yang memakan hasil panen petani, lalu tumbuh dewasa dan menutup gerbang ladang tersebut.
Ke Mana Arah Pengembangannya?
Jalan keluar mulai digarap serius. Beberapa penerbit besar kini menawarkan lisensi resmi kepada laboratorium kecerdasan buatan, membuka pasar baru bagi konten berkualitas. Regulator di Uni Eropa mewajibkan keterbukaan atas sumber data pelatihan melalui regulasi kecerdasan buatannya. Di sisi lain, penelitian tentang data sintetis dan kurasi dataset terus berjalan untuk mengurangi ketergantungan pada materi berhak cipta.
Yang pasti, fenomena buku yang diborong lalu dimusnahkan adalah pengingat bahwa inovasi selalu menuntut harga. Pertanyaannya bukan lagi apakah mesin akan belajar dari tulisan manusia—mereka sudah melakukannya—melainkan siapa yang berhak memanen kekayaan intelektual itu, dan apakah para penciptanya ikut menikmati hasilnya. Cara kita menjawabnya hari ini akan menentukan wajah literasi dekade mendatang.
Comments (0)