Inggris Dorong Hemat Air untuk Wudhu dan Cuci Beras

Pernahkah Anda membayangkan berapa liter air yang mengalir begitu saja setiap kali berwudhu atau membilas beras sebelum dimasak? Di Inggris, pertanyaan sederhana ini kini menjadi perhatian serius para...

Inggris Dorong Hemat Air untuk Wudhu dan Cuci Beras

Pernahkah Anda membayangkan berapa liter air yang mengalir begitu saja setiap kali berwudhu atau membilas beras sebelum dimasak? Di Inggris, pertanyaan sederhana ini kini menjadi perhatian serius para regulator lingkungan. Musim kemarau yang datang lebih awal dan suhu yang terus naik memaksa Britania Raya mengatur ulang kebiasaan konsumsi air warganya—termasuk dua rutinitas yang lekat dengan komunitas Muslim dan warga keturunan Asia, yakni wudhu dan pencucian beras. Dorongan untuk berhemat ini bukan sekadar imbauan simbolis, melainkan bagian dari strategi menjaga ketahanan air jangka panjang.

Ibarat rekening tabungan, pasokan air bersih di Inggris menipis saat permintaan memuncak. Setiap tetes yang tidak terbuang hari ini berarti cadangan yang tersedia saat kekeringan melanda. Para peneliti memperkirakan kebiasaan wudhu dengan keran mengalir terus-menerus bisa menghabiskan dua hingga enam kali lebih banyak air dibandingkan memakai bejana atau botol. Padahal, praktik berhemat ini tidak mengurangi kesempurnaan ibadah sama sekali.

Mengapa Wudhu dan Cuci Beras Menjadi Sorotan

Wudhu adalah ritual bersuci yang dilakukan umat Muslim sebelum salat, minimal lima kali sehari. Secara teknis, wudhu adalah serangkaian pembasuhan—muka, tangan, sebagian kepala, dan kaki—yang dilakukan berurutan. Dalam tradisi kenabian, wudhu bahkan dicontohkan hanya dengan sekitar satu mudd air, takarannya kurang lebih setengah liter hingga satu liter. Namun ketika dilakukan di depan keran yang terus mengalir, konsumsi airnya bisa melonjak drastis.

Di sisi lain, mencuci beras adalah tahap wajib sebelum memasak nasi, makanan pokok bagi sebagian besar warga keturunan Asia di Inggris—dari India, Pakistan, Bangladesh, hingga Indonesia. Proses membilas beras beberapa kali di bawah air mengalir, ditambah merendam dan mengganti air, membutuhkan volume yang tidak sedikit. Jika dikalikan jutaan rumah tangga, angka kumulatifnya menjadi beban besar bagi jaringan pasokan air publik.

Angka di Balik Kebiasaan Sehari-hari

Badan lingkungan Inggris mencatat rata-rata konsumsi air per orang per hari di Inggris sekitar 142 liter, jauh di atas target yang dicanangkan pemerintah sebesar 110 liter per orang per hari. Selisih puluhan liter inilah yang ingin ditekan lewat kampanye hemat air yang menyasar kebiasaan sehari-hari.

Ilustrasinya begini: wudhu dengan keran mengalir diperkirakan menghabiskan 6 hingga 12 liter air setiap kali. Jika diganti dengan wadah, cukup sekitar 1 hingga 2 liter—angka yang bahkan lebih dekat dengan tuntunan syariat. Untuk beras, satu kilogram beras yang dibilas berulang kali di bawah keran diperkirakan menghabiskan 2 hingga 5 liter air bersih, sebagian besar berakhir di saluran pembuangan. Padahal, air bilasan beras yang mengandung pati masih bisa dimanfaatkan kembali, misalnya untuk menyiram tanaman.

Teknologi dan Inovasi: Solusi Hemat Air

Berita baiknya, solusi tidak harus berupa pengorbanan. Inovasi perangkat hemat air kini berkembang pesat, dari kran bertekanan rendah hingga aerator—alat kecil yang mencampur udara ke dalam aliran air sehingga volume air berkurang tanpa mengubah kenyamanan percikan. Beberapa platform smart metering atau pengukur air pintar kini mampu memantau pemakaian secara real-time dan memberi notifikasi bila ada kebocoran atau pemborosan.

Di ranah yang lebih canggih, sejumlah pengembang telah menerapkan teknologi machine learning—cabang AI (Artificial Intelligence/kecerdasan buatan) yang memungkinkan mesin belajar dari data—untuk menganalisis pola konsumsi rumah tangga dan merekomendasikan jadwal hemat air. Algoritma tersebut bisa membedakan pemakaian normal dari keanehan pola, lalu mengirim saran lewat aplikasi ponsel. Pendekatan berbasis data semacam ini menjadikan kampanye hemat air bukan lagi sekadar imbauan moral, melainkan intervensi yang terukur.

Efisiensi Tanpa Mengurangi Nilai Ibadah

Yang menarik, gerakan hemat air ini sejalan dengan prinsip yang sudah lama diajarkan dalam Islam. Dalam tradisi kenabian, ada larangan berlebih-lebihan dalam penggunaan air, bahkan ketika seseorang berada di tepi sungai sekalipun. Karena itu, kampanye di Inggris tidak berbenturan dengan nilai keagamaan; justru sebaliknya, ia mengajak umat menghidupkan kembali praktik yang memang sesuai tuntunan.

Implementasinya bisa dimulai dari hal sederhana: mematikan keran saat membasuh bagian tubuh yang berbeda, menggunakan gayung atau botol, serta menampung air bilasan beras untuk keperluan lain. Masjid-masjid di sejumlah kota Inggris mulai memasang kran dengan pengatur waktu otomatis dan menempelkan panduan bergambar. Pendekatan komunitas semacam ini dinilai efektif karena mengubah kebiasaan lewat teladan dan lingkungan, bukan paksaan.

Menuju Ekosistem Air yang Lebih Tangguh

Pada akhirnya, imbauan ini adalah bagian dari ekosistem besar pengelolaan air yang melibatkan teknologi, kebijakan, dan perubahan perilaku. Inggris menargetkan pengurangan konsumsi air secara signifikan dalam beberapa dekade mendatang, dan setiap kebiasaan kecil—dari wudhu yang ringkas hingga beras yang dibilas dengan air tertampung—berkontribusi pada angka besar tersebut.

Bagi warga di Indonesia, pelajaran dari Inggris ini terasa relevan. Kita juga menghadapi ancaman kekeringan dan kelangkaan air bersih di sejumlah daerah. Alih-alih menunggu krisis, langkah kecil hari ini—menghemat air saat wudhu, menampung air cucian beras, memakai kran hemat—adalah investasi paling murah untuk masa depan. Teknologi membantu, tetapi keputusan ada di tangan kita masing-masing.

Setiap tetes yang bisa dihemat hari ini adalah cadangan yang tersedia saat kemarau tiba.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User